RW 73). Saya Lebih Suka Dianggap Orang Telmi, Eh Tahu Apa Itu Telmi?


(Kalau Tidak Tahu, Jadikan Saya Teman)

Eh, kami masih seRtT telminya (Google gambar)

Eh, kami masih seRtT telminya (Google gambar)

. Saya pernah bahkan kerap mengalami apa itu yang namanya bodoh, sebelum benar-benar bisa memintar-mintarkan diri. Eh, memang saya sudah pintar, apa? Belum juga, kalau di hadapan saya ada orang yang lebih pintar. Kepada mereka saya ingin belajar banyak.

. . Lalu sekarang sudah pintar,belum?

. . Itulah sedihnya. Saya rasanya belum mau beranjak lebih jauh dari situ kalau di belakang saya masih banyak orang bodoh. Biar saya masih bisa merasakan seperti apa orang dengan kebodohannya itu.

. . Eh, cerita ini mau dibawa ke mana, ya? Jadi ngawur begini. Inilah kebodohan saya dalam menulis, sewaktu-waktu bisa menguap. Haap, nah ketangkap inti ceritanya. Fokus dulu ah.

. . Begini, karena pernah bodoh, dan sekarang juga masih bodoh; saya orangnya suka simpatik kepada mereka yang telmi itu. Telah mikirlah, kalau belum tahu artinya. Nah, ini lagi satu kebodohan saya, tidak bisa ‘membaca’ orang lain kalau sudah tidak lagi setelmi saya.

 

. . Saya pernah kasihan, dari sini cerita sedih itu dimulai: melihat ada orang(sejenis) saya yang dikatain, “Wah, seumur-umur baru kali ini dan baru kau ini yang tidak bisa kubuat mengerti urusan yang sepele ini!” Tinggal tunggu saja, sebentar lagi dia akan berbisik ke kanan dan ke kiri: “Wah bloonnya bukan main nggak ketulungan”, atau lebih gawat lagi: “Waduuh, gobloknya minta ampun!” (untuk tidak mengatakan ‘naudzu billah).

. . Karena pernah ada di situ, di posisi itu, saya samperin tuh anak dan membawanya berlalu dari situ. Tak lupa permisi kepada mereka, dalam hati: “Nah anyak-anyak, saya pinjem dulu nih anak“.

. . Bagi saya, mampu membuat orang sebebal apa bisa mengerti urusan sesulit kayak apa, adalah satu tantangan yang mengharukan. Jadi saya langgar saja satu prinsip dan membuatnya setengah kebalik (jumpalitan, istilah teman saya): “Kalau orang lain tidak bisa, kenapa saya bisa?”

. . Di sana, di balik bilik cara saya, kepada orang saya tadi, orang seRT saya maksudnya, saya sodorkan sebuah buku. Apa saya suruh dia membacanya? Tidak juga, karena boleh jadi orang itu buta huruf. Kalau buta aksara sih gampang. Saya suruh saja dia membuka kompasiana, kebetulan di sini ada yang lagi sediakan pabriknya. Pabrik aksara maksudnya, gituuh loh! (style Ustad Nur Maulana)

. . Mencoba memahami, eh membuat orang semacam saya tadi yang tidak paham ke mana-mana, agar bisa memahami apa yang tidak bisa dia pahami, hanya semacam membuka lembaran buku tebal yang saya sodorkan itu.

. . Pertama, saya buka asal saja sebuah halaman dari buku itu untuk menjelaskan apa yang dia tidak mengerti. Misalkan kebuka halaman 101, jelaskan saja sebaik mungkin apa yang ada di situ, lalu perhatikan apa yang terjadi (style Mario Teguh). Kalau dia tidak paham, berarti saya undur lagi mulai dari kebuka halaman 76 misalnya. Tidak juga mengerti, undur lagi mulai dari halaman 23.

. . Boleh jadi seseorang tidak perlu kita jelaskan senaif halaman 101 tadi kalau orang itu pintarnya sudah lebih dari halaman tersebut. Nah orang itu bukan urusan saya dalam cerita ini. Saya mau kembali ke laptop. (style Tukul Rahwana, ups sorry Arwana)

. . Nah orang tadi, yang tadi sebelum orang pintar itu, sudah di halaman 23 tetap tidak mengerti, yah apa boleh buat; undur saja ke bab pendahuluan, pengantar, latar belakang pengantar (hal iii, ii, i). Tidak bisa juga? Masak??

. . Tutup saja buku itu! Berarti buku kita tidak cukup tebal untuk orang ’sebebal’(sorry) itu. Kaciiaan deh lu. Maksudnya saya yang perlu dikasihani, tidak bisa-bisa mengertikan dia, alias tidak bisa apa-apa dengan kebodohan saya.

. . Tapi masih terbuka cara lain. Saya tinggal membantu dia mencari penerbit buku yang tepat, buku yang tebal, yang lebih tebal dan gamblang dari buku saya.

. . Cukup dulu sampai di sini, jadi kepanjangan dah ceritanya. Sembari berharap ada di antara pembaca yang bisa menunjukkan orang saya itu jalan/cara yang lurus ke alamat penerbit itu. Ataukah anda sendiri pemilik buku itu?

By; Rahman Wahyu

15 responses to this post.

  1. Hehehe…. mahu tinggalkan ketawa saya duluan di sini, Mas Rahman.
    Nanti mampir lagi ya untuk mengutip ketawa saya semula…hehehe😀

    Serasanya saya juga masih mempunyai kebodohan diri yang harus diperbaiki dari semasa ke semasa.

    Salam mesra dan beristirehat bersama keluarga di penghujung pekan ini.

    Balas

    • Sorry; baru bisa mengunjungi rumah sendiri setelah ada beberapa hari koneksi modem saya ngadat, syukur saat ini bisa ol kembali..
      Waduh, sudah ada beberapa tamu rupanya.; maaf sebagai tuan rumah tidak sempat menyambut. Semoga ke depan tak ada lagi aral melintang.

      Balas

      • Assalamualaikum wr.wb saya sangat mengucapkan banyak terima kasih kepada AKI SUBALA JATI..atas bantuan AKI kini impian saya selama ini sudah jadi kenyataan..sudah lama saya ikut kerja dikebun kelapa sawit dimalaysia dan gaji tidak seberapa..dan berkat bantuan AKI SUBALA JATI pula yang telah memberikan angka jitunya kepada saya yaitu..6734..dan alhamdulillah berhasil..sekali lagi makasih ya AKI..karna saya cuma bermodalkan uang cuma 100 rb dan akhirnya saya menang..berkat angka GHOIB nya AKI SUBALA JATI..saya ada rencana pulang ke indonesia buka usaha sendiri..dan kini kehidupan saya jauh lebih baik dari sebelumnya..bagi anda yang ingin mengikuti jejak saya silahkan hubungi..082..318..816..444..AKI SUBALA JATI..ramalan AKI SUBALA JATI meman memiliki ramalan GHOIB..yang dijamin 100% tembus ini asli tampah rekayasa..dan yang punya room terima kasih atas tumpangannya..

        Balas

    • saya sangat mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARMOJO atas bantuan MBAH,kini impian saya selama ini sudah jadi kenyataan dan berkat bantuan MBAH KARMOJO pula yang telah memberikan angka jitunya kepada saya yaitu 8836 dan alhamdulillah berhasil..sekali lagi makasih yaa MBAH karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 200 rb dan akhirnya saya bisa menang dan berkat angka dari MBAH KARMOJO saya sudah bisa melanjutkan kuliah saya lagi yang sudah 2 tahun menganggur dan kini kehidupan keluarga saya juga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,bagi anda yg ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARMOJO di 0823-2825-4444 ramalan MBAH KARMOJO memang memiliki ramalan “GHOIB” yang sangat tepat dan terbukti.

      Balas

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman Wahyu…

    Kembali menyapa untuk mengutip ketawa yang ditinggalkan semalaman di sini. Sungguh lucu saat pertama saya membaca postingan mas Rahman ini. Ada sesuatu yang coba dijelaskan tentang manusia telmi (telat mikir) yang bukan mas Rahman aja yang mengalaminya, malah kebanyakan manusia melaluinya dalam keadaan yang tertentu yang diakibatkan tidak fokus.

    Berhadapan dengan orang yang telmi ini memerlukan kesabaran dan saya fikir ia diakibatkan oleh kurangnya keinginan untuk menilai sesuatu dengan sebaiknya atau malas untuk memberatkan diri memikirkan sesuatu yang bukan memberi kepentingan kepada dirinya. Bukan kerana kebodohan itu sendiri.

    Kita harus maklum bahawa manusia umumnya tidak bodoh, cuma kurang rajin atau malas untuk mengilmukan dirinya. Istilah bodoh hanya disebabkan diri sendiri berfikiran demikan tetapi tanpa disadari ia sedang berfikir walau dikatakan telmi. Iya, orang telmi ini harus disadarkan dengan memberi kejutan padanya bukan memberi buku tebal seperti teman mas Rahman di atas.

    Jika buku itu bersifat ilmiah yang berat, saya juga telmi untuk membaca dan memahaminya berbanding buku tebal tetapi punya bahasa yang mudah, indah dan menyentuh hati. Mungkin itu membuat dia telmi agaknya ya.😀

    Maaf, mas Rahman kalau bicara saya tidak nyambung kerana saya harus memahami bahasa gaul yang mas Rahman gunakan dalam penulisan ini. atau, saya juga dalam kategori telmi menurut tulisan mas Rahman ini.😀

    Salam hormat dari saya.

    Balas

    • Waalaikum salam warrahmatulahi wabbarakatuh.
      Senang kembali mendapat kunjungan mbak Siti dengan komentarnya yang menghibur.
      Saya dalam setiap keterbatasan selalu mengambil apa yang bisa saya raih di situ sebelum masalahnya saya bisa lewati atau pecahkan.
      Pernah merasa bodoh, bahkan sekarang yang kerap saya lakoni yakni kadang merasa telmi, tapi maknanya bisa telat mikir, bisa juga telanjur mikir.🙂
      Dengan kadang merasa telat mikir, saya bisa berempati dengan mereka yang lamban berpikirnya, atau kapasitas berpikir mereka tidak sampai ke mana-mana.
      Pada kesempatan itu, di mana saya kadang merasa bloon/bego dengan bicara orang lain yang ketinggian, saya coba berempati:: “Oo gini rasanya orang yang kita sepelekan kalau bicara kita selangit, wacana kita bertabur bintang(istilah)?”
      Ada pun tentang buku itu, bukan dalam artian yang sebenarnya. Buku adalah kiasan di mana kita coba menerangkan kepada seseorang dengan mengetahui lebih dahulu sejauhmana pengetahuannya tentang apa yang mau kita terangkan tersebut. Jadi kita bayangkan saja kita ibarat membuka sebuah buku, lalu menyesuaikan lembaran halamannya yang mau kita jelaskan sejauh apa yang belum atau sudah dia mengerti.
      Ah, tentang buku itu; saya ingin bercerita dalam sebuah postingan. Jadi masih soal komunikasi beberapa postingan saya dalam terbitan di blog ini.
      Soal bahasa tak ada yang perlu dipersoalkan, kita terus saja mengembangkannya dalam tanya dan jawab yang tidak perlu malu-malu. Itu modal saya kalau ketelmian mulai menyelimuti diri ini. Toh, malu bertanya sesat di jalan.
      Salam🙂

      Balas

      • Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

        Oh begitu ya mas… hehehe. Disebabkan saya kurang faham, termasuk telmi agaknya ya. Maka saya harus membaca pelan-pelan dan bertanya lanjut apa yang dimaksudkan.😀

        Sebaiknya, bicara sederhana sahaja. Cari kata yang mudah difahami dan ikut peringkat siapa yang sedang kita depani. Memang saya juga mengalami hal sebegini terutama jika banyak tugas yang harus difikirkan sehingga bicara orang lain yang mudah juga lambat untuk difikirkan.😀

        Kita hidup bermasyarakat dan tentunya harus tahu berkomunikasi dua hala untuk memudahkan hubungan terjalin baik. Nagus ya dengan mas Rahman ini, selalu merasa simpati dan empati kepada sesiapa yang mengalami telmi atau apa sahaja lantaran pernah merasai dan mengalaminya sendiri.

        Iya… saya yakin, semua orang pernah mengalami telmi ini tetapi tidak kurang yang tidak mengakui kelemahannya, malah ada yang sempat memperolok-olokkan pula. Mudhan kita bisa belajar dari orang lain dan dapat manfaat dalam bergaul.

        Salam mesra dan hormat selalu.

        Balas

  3. aneh.. :peace

    Balas

  4. coba memahami halaman 101 lalu mundur dan mundur lagi agar tidak telmi-telmi amat; hehe…. salam semangat Mas Rahman Wahyu.

    Balas

    • Hahaha, coba menyesuaikan diri dengan ketelmian saya Mas Muhaimin? 🙂
      Memang demikian. Kalau apa yang kita bicarakan tak mendapat respon, bijaklah kita menyurutkan kedalaman bicara kita sesuai wawasan siapa yang kita ajak bicara.
      Bukan begitu? Saya pikir mungkin bukan begitu, untuk orang secerdas Anda dengan teman-teman wacana yang berkelas.
      Salam semangat dan terus berkarya mas Muhaimin.🙂

      Balas

  5. semua manusia punya kekurangan. Bodoh adalah sesuatu yg banyak di derita orang. Tapi uniknya, banyak orang yg sukses gara2 hal bodoh🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: