RW 71). “Selagi Masih Ingin Bicara”



. . Saya tidak beda dengan kebanyakan orang, maunya suka ketemu teman diskusi yang cocok alias nyambung. Sayangnya kadang apes, ketika orang kebetulan yang diajak bicara tak memenuhi selera kita. Problem yang muncul: bagaimana mau berlalu dari dia tanpa membuatnya tersinggung. Karena di bagian ini sifat empati saya kembali ‘bermasalah’: bagaimana andai saya diperlakukan demikian, selagi masih ingin bicara, orangnya berlalu karena merasa kita tak memenuhi seleranya.

. . Seperti biasa saya coba belajar memahami situasi ini dengan baik. Pada saat saya ingin merasa cocok, itu berarti saya berharap ada kenyamanan di antara kami sesama penikmat wicara. Satu sama lain saling mengisi. Ada yang lebih, memberi; yang kurang, menerima; yang sama, saling berbagi menambahkan. Juga, selagi seseorang mau berekspresi dengan pikirannya, kita meresponnya. Sebaliknya kita dihargai ketika mau menunjukkan ‘talenta’ kita.

. . Jadi persoalannya apa kalau dalam berbagai kondisi itu toh kita bisa enjoy(berarti)?

. . Ya itu tadi, kenapa ada rasa tidak nyaman dan mau game over kalau seseorang bicaranya sudah membuat kita tidak betah. Kalau mau tawadhu bisa juga sebaliknya, bicara kita tak sadar sudah membuat seseorang gerah.

. . Mungkin bicara kita sudah ketinggian, apa? Atau orang lain bicaranya sudah sangat sangat memonopoli? Baru kebagian sedikit , porsi bicara kita direbutnya? Atau jangan-jangan tidak ada yang bisa diambil orang itu dari bicara kita yang kebodohan amat? Hahaha.

. . Jadi, solusinya saya pikir: bicara kenapa tidak membumi, perlu saling memberi kesempatan, atau tidak harus ada yang perlu kita ambil dari bicara seseorang kalau bagian kita yang perlu memberi. Asalkan orang itu mau menerimanya, kita yang akan dengan senang hati mau berbagi dan memberi pikiran terbaik.

. . Bukan untuk siapa-siapa, kita bisa menerima kembali manfaat dari bicara kita yang baik. Itu ketika orang tersebut mau menularkan kebaikannya ke orang banyak lain, perbaiki kondisi(sistem), tempat di mana kita berkecipak bersama di dalamnya.

. . By : Rahman Wahyu
. . NB: Perasaan nelangsa selagi mencoba bicara dengan seseorang yang sudah ‘putus’. Selagi orang lain sudah mematok jarak, saya coba mengukur jarak itu.

10 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

    Berdasarkan pengalaman saya, banyak orang tidak memahami cara berkomunikasi yang berkesan. Malah ada yang tidak peduli langsung akan perasaan orang lain dengan menguasai topik yang dibincangkan. Memang benar, keakraban membicara topik menjadi lebih hangat apabila kita bersama dengan orang yang serasi dalam bicara kita berbanding sebaliknya.

    Jika situasi begini berlaku, saya biasanya mengambil langkah untuk berdiam diri dan berusaha untuk berundur dari perbincangan tersebut. Pengunduran semakin mudah jika kumpulannya ramai dan tidak mengakibatkan perbualan terputus. tetapi apabila hanya berdua sahaja, akan menimbulkan rasa tidak enak meninggalkan teman itu tanpa hentian bicara yang sesuai dengan noktahnya.

    Siapapun akan terasa hati jika diperlakukan demikian. Hehehe… saya selalunya akan berterus terang sahaja jika topiknya sudah lari dari apa yang dibicarakan. Kita juga harus bijak mencari jalan untuk keluar dari bicara tersebut dan berlalu tanpa sebarang konflik. Antara maklumi ada tugas yang harus diselesaikan segera. Jujurnya, saya jarang bertemu keadaan sebegini kerana saya lebih suka bertanya dari ditanya dan bercerita panjang lebar.😀

    Salam mesra selalu.

    Balas

    • Kalau saya suka membayangkan andaikan dengan teman bicara yang kita suka berkomunikasi dengannya, ada semacam batangan signal kenyamanan dia bicara dengan kita, seperti batangan signal darah hidupnya petarung di game-game PS.
      Kita jadi begitu mudah mengetahui bicara kita masih menyenangkan baginya, atau mulai kurang minatnya. Lantas sebelum nyalinya habis dan sesaat mau bosan dengan kita, kita sudah perlu berlalu dari hadapannya.
      Sayang indikator itu tidak nempel dijidatnya, hahaha.
      Salam, makasih lagi2 datang menghibur saya.🙂

      Balas

  2. kalau boleh tau, gambar-gambar yang ada di blog ini semuanya buatan sendiri ya? Soalnya belum pernah saya temui di google maupun website lain. Kreatif
    menjadi pendengar yg baik memang susah, lebih susah lagi menjadi pembicara yang baik, bahasa yg mudah dimengerti, universal, dan untuk awam… Harus pandai menempatkan diri

    Balas

    • Kalau boleh tau maksudnya apa ne nanya nanya yang demikian itu?🙂
      Terus terang saja gambar-gambar saya cuman copas doang dari mbah google gambar. Nggak boleh kan tanpa seizin pemiliknya, setidaknya mencantumkan sumbernya kan?
      Tau tentang itu, cuman susah mengedit gambar di wordpress blog saya.
      Makasih mau mengoreksi saya, salam kenal.

      Balas

  3. Saya jadi teringat sevuah hadits yang artinya, “Janganlah engkau remehkan kebaikan apa saja (yang datang dari saudaramu). Dan jika engkau berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyuman kegembiraan.” (HR. Muslim)

    Ternyata, betapa penting ekspresi yang menyenangkan ketika bertemu. Setelah itu, bicara yang membumi sebagaimana Mas Rahman Wahyu tulis di atas. Semoga dengan demikian, kita bisa menjalin komunikasi secara baik.

    Balas

  4. Posted by Mas Iman on Februari 22, 2014 at 9:32 am

    HAL BICARA & PERDEBATAN

    A’uudzu billaahi minasysyaithaanir rajiim , Bismillahirrahmaniraahim…

    Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuhu ,

    HAL BICARA

    يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَنٰجَيْتُمْ فَلَا تَتَنٰجَوْا۟ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوٰنِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنٰجَوْا۟ بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللّٰـهَ الَّذِىٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

    إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطٰنِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَيْسَ بِضَآرِّهِمْ شَيْـًٔا إِلَّا بِإِذْنِ اللّٰـهِ ۚ وَعَلَى اللّٰـهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

    1.“ Hai orang – orang yang beriman , apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia , maka janganlah kamu berbicara rahasia DENGAN DOSA , PERMUSUHAN dan mendurhakai Rosul , tetapi BERBICARALAH TENTANG KEBAIKAN DAN TAQWA , dan BERTAQWA-LAH kepada ALLOH yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan. (9)

    SESUNGGUHNYA PEMBICARAAN RAHASIA ITU adalahDARI SETAN SUPAYA ORANG – ORANG BERIMAN BERDUKA CITA dan tiadalah ia membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah. Dan hendaklah bertawakal orang-orang mukmin.” ( Al Mujaadilah , 58 : 9 – 10 ) ( gossip , ghibah , menceritakan aib orang , berencana jahat , adu – domba , fitnah dll ) ,

    وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ الَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْإِنسٰنِ عَدُوًّا مُّبِينًا

    “2. Dan katakan-lah kepada hamba-hamba Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan antara mereka . Sesungguhnya syaitan itu musuh yang terang bagi manusia .(Al Israa’ , 17 : 53 )

    إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

    مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

    3. ( Ingatlah ) ketika mencatat dua ( malaikat) yang mencatat , duduk disebelah kanan dan disebelah kiri. “ Tidak sebuah katapun yang diucapkan oleh manusia itu , melainkan didekatnya ada pengawas , ( malaikat Raqib/pencatat amal kebaikan ) serta ‘Atid ( pencatat amal kejahatan )“( Qaaf , 50 : 17 – 18 ) ,

    4.DLL

    HAL PERDEBATAN

    a. “ Allah tidak suka kepada orang yang semacam ini kalau berbicara tidak mau kalah hanya mau menangnya sendiri ) bagaikan sapi ditempat penggembalaan-nya . Demi – kianlah Allah memasukan lidah dan muka mereka kedalam neraka “ ( H.R. Tabhrani )

    b. , . . . . . . Jauhilah perdebatan sebab cukup berdosa bila senantiasa berdebat . jauhilah berdebat karena berdebat itu tidak akan menolong di hari kiamat , Jauhilah perdebatan sebab larangan yang pertama kali disampaikan kepadaku setelah menyembah berhala adalah larangan perdebatan. ( H.R. Thabrani ) ,

    c. “ Barang siapa yang meninggalkan perdebatan sedangkan ia sedang menghapus kebatilan , maka didirikan baginya suatu gedung di tengah-tengah surga , Dan barang siapa yang meninggalkan perdebatan sedangkan ia membenarkannya, maka didirikan gedung baginya ditengah surga.“ ( HR. Abi Dawud)

    d. DLL

    NB.
    Mari kita (termasuk ana tentunya) Renungkan kembali dan intropeksi / flash back ( hal berbicara ) apabila kita banyak bicara yang tidak perlu , mengejek , berkata porno , berkata kasar , membuat lelucon dalam suatu kalangan dengan menyudutkan atau mengejek orang lain yang membuat mereka tertawa , bersenda gurau yang terlewat batas , ghibah , sebar aib , beda pendapat dengan perdebatan sengit dan masing2 merasa paling benar , berkata – kata yang membuat orang lain tersinggung dan marah & lain-lain sebagainya yang buruk ! , mari kita buang perilaku itu dan kita ganti dengan perilaku yang lebih baik dengan mencontoh perilaku Sayyidina Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam . (akhlaqul karimah) , Semoga hidayah demi hidayah ALLOH senantiasa menghiasi perjalanan keimanan dan ketaqwaan kita , insya’alloh , aamiin !!!
    Batal Suka · · Promosikan · Bagikan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: