RW 70. “Betapa Beda Cara Kami”



. . Mungkin kita sering mendengar adagium(?): “Di belakang seorang suami/bapak yang sukses, ada seorang istri/ibu yang baik”, demikian juga sebaliknya. Untuk kebalikannya, silakan teman saya Ibu Dosen buat pernyataannya. Misalnya, di belakang seorang ibu dosen yang cerdas tersedia bapak(dosen?) yang mengsuport kecerdasannya.

. . Kebetulan seorang bapak, saya lanjut dengan esay saya.

. . Dengan adagium di atas lalu muntahlah beberapa tema. Peranan ibu dalam menunjang karir seorang bapak, peranan seorang istri mendorong keberhasilan sang suami, peranan istri yang lain mendorong suaminya, istri-istri yang lain lagi dengan bla-bla-blanya.

. . Yang jadi pertanyaan, coba kalau di belakang bokong bapak/suami tadi, tidak tersedia wanita yang dimaksud. Seperti apa ya sukses seorang suami? Apakah dia tidak akan jadi apa-apa? Atau harus mencari ganti wanita lain yang tepat untuk posisi itu?

. . Saya tidak mau macem-macem dengan urusan gonta ganti pasangan buat dicobakan dalam posisi tersebut. Saya coba istiqomah dengan satu macam saja. Coba berempati: seandainya kita ketiadaan pasangan yang tepat untuk pikiran-pikiran terbaik kita. Sejauh mana kita bisa eksis dengan apa yang kita pikir baik, mengejawantahkannya, dan jadi tempat berpijak bagi pola pikir dan karya nyata berikutnya.

. . Dalam komitmen hidup berumah tangga, kita tidak cuma sekedar memenuhi hasrat biologis, atau menggenapkan tulang iga satu yang lagi kebawa-bawa oleh yang lain untuk kembali dipasangkan(kisah Adam dan Hawa). Urusannya lebih dari itu, dan ini justru lebih penting. Setelah bersatu, kita harus menyelaraskan segenap perbedaan yang ada. Dari dua insan yang berbeda pembawaan dan latar belakangnya, diserasikan untuk tujuan hidup bersama. Tidak harus sama memang. Dalam berbeda yang dibutuhkan kesearahan pencapaian tujuan hidup bersama. Berbeda cara tak apa kalau saling melengkapi, tidak sampai bertolak belakang. Satu di kamar depan, yang lain nyungsep di kamar belakang.

. . Kenyataan hidup berumah tangga kerap berbicara lain. Maaf, untuk pasangan yang sudah serasi kebersamaannya, duduk saja yang manis menyimak fakta ini. Kadang hidup tidak memenuhi harapan untuk semua hal yang kita dambakan. Maksud hati memeluk gunung apa daya gunungnya terbelah. Kita dengan pikiran dan cara di belahan yang yang satu, pasangan kita dengan caranya di belahan yang lain. Nggak ketemu dong. Gunungnya mau kita daki, lembah itu mau kita seberangi; sayang tak satu lagi kita menapakinya, hiks, hiks. Lelah sudah hati ini, tak jua menyatu. Itu syair punya siapa ya? Coba ingat, kalau lupa itu ‘Tirai’ yang dilantunkan Rafika Duri.

. . Pikiran dan cara kita mungkin berbeda satu dengan lainnya. Bisa coba dikompromikan: pikiran dan cara mana yang lebih baik untuk dikedepankan. Lagi-lagi menurut saya tak jadi soal pikiran yang itu datangnya dari siapa. Terutama buat dipakai menyikapi anak-anak, agar tidak sampai kejadian ada anak papi dan anak mami. Kalau anaknya sempat baik, berebut anggap itu anak saya, tapi kalau perangai anak kadung jelek lalu saling menuding: “tuh anak kamu…!”.

. . . . . . . . . .

. . Rey sudah pulang kemarin sore. Selesai sudah pendidikan Tsanawiyahnya di pesantren sana. Entah mau lanjut di mana, setelah dia tak hendak lagi meneruskan Aliyahnya di situ.

. . Tadi malam, saya diam-diam memperhatikan Yunus temannya yang singgah dua hari sebelumnya di rumah, sebelum melanjutkan pulang ke kampung halamannya nun jauh di lereng bukit sana. Dia anak asuh seorang habib yang disekolahkan sepesantren dengan Rey. Bedanya dia baru saja menyelesaikan Aliyahnya di situ.

. . Apa yang saya perhatikan dengan Yunus, teman Rey itu? Dia sedang melipat pakaian celana dan kemejanya. Tapi dengan cara yang berbeda. Bedanya, sembari melipat dia mengusap-ngusap permukaan kemejanya dengan telapak tangannya. O begini ya apa yang pernah saya dengar, teman-temannya mengagumi cara dia menyeterika satu-satu pakaiannya. Nggak pake seterikaan. Tapi mulusnya seperti diseterika benaran. Terlipat licin dan apik. Seterika alam, katanya.

. . Kerap saya membayangkan hidup ini dengan caranya yang gampang. Sealamiah dan segampang dia membalikkan telapak tangan, menyeterika sendiri baju kehidupannya. Seulet tangan dia mencuci dan mengucek sendiri pakaiannya. Sepedekate dia mencari tambah makan dengan bantu-bantu di dapur pesantren.

. . Ah, andai saja selama ini Rey bisa melakoni hidup seperti itu di pesantren. Dia pernah bilang ke saya mau mencuci dan menyeterika sendiri pakaiannya, biar sewaannya ke tukang binatu mau dia miliki nambah-nambah tabungannya. Sayang ada cara yang berbeda. Sudah datang dengan ransum seminggu sekali, Rey masih diasupin dengan menu tambahan berlangganan, sementara jatah makanan dari dapur pesanteren terpinggirkan.

. . Betapa cara yang baik dipinggirkan. Tergeser oleh kasih sayang tanpa sadar, tanpa makna. Hiks, hiks.

2 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

    Menurut saya, sukses atau cerdasnya seorang ibu dosen bukan semata-mata karena bapak dosennya. Banyak faktor yang mendorongnya selain dari bapak dosen seperti kondusifnya tempat kerja, teman2 yang selalu menceriakan dan minat kepada kerjaan itu sendiri. Yang utamanya, ibu dosen itu sendiri sudah maklum cerdas dengan ilmu dan usahanya, barangkali ya. Kerana pendapat seseorang itu selalu pelbagai dan subjektif.😀

    Hidup ini kalau tidak punya perbedaan tidak nyaman lho. Tiada asam garamnya yang bisa di kenang. tapi harus punya kebijakan dalam menghadapi perbedaan ini kerana pasangan sepatutnya bisa saling lengkap melengkapi untuk mencapai kebahagiaan hidup.

    Hehehe… si Yunus, teman Rey itu kayak saya masa remaja dulu. Kalau melipat baju harus ditekan dengan tapak tangan agar keliatan licin dan elok mata memandang. Itu sudah jadi kebiasaan seseorang yang sukakan keelokan sesuatu untuk dipandang mata. sampai kini, cara melipat baju demikian masih diamalkan.

    Nice post dan mudahan ada lagi pesan yang mencerahkan dari mas Rahman.
    Selamat berhujung pekan bersama keluarga.

    Balas

  2. Waalaikum salam war. wab. Mbak Siti.
    Memang bukan semata-mata, tapi jadi faktor yang lebih dulu menentukan karena eksistensi kita jadi seperti apa mulai dulu dengan siapa kita bisa mengambil jarak.
    Dengan jarak itu kita bisa lebih leluasa membentuk kepribadian kita. Sayangnya jarak itu jadi mepet dari ketidakselarasan dengan pasangan hidup kita.
    Ada yang tidak sejalan membuat kita sulit menerapkan apa yang kita pikir baik dari langkah pertama kita dari dalam rumah tangga kita.
    Berbeda sih tidak apa-apa kalau saja dari perbedaan itu kita sepakat mencari pikiran yang lebih baik, bukan soal dari siapa pikiran itu datang.
    Soal Yunus melipat kainnya, yang saya maksudkan cara alamiahnya menyeterika sendiri kainnya, karena tidak mampu menyewa bulanan tukang binatu mencuci dan menyeterika kain-kainnya. Bahkan tak punya seterikaan dan waktu, maka selagi melipat dia menyeterikanya pake tangan. Hebohnya, lipatan kainnya kayak diseterika benaran.
    Makasih mau mengapresiasi buah pikiran saya. Jadi pengen membalasnya, merespon tulisan2 mbak yang juga sarat makna.
    Salam berbagi.🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: