RW 63. UN Tahun Ini Berhasil, Berhasil Dikelabui Apa?


. . Sekilas tak ada masalah dengan UN nasional tahun ini. Banyak pihak merasa puas karena prosentase kelulusan mendekati 100 persen. Ini pertanda apa? Apakah selama ini yang jadi masalah hanya karena banyak siswa yang gagal? Lalu digagalkan sudah kegagalan itu dengan menggagalkan kejujurannya? Yang tahun kemarin tidak berhasil dipecundangi seratus persen.

. . Coba perhatikan seandainya dalam UN tersebut memang terjadi rekayasa. Tahun ini mulai diberikan kesempatan 40% penentuan kelulusan kepada pihak sekolah dengan mengambil nilai evaluasi raport smester 3 s/d 6. Bukankah ini sama dengan menambah porsi kesempatan selain 60% yang direkayasa dari nilai Ujian Nasional?

. . Bertambah lagi persiapan mengatrol nilai siswa jauh-jauh sebelumnya. Yang ini pengawasannya lebih tidak terkontrol. Lebih parah dari ujian utama saja yang tidak beres.

. . Dari lapak teman terbaca laporan kecurangan UN sampai-sampai orangtua siswa yang melaporkannya diusir rame-rame dari rumahnya oleh orang tua siswa lain. Motif laporan boleh jadi ada ketidakpuasan dari siswa pintar pelapor tersebut. Apa mungkin ada perasaan tidak adil karena ketidakjujuran UN menjadikan nilainya sama rata dengan siswa lain yang tidak berperingkat.

. . Lebih lanjut disarankan perlu dibentuk Tim Pencari fakta oleh PGRI untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Tuntas sampai dengan membuka fakta betapa kecurangan sudah masif dan massal karena melibatkan kebijakan pihak dinas terkait dan pemda setempat. Ada instruksi untuk membantu siswa peserta UN agar prosentase ketidaklulusan bisa diperkecil mendekati o %.

. . Saya membayangkan penyelidikan ini perlu diberikan garansi agar pencarian fakta bisa menemukan tempatnya berpijak. Yakni dengan menentukan target, bila ketidakjujuran itu sudah mencapai sekian persen, dengan motif alasan yang pantas dimaklumi maka taruhannya UN harus dihapus. Dengan dasar ini, saya yakin informasi kecurangan akan melimpah ruah lebih dari yang dibutuhkan. Bahkan bisa dipastikan banyak pihak terkait antara lain: siswa, guru, kepsek, orang tua bahkan pengawas ujian akan bersedia berjibaku menyatakan dirinya sebagai pelaku kecurangan tersebut.

. . Lagi-lagi untuk kasus ini satu teori perlu saya ulangi lagi: mereka orang yang salah pada waktu yang salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: