59). Ternyata Bumi Cuma Selebar Daun Kelor


Keperdulian kita harusnya tidak selebar daun ini(google gambar)

Keperdulian kita harusnya tidak selebar daun ini


Ini cuma kiasan ketika keprihatinan melanda kita kala menyimak situasi yang terjadi di belahan bumi lain. Libya yang sedang bergolak, tsunami yang terjadi di Jepang, bahaya radiasi nuklir yang tak tercegahkan, antara lain itu semua membuat kita khawatir, mengganggu kenyamanan hidup kita yang ada jauh di sini. Semuanya terasa dekat tidak saja karena bias dan imbasnya bisa sampai ke kita, tapi membayangkan semua itu andai atau bisa terjadi di tempat kita.
Apa yang bisa kita lakukan sedangkan itu kejadiannya jauh di sana. Kta tak punya akses dan kapasitas untuk itu, bahkan suara kita tak di dengar di antara dengungan suara keprihatinan lain yang kalah dalam pengambilan keputusan. Kebijakan yang jalan hanya ada di jalur politik dan semata cuma mengedepankan syahwat kepentingan diri sendiri dan kelompok. Itu yang sedang jalan.
Ah, andaikan setiap masalah diserahkan kepada mereka yang arif dan bijak, kompeten, dan punya niat baik dalam menyikapi setiap persoalan yang terjadi; bumi dan kita penghuninya tentu tidak mengerang dan merana seperti sekarang ini.

2 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas RahmanWahyu…

    Saya seperti pernah mendengar kiasan di atas. kalalu tidak silap dalam filem dqan bukunya Pak Habiburahman al-Syirazi, penulis buku Ketika Cinta Bertasbih.

    Benar mas, apa yang berlaku di dunia kini sungguh cepat sampai kepada kita. Bumi ini sepertinya tiada lagi sempadan yang menghalang untuk menerima segala maklumat dengan pantas. Dunia semakin dekat dan selebar daun kelor sahaja. Sangat dekat jaraknya dan sangat singkat masanya. semua cerita dunia akan sampai kepada kita dalam beberapa detik. Subhanallah.

    Bumi kian resah dan marah dengan olah tindak manusia yang berlumba2 untuk memusnahkannya. Kondisi bumi sudah tidak mampu menampung kesabaran lagi. Kita sudah banyak merasai akibat dari kebejatan manusia dan dipengaruhi oleh nafsu dan syaitan untuk saling berebutan mengenderai kuasa di bumi sehingga lupa bahawa kita hanya punya satu bumi sahaja untuk jadi tempat tinggal.

    Siapalah kita yang tidak punya kuasa apa-apa untuk berbicara dengan dunia supaya berdamai, jangan berperang. Jika mata dan hati sudah dikabui syaitan, tiada jalan pulang untuk kembali ke pangkal jalan. Wallahu’alam.

    Semangat menulis mas, tulisan mas sangat enak dibaca kok. Saya berusaha memahaminya.

    Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak.😀

    Balas

    • Waalaikum Salam War.Wab. Encik guru.
      Wah, Mbak pernah membaca buku yang berbobot nan islami itu ya?
      Saya penggemar sinetron serialnya setelah juga menonton filmnya part 1 dan 2.
      Tentang keprihatinan itu saya selalu merasa terempati dengan derita yang terjadi di belahan mana pun di bumi ini. Karena bumi ini cuma satu seperti yang mbak katakan. Olehnya kita perlu menjaganya dan mengembalikannya ke anak cucu kita, karena kita cuma meminjamnya dari mereka.
      Jadi kita jangan terus berpikir hidup ini kita yang punya kalau cuma bermaksud bermaksud merusaknya, karena serta merta dengan itu ada yang di sekeliling kita bahkan jauh dari sini ikut rusak bersama.
      Komentar yang bernas dari Mbak untuk jadi pola pikir ke depan dalam menjaga setiap langkah dan sepak terjang kita.
      Salam juga dari saya – Rahman wahyu
      Indonesia.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: