RW 69: “Ada Apa dengan Belajar Kita di Sekolah?”


Apa hanya karena dan untuk si monster ini kita belajar (google gambar)

Apa hanya karena dan untuk si monster ini kita belajar (google gambar)


. . Idealnya belajar di sekolah karena mau nambah-nambah pengetahuan, dan bukan karena ulangan, smesteran, dan ujian(punya sekolah dan siUN). Tapi sayang begitulah fakta yang tergali. Keuletan belajar anak kenapa jadi berorientasi kepada usaha bagaimana bisa mengisi soal-soal dalam lembaran evaluasi tersebut?

. . Idealnya ada di sekolah menjadi kesempatan belajar yang menarik bagi anak. Di situ dia mendapatkan bimbingan pengetahuan dan pendidikan yang teratur, terprogram, termotivasi. Terdorong karena belajar dalam kebersamaan dengan teman-temannya. Ini pula menjawab keterbatasan belajar dan didikan yang didapat dari dalam keluarga, yang beragam dengan latar belakangnya. Karena tidak semua orang tua sadar dan mampu mengelola belajar dan didikan yang baik bagi anak-anaknya. Jadi sekolah menjadi alternatif yang bersifat kolektif dan terencana dalam mengisi kekurangan tersebut.

. . Idealnya karena itu, lalu kenapa siswa tidak menemukan kecintaan belajarnya di sekolah?
Bersekolah bagi sebagian anak dan orang tuanya tinggal semacam perintang-rintang waktu. Karena pada usia tersebut anak biar keliatan lebih cakep belajarnya kalau ada di sana. Apalagi disandera program kegagahan wajib belajar sembilan tahun(kegagahan apa kegagalan, ya?).

. . Lantas idealnya apa, hanya karena ada di sekolah anak harus belajar? Karena perlu belajar, harus ada mata ajarannya. Karena sudah diberi pelajaran, harus dapatkan ujian. Karena tidak mau gagal tidak apalah korbankan kejujuran.

. . Biar lulus dan terima ijazah. Biar lanjutkan belajar ke jenjang sekolah berikutnya. Biar nanti dapatkan syarat formalitas ke lapangan kerja di luar sana. Biar kerjanya tidak relevan dengan belajar yang mereka dapatkan. Biar, . . .apalagi? Capek deh mikirnya.

. . By: Rahman Wahyu (Pemrihatin Masalah Pendidikan)

2 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

    Saya suka dengan perbincangan mas Rahman di atas. Iya, saya ada ketika memikirkan, apa yang ada dengan pembelajaran di sekolah ? Jika dimaksudkan sekolah tempat menimba ilmu, menambah pengetahuan, belajar berkomunikasi dan mendidik akhlak, tetapi kenapa yang sebaliknya berlaku.

    Anak-anak benci sekolah. Mereka tidak suka belajar. Membenci gurunya, membenci sekolahnya. Jadi apakah fungsi sekolah sebagai intitusi keilmuan jika yang ke sana tidak mahu menerima ilmu ? Yang peliknya, belajar tetapi gagal dalam pembelajaran. Apakah kita sengaja mahu menggagalkan pelajar kita yang telah bertahun2 belajar sehingga mereka tidak sanggup lagi berada di sekolah dan berusaha mahu menggagalkan dirinya.

    Jadi di sini bermaksud, sekolah tidak menggembirakan. Selalu ada beban dan melelahkan. Saya lihat di Malaysia, sistem pendidikannya lebih berorientasikan peperiksaan dari pengajaran akhlak. Ujian wajib lulus dan menjadi syarat untuk mendapat pekerjaan. tetapi akhlah kurang mantap dan semakin banyak keruntukan akhlak berlaku.

    Ternyata sistem pendidikan sekarang sangat melelahkan pelajar dimana pelajar harus berada di sekolah sejak jam 6.30 pagi dan balik jam 5 petang. Dimana ya masa kanak-kanak dan remaja mereka untuk mengenal alam sekitar yang hijau jika tubuhnya berada di bangunan batu sahaja ? Komunikasi dengan alam semakin kurang berlaku kepada kita keseluruhannya dek mengejar dunia semata-mata.

    Hehehe… usah capek mas memikirkan tentang pendidikan ini.😀
    Salam hormat.

    Balas

    • Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh.
      Saya suka terus mencari orang yang bisa diajak mencermati masalah seputar ini.
      Semalam saya berbincang dengan putri sahabat saya yang kelas 2 IPA, Sekolah Menengah Atas. Di sekolahnya jam masuk belajar dari jam 7 pagi s/d 4 sore.
      Ternyata masih lebih panjang lagi di Malaysia, jam 6.30 s/d 5 sore yaa?
      Menurut ceritanya, dengan waktu belajar sepanjang itu, materi ajar tidak lagi menyenangkan, malah melelahkan, mengantuk.
      Mencari tahu alasannya, kira2 apakah dengan belajar sepanjang itu dimaksudkan anak terarahkan ada di sekolah dari pada keluyuran tak jelas di luar sekolah?
      Kalau karena itu, anak jadi tidak menikmati masa hidupnya yang penting juga di luar urusan belajar, seperti bermain, bersosialisasi dlm keluarga, dalam lingkungan sekitar, mengenal alam, mengikuti perkembangan zaman.
      Yang jadi pemikiran saya, tidakkah dunia pendidikan kita menyisihkan barang sebentar dengan orang2 terbaiknya mencermati proses belajar dan kondisi anak didik yang tidak sejalan lagi dengan apa yang terbaik yang kita pikir?
      Kenapa tidak diadakan penelitian terhadap masalah ini, mencari dan mengumpulkan fakta di lapangan langsung dari pelaku pendidikan, sejauhmana mereka merasa nyaman dan bisa mengambil manfaat dari pendidikan yang mereka jalani?
      Ataukah yang lebih dominan mengambil keputusan selalu terpulang pada kebijakan politis yang selalu mendasarkan setiap pertimbangan pada kepentingan politiknya?
      Salam keprihatinan, senang dengan komentarnya yang mampir di sini.🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: