RW 67). Perlu Kejujuran Memahami Masalah Bangsa Ini


. . Bangsa ini seperti tak putus dirundung malang. Kisruh persoalannya hampir tak pernah usai ditelan masa. Banyak sudah wacana dan konsep dilontarkan, dalam penerapannya seperti tak menemukan tempatnya berpijak. Selaksa doa dan harapan sudah pula kerap dipanjatkan, juga seperti tak makbul diluluskanNya.

. . Apa yang salah dengan bangsa ini? Masih kurangkah keperdulian dan kerja keras kita selama ini? Rasanya semua sudah kita kerahkan, tak sedikit yang sudah kita korbankan.

. . Tapi kalau semua itu belum membuahkan hasil bukankah itu pertanda ada yang masih kurang kita genapkan. Boleh jadi ada yang sama sekali kita tidak sertakan.

. . Membicarakan mereka yang salah seolah kayak lakum dinukum satu setengah saja. Bagi yang sudah terlanjur salah disana, salahlah kalian. Sedang bagi kami yang belum salah disini, benarlah kami adanya. Bagimu salahmu, bagi kami semua yang benar.

. . Mereka orang yang salah pada waktu(situasi, baca: sistem) yang salah. Indikasinya bisa kita lihat seperti ini. Kalau hanya ada dua tiga orang yang salah dari seratus orang yang ada dalam sebuah sistem macam apa, kita cukup signifikan menyayangkan ada kejujuran yang hilang dari dua tiga orang yang salah tadi. ketika setelah ada di sana mereka berubah dari sebelumnya sebagai orang yang kita kenal baik.

. . Faktanya apa, coba kita lihat dengan mata telanjang. Yang salah dan menyimpang di sana bukan lagi dua tiga orang, bahkan tidak cuma dua tiga puluh orang. Ada lebih dari lima puluh orang yang salah, yang sebagian besar belum ketahuan boroknya. Sisanya orang yang belum diposisikan melakukan kesalahan tapi dengan diamnya berfungsi membiarkan.

. . Kita bahkan bisa mengatakan dari seratus orang yang potensial menjadi salah dalam sistem yang salah, yang bisa terjadi akan ada dua tiga ratusan orang (akan) menjadi buruk dalam sistem yang buruk di sana.

. . Kenapa sedemikian hiperbolis?

. . Coba bayangkan, yang ada di dalam sana cuma ada seratus orang, di luar sini ada dua tiga kali, jadi berapa? Yah ada tigaratus orang bermimpi jadi orang yang berharap terpilih menjadi buruk di sana.

6 responses to this post.

  1. Hm, ditunggu yang mau memahami masalah saya di sini.πŸ™‚

    Balas

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

    Saya datang nih mahu memahami masalah mas rahman di sini.πŸ˜€

    Saya amati ini keluhan bukan dari mas Rahman sahaja. Malah banyak dicurhatkan dari blog para blogger Indonesia tentang bangsa Indonesia. Ternyata banyak hal yang membingungkan dan ingin dibaiki oleh banyak harapan anak bangsanya tentang kemudi negara yang semakin mencengkam ketenangan jiwa dan kedamaian anak bangsanya yang sudah mulai bosan dengan sistem pemerintahan yang sedia ada.

    Jika kita meneliti kajian Ibn Khaldun di dalam bukunya, al-Muqaddimah dalam konteks keruntuhan tamadun dan bangsa sesebuah negara. Salah satu dari aspek utama keruntuhan itu adalah kelemahan para pemimpin dalam memimpin negaranya. Selain itu, kemewahan dunia yang berasaskan material sudah melingkari leher kehidupan bangsa tersebut. Akibatnya banyak berlaku korupsi, budaya hiburan menular, seks bebas, agama sudah dipinggirkan, adat resam hilang entah kemana dan nafsu meraja lela.

    Jika pemimpin yang tidak kukuh peribadi dan agamanya, tentu sekali gejala-gejala sosial tidak mampu dibendung kerana tanpa disedari para pemimpin tersebut juga terjebak sama. rakyat semakin lelah dan mengharap adanya pembaharuan dalam sistem tadbir negara juga ketelusan dalam pemerintahannya. Wallahu’alaam.

    Semoga membantu menjernihkan hati dan minda.
    Salam hormat dari saya.

    Balas

    • Waalaikum salam war. wab. Mbak Siti
      Terima kasih berkenan datang dengan komentarnya.
      Sebagai bangsa serumpun tak berlebihan kiranya saling menengok akan keprihatinan yang ada di negeri tetangga. Sakit satu, sakit terasa kita bersama.
      Hampir di mana di sebuah negeri, kekuasaan hampir identik dengan penyalahgunaannya, ujung2nya korupsi.
      Tidak harus korupsi memang, tapi tidak berkutat melawannya, kita cenderung melakoninya bahkan teramat menikmatinya.
      Kita perlu terus berjibaku memerangi korupsi, tapi tak ada salahnya coba berempati, ada apa dengan mereka. Kita perlu memahami mereka, karena mereka orang yang salah pada waktu (sistem) yang salah.
      Salam – Rahman Wahyu.

      Balas

      • Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman…

        Saya setuju, bahawa rasa simpati harus kita berikan kepada mereka yang terjebak dalam jenayah kolar putih (korupsi) ini kerana mereka sudah menganiaya diri sendiri dan perlu menerima hukuman dari apa yang dilakukan atas ketidakjujuran dalam bertingkah laku.

        Selain itu empati juga perlu ada agar kita tidak mengalami hal yang sama yang pernah mereka lalui. Teladan dan sempadan dari apa yang berlaku kepada orang lain memberi petunjuk kepada kita bahawa kita mempunyai pilihan untuk melakukan kebaikan atau kejahatan. Apakah guna akal dan ilmu jika budi tidak mampu memberi erti kemanusiaan kepada dirinya.

        Apakah benar, sukar untuk kita menghindari korupsi ini, mas ?
        bagaimana undang-undang di Indonesia menghukum mereka yang bersalah dalam korupsi ?

        Senang bisa membincangkan masalah ummah dan menjadikan pengajaran buat diri kita juga.

        Salam mesra dan hormat selalu.πŸ˜€

        Balas

        • Mencoba berempati adalah suatu sikap yang diperlukan untuk memahami suatu kesalahan dengan coba membayangkan seandainya kita ada di posisi mereka yang sampai melakukan kesalahan tersebut.
          Di situ kita bisa membayangkan serta diuji: apakah kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama bila dalam posisi yang sama, kesempatan yang sama?
          Tidak harus sama memang, melakukan kesalahan yang sama (korupsi misalnya dalam sistem yang cenderung korup).
          Tetapi dengan memahami ke dalam, kita bisa lebih dekat mencari akar permasalahannya, menemukan sistem yang padu untuk memberantasnya, setidaknya meminimalisirnya. Kita perlukan sistem yang transparan, di mana kita yang ada di luar bisa mengontrol penyimpangan mereka yang ada di dalam. Mereka juga akan terjaga dari setiap keinginan menyalahgunakan jabatan yang kita percayakan kepada mereka.
          Memang semuanya terpulang kepada pribadi masing2. Bahwa ada yang tidak korup dalam sistem yang cenderung korup, tidak harus menafikan ikhtiar membuat sistem jadi baik dan terkontrol, karena masih lebih banyak orang yang terlanjur menjadi buruk dalam sistem yang buruk, lebih dari sekedar memuji yang satu atau sedikit orang yang tidak ikut2an menjadi buruk di dalamnya, boleh jadi cuma kasusistik sifatnya.
          Salam berbagi pikiran terus, mbak Siti. Koreksinya ditunggu.

          Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: