JANGAN MEMAKSA KERETA ITU BERHENTI HANYA UNTUK MENUNGGU ADA ANAK KITA YANG TERLAMBAT


Masih ada kereta yang akan lewat, untuk anak kita belajar tidak terlambat

Masih ada kereta yang akan lewat, untuk anak kita belajar tidak terlambat(google gambar)


. . Saya sering prihatin kala menyikapi ada cara yang berbeda dalam mendidik anak soal kemandirian. Sesungguhnya suatu kesempatan besar bagi kita membentuk mereka selagi masih tergantung pada peran kita sebagai orang tuanya. Kita perlu mengurai simpul ketergantungan itu dan melepasnya pelan-pelan: “Pergilah nak, pergi ke alam bebas!” Jadi ingat selarik bait sajak itu, oleh penyair siapa ya?

. . Lantas apa yang mau saya bilang dari kondisi ini? Sebagai orang tua harusnya kita kompak mengajarkan anak bertanggung jawab dengan setiap perbuatannya. Sayang kalau sikap ini tidak muncul, tidak saja dari kedua orang tua mereka(ibu dan bapak), satu saja dari kedua belah pihak tidak kompromi; kemandirian anak jadi taruhannya. Yang satu berkeinginan kuat menjadikan anak mandiri(mandi sendiri, hehe), yang lain dengan caranya memanjakan, suka memandiin.
. . Memanjakan anak, membuat mereka jadi ‘Sidharta Gautama muda’ (*) yang steril dari riak dan dihindarkan dari terantuk kerikil-kerikil kecil kehidupan, akan membuat mereka nanti kerap terperangah di tengah jalan kehidupannya. Kita tidak selamanya hidup dengan mereka, bahkan kita tidak sering bersama mereka. Kenapa tidak membuat mereka belajar berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), terlalu suka menopangnya.

(google gambar)


. . Kasih sayang orang tua sering disalahartikan dengan membantu dan memenuhi setiap gerak dan keinginan mereka di sebarang tempat dan waktu. Adakah orang tua sedemikian memanjakan seperti itu? Siapa bilang tidak ada? Dari sana anak-anak yang gagal ginjal kehidupan dilahirkan. Ginjal maksud saya gerak ringan jalan-jalan.
. . Biarkan mereka menemukan resiko dari kesulitan kecil mereka. Bantulah mereka belajar berdiri dengan memibiarkannya jatuh bangun terlebih dahulu. Biasakan mereka belum mendapatkan apa yang tidak mereka cari. Dan, ….
. . Jangan membuat kereta itu berhenti hanya untuk menunggu mereka dengan kebiasaannya terlambat. Mereka harus dilatih mempercepat ayunan langkah mengejar keretanya.
. . (Rahman Wahyu)
. . (*) Sidharta Gautama muda, jadi ingat bacaan kisah tokoh budhis tersebut semasa kecil yang oleh raja sekaligus orang tuanya dibebaskan dari melihat dan mengalami kesulitan hidup di sekitarnya.

10 responses to this post.

  1. belum pernah merasakan mendidik anak sih…hehe
    tapi kalau nanti saya diberikan kesempatan untuk menjalankan amanah mendidik anak, maka saya akan betul-betul mendidiknya menjadi anak yang mandiri bukan anak yang manja. Mendidik anak agar mandiri bukan berarti membiarkannya bebas melakukan apa saja. Tapi lebih agar anak percaya pada kemampuannya sendiri, tak begitu tergantung pada orang tua.
    Melihat anak yang mengendalikan orang tua-nya (bukan orang tua yg mengendalikan anak) dengan rengekan rengekan nya, membuat saya miris.Itu pasti karena kesalahan orang tua nya sendiri!
    Parah sekali melihat anak-anak pejabat yang menikmati kemudahan karena kekuasaan orang tua nya. Mendapatkan prioritas dalam pelayanan hukum misalnya, atau lolos tes pegawai karena nepotisme…seolah jika tanpa orang tua mereka bukan apa-apa.Kasihan!

    Balas

  2. Tidak harus anak sendiri, kita bisa menjadi orang dewasa yang bisa berperan sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak kehidupan. Karena nantinya di pundak mereka kita berharap hari senja kita teduh dan damai.
    Kita bisa saling menjadi orang tua sesama anak-anak kita, adik-adik kita. Kepada mereka yang lebih dewasa kita berharap anak-anak kita diayomi oleh mereka sebagai kakak-kakak kehidupan. Yang bisa mengajarkan hidup mandiri dan memberikan teladan sikap dewasa dan bertanggung jawab.
    Senang tahu kalau Dik R Two bisa menjadi kakak yang bisa diharapkan pengganti orang tua. Jadi tidak perlu menunggu jadi orang tua dulu, ya kan?
    Dik R Two ternyata jeli dan kritis menyimak realitas yang memprihatinkan. Teruslah dengan sikap itu, dan sesekali melihat dan coba menemukan jalan keluarnya. Biar sekedar visi, untuk kita wacanakan.
    Salam !

    Balas

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas RahmanWahyu…

    Alhamdulillah, bisa berdikit-dikit untuk menyempat diri ke blog teman2 dan blog mas Rahman. Kalau tidak rasa bersalah menyaluti diri kerana selalu beralasan tidak mampu berkelana di maya. Maaf mas kerana telat membalas kunjungan.

    Saya setuju mas, anak-anak harus diajar menekuni kehidupan mereka di dunia ini dengan tunjuk ajar ibu bapa. Sikap setengah ibu bapa yang membatasi pergaulan anak2 dalam mengenal dunia luar dari lingkungannya bisa membahayakan anak2 itu sendiri.

    Teknologi masa kini dengan dunia tanpa sempadan memungkinkan anak2 mencari jalan keluar sendiri tanpa diketahui orang tuanya. Saya sangat suka kalau anak2 dapat merasai kesakitan dalam permainannya. Hal ini bisa memberi dia peluang berfikir akibat dari kesalahan yang dilakukan sehingga menimbul kesakitan padanya.

    Saya juga suka kalau anak2 aktif dalam pengawasan kita dalam melakukan aktivitas yang disukainya. Dunianya akan luas dan fikirannya akan terbuka menerima segala salah dan silap hasil dari kerjaannya. Sikap memanjakan anak2 bisa menimbulkan pemberontakan kepada jiwa anak2. Bimbang akan menumbuhkan jiwa SiTanggang. Yang rugi adalah ibu bapa itu sendiri. Sukar membentuk mereka kembali kalau sudah jadi buluh.

    Semoga pendidikan yang berasaskan ilmu dan pengetahuan mampu menggerakkan kebijakan intelektual anak-anak untuk menjadi insan berguna dan memanfaatkan setiap hembusan nafasnya sebagai insan soleh dan termasuk dalam golongan ulul-albab.

    Kalau mereka dibiasakan mandiri, di hadapan sana, mereka bisa menyelesaikan cabaran yang mendepani. Jika tidak semangat mereka akan lemah yang akhir melahirkan pemuda bangsa yang malas dan selalu bertangguh.

    Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak.😀

    Balas

    • Waalaikum Salam War. Wabr ! Encik Guru Siti Fatimah.
      Terima kasih telah datang dengan kesempatan dan komentarnya yang terbaik.
      Datanglah pada setiap kesempatan yang dirasa pas, janganlah dipaksakan selagi hati kita tidak renyah untuk berkata apa-apa atau menjawab komentar saya yang datang di sebarang waktu.
      Saya sangat setuju dan sepakat dengan pandangan mbak tentang seputar soal yang saya tuliskan di atas. Kita sebagai orang tua hendaknya mulai membiarkan perlahan tapi pasti anak kita dengan kemandiriannya. Tak baik dan tak bijak kita terus dengan perlindungan yang tak mendidik.
      Semoga pendidikan mampu meretas jalan kesadaran tentang hal itu. Ada baiknya pendidikan itu berlangsung seumur hidup bisa terus mengisi kisi-kisi yang lowong ditinggalkan tak sempurna oleh pendidikan sebelumnya.
      Sekarang ini saya tengah dikaluti keprihatinan seandainya anak saya Rey, tak lagi meneruskan sekolahnya di ponpes sana. Bakal seperti apa lingkungan yang mampu kami sediakan untuk dia di luar sini. Padahal saya dan ibunya suka berharap dia tetap ada di sana dengan sistem yang terjaga dari pengaruh buruk lingkungan luar.
      Ah, semoga saja harapan kami itu tetap mendapatkan jalan keluar dariNya.
      Semoga kita semua mendapatkan bimbingan dan hidayahNya pula, untuk saling berbagi pencerahan.
      Salam dari saya – Indonesia.

      Balas

  4. mendidik anak itu susah2 gampang …
    dilepas bebas … mereka (biasanya) sulit dikendalikan dan semau gw
    dikekang … mereka (biasanya) akan menjadi kuper dan penakut

    salam kenal

    Balas

  5. Saya merasakan itu. Anda sendiri menerapkan model yang bagaimana?

    Balas

  6. Hai… salam kenal ..
    Menarik sekali artikel anda. Saya sangat kagum akan kepedulian anda pada dunia anak-anak. Saya juga punya sebuah blog yang berisikan segala hal tentang dunia anak-anak…
    Lagu Anak
    Pendidikan Kreatif untuk anak
    Tips Parenting (Dari ortu kepada anak)
    Dongeng moral anak..
    Dan masih banyak lagi..
    Silakan kunjungi blog saya…
    Ada di http://lagu2anak.blogspot.com
    Bila berkenan, mari bertukar link..
    Terima kasih

    Balas

    • Salam kenal pula.
      Ah, jangan terlalu memuji. Awak tak pintar menyikapi pujian yang terlalu berlebihan .
      Saya juga salut dengan keperdulian Mas Zepe dengan dunia anak.
      Moga terus eksis dengan kecintaannya.🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: