RW 68. “BELAJAR MEMAHAMI KESALAHAN SESAMA”



. . Selama ini kita lebih mudah mengasihani orang yang kurang dari segi materi, misalnya orang papa melarat; dari pada mereka yang kurang dari nilai moral, misalnya orang jahat. . yang suka kita tuding keparat. Mudah sekali kita tersentuh melihat orang yang cacat fisik, tapi tersentak kalau menampaki mereka yang cacat moral. Kita kasihan dengan orang yang tuna mental, tapi kesat dan kesal dengan mereka yang tidak bermoral.

. . Ya, selama ini kita mudah bersimpati kepada mereka yang kurang beruntung dari segi materi, cacat fisik dan tuna mental tadi; sementara suka antipati dengan mereka yang kurang dari segi moral.

. . Dengan mereka yang khifaf, salah, dan jahat kita langsung membenci, menghujat, kalau perlu menghajarnya. Tak sudi kita mengasihani mereka, memahami posisi mereka. Coba memaklumi dari mana dan ada di mana mereka dengan kesalahannya.

. . Ada apa dengan kita? Bersihkah kita, tak cela sedikit pun? Sempurnakah kita, belum pernah cacat sekali pun. Seperti yang selama ini suka kita lagukan dengan nasehat: “Jangan pernah menyekutukanNya, jangan pernah berpaling dari kebenaranNya, jangan pernah meremehkan sesama, jangan pernah sesali apa yang tlah terjadi, jangan pernah berkata bohong, jangan pernah mencaci, jangan pernah mencuri, dan jangan pernah- jangan pernah lainnya. Sekalian saja, jangan pernah ada dusta di antara kita, itu kata Broery Pesolima.

. . Memang apa kita tidak pernah berbuat salah? Mungkin tidak nanti, tapi pernah kan sebelum ini. Kadang benar kita temukan karena lalui itu dari sempat terlanjur salah dulu. Tiada manusia yang sempurna, kadang khilaf jadi pernah berbuat salah. Betapa tidak manusiawi kalau diharuskan tidak pernah salah. Jadi Jangan pernah tidak manusiawi, apa?

. . Bukankah kita pernah khilaf lalu berbuat salah. Kadang lalai, lantas tak sadar berbuat yang tak semestinya. Tidak jeli lalu terlambat mengenali benar itu yang mana?
. . Ya, kalau saja kita kurang beruntung, kebetulan ada di posisi mereka, apakah kita tidak akan melakukan hal yang sama?

. . Dikondisikan dengan situasi yang sama, lantas idealisme kita perlahan memupus di sana? Apa yang kita rencanakan dengan baik selagi di luar, namun setelah di dalam system buruk mereka, menjadi sirna berganti sikap yang sama, melakukan kesalahan yang sama?

. . Betapa selama ini kita mengambil jarak, lalu memastikan tidak akan jadi kayak mereka, memustahilkan akan sama seperti mereka. Iya, karena memang lagi tidak di sana. Kita di sini, mereka di sana. Kita sok memastikan itu, karena kalau lakukan kesalahan itu bak jatuh ke jurang, kita di sini yang jauh dari situ bagaimana mungkin bisa jatuh ke bawah sana. Tidakkah kita sadar, kita kalau sudah di posisi mereka, artinya kita sudah di dekat jurang tersebut. Bisa-bisa sudah terperosok ke dalamnya, selagi mulut kita masih sempat komat-kamit: “Jangan pernah pesiar ke dalam jurang sini!”

. . Bukankah sebenarnya kita itu malah perlu bersyukur, selagi istiqomah kita belum sempurna, kita tidak duji pada posisi yang sama, dengan situasi dan kondisi yang sama, yang bisa jadikan kita melakukan kesalahan yang sama, sama seperti mereka.

. . Jadi selagi ada di sini, kenapa tidak coba memahami mereka, dengan empati ‘pergi’ ke sana, membayangkan ada di sana, sembari sesaat mencoba gamang di dekat jurang mereka, lalu menjitak kepongahan sok benar kita, sadar betapa beralasan mereka sampai jatuh ke dalam situ, karena sudah di dekat situ.

. . Mereka orang yang salah pada waktu yang salah.

. . By: RAHMAN WAHYU

. . NB : Jangan pernah menyekutukanNya! Nabi Ibrahim saja pernah trial and error menyikapinya. Berturut-turut mengira batu, gunung, bulan dan matahari itu tuhan. Lalu berproses menemukan Tuhan Rabbul Izzati.

5 responses to this post.

  1. terima kasih banyak ya mas
    sungguh, saya juga belajar untuk bisa memahami….

    Balas

    • Sama-sama Pak Muhaimin.
      Hitung-hitung kita masih sama belajar untuk yang satu ini.
      Makasih sudah mampir.
      Salam hangat selalu.🙂

      Balas

      • Assalamualaikum wr.wb saya sangat mengucapkan banyak terima kasih kepada AKI SUBALA JATI..atas bantuan AKI kini impian saya selama ini sudah jadi kenyataan..sudah lama saya ikut kerja dikebun kelapa sawit dimalaysia dan gaji tidak seberapa..dan berkat bantuan AKI SUBALA JATI pula yang telah memberikan angka jitunya kepada saya yaitu..6734..dan alhamdulillah berhasil..sekali lagi makasih ya AKI..karna saya cuma bermodalkan uang cuma 100 rb dan akhirnya saya menang..berkat angka GHOIB nya AKI SUBALA JATI..saya ada rencana pulang ke indonesia buka usaha sendiri..dan kini kehidupan saya jauh lebih baik dari sebelumnya..bagi anda yang ingin mengikuti jejak saya silahkan hubungi..082..318..816..444..AKI SUBALA JATI..ramalan AKI SUBALA JATI meman memiliki ramalan GHOIB..yang dijamin 100% tembus ini asli tampah rekayasa..dan yang punya room terima kasih atas tumpangannya..

        Balas

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

    Subhanallah, saya tidak melihat ruang posting ini. Sedangkan saya sudah kemari semalamnya. Alhamdulillah, ternyata mas Rahman tidak bermasalah lagi untuk menerbitkan ruang komentarnya. Salut dan senang untuk berkongsi ide di sini lagi.

    Setuju mas, banyak orang membenci kepada manusia yang tidak bermoral berbanding mereka yang cacat fizikal walaupun mereka yang cacat fizikal juga turut menerima nasib yang sama, tetapi tidak ramai. Menurut saya, masalah kebejatan moral atau akhlak tidak akan selesai jika orang disekeliling kurang memberi perhatian untuk mencari jalan penyelesaiannya.

    Memang diakui tidak mudah untuk membina manusia yang sudah tidak bermoral dan rosak akhlaknya. Kerana difahami golongan ini sudah keras hati, bergelimang dengan nafsu dan kelabu matanya kepada kebenaran dan segala kebaikan. Tetapi jika tahu mendekati dan memaut hatinya kepada kebaikan, lambat laun mereka juga akan kembali ke pangkal jalan. Yang penting usaha, doa dan tawakkal.

    kasihan sekali melihat mereka yang sudah terjebak dan selalunya, doa dilampirkan semoga mereka menemui hidayah. Syukur kepada Allah kerana kita dalam kalangan orang yang suka berbuat kebaikan dan mempunyai kesedaran untuk selalu takut kepada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Keberuntungan dalam hidup yang selalu dikasihani Allah sepatutnya kita kongsikan bersama mereka yang sudah jauh dari kehidupan sebenar dalam hakikat tujuan manusia diciptakan di muka bumi.

    Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk terus istiqamah sebagai hamba yang mentaati perintah dan meninggalkan larangan Allah. Aamiin.

    Salam hormat dari saya.😀

    Balas

    • Waalaikum Salam Warrahmatulahi Wabbarakatuh.
      Senang mendapat kunjungan Mbak Siti dengan komentarnya yang menyejukkan.
      Saya sempat heran juga, postingan terbaru ini tidak diblokir seperti tulisan saya sebelumnya. Tulisan yang dimaksud sudah saya atasi berkat petunjuk mbak, terima kasih olehnya.
      Jadi mbak sependapat dengan pandangan saya, baguslah. Sekali pun kita berbeda pendapat, itu juga tak ada salahnya. Karena kita bisa mendiskusikan dengan pikiran terbuka.
      Sejauh ini kejelian saya mulai merambah kekurangan cermatan (kerancuan) berpikir pada umumnya. Ada beberapa, ini salah satunya.
      Yakni kecenderungan suka menyalahkan lebih dari yang diperluksn.
      Terlalu menyudutkan kesalahan seseorang menjadikan kita berpikir tidak proporsional lagi. Pada tingkat yang sangat disayangkan kita jadi berpikir: kita selalu benar, salah cuma milik orang lain.
      Padahal yang perlu kita syukuri, beruntunglah kita tidak diposisikan dalam situasi dan kondisi seseorang yang berbuat salah, karena kalau kita ada di situ, memegang jabatan yang cenderung koruptif, misalnya; bisa -bisa kita akan melakukan kesalahan (korupsi) yang sama, andai iman kita tidak cukup kuat menyangga istiqomah kita untuk tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji tersebut.
      Banyak hal yang bisa diulas dari perspektif berpikir ini, moga ada kesempatan menuangkannya dalam bentuk tulisan nanti.
      Salam berbagi pikiran.
      Hormat pula dari saya🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: