RW 57. PADA SUATU KETIKA HARUS BERPISAH



(Sesaat Mengheningkan Kenangan Kepergian Bunda)
. . Untuk yang kedua kali kami harus ikhlas menerima kehilangan. Sepuluh tahun lalu Papa, kini Bunda pergi untuk selamanya.
. . Sebelum benar-benar pergi, mungkin tak percaya akan ada yang hilang, berlalu, dan takkan kembali dari hidup kami.
Kalau sakit menunggu sembuh, pesiar dan kelak pulang, tinggalkan ‘ntuk kembali dijenguk, atau berjanji lalu ditunaikan. . . ,

Kali ini . . . , Ya Allah, Ya Rabb ! Betapa selalai ini kami terlambat menyadari kenyataan takdir dan kehendakMu.
. . Hanya doa yang bisa dipanjatkan, semoga memperoleh ampunan dan magfirah dariNya. Sesal sudah terlambat, sekiranya dapatkan hikmah dan pelajaran untuk hidup yang lebih baik.
. . Andai suatu ketika di masa hidupnya, ada yang bisa menyenangi kehadirannya, atau sulit menerima kekurangannya, kepada mereka kami hanya bisa berkata: terimalah dia(bunda) apa adanya. Sebagai manusia yang dengan caranya telah berusaha menjadi baik kepada siapa saja. Namun dengan caranya pula tak luput dari kekurangan dan kekhilafan, baik yang disengaja mau pun yang tidak disengajakan.
. . Betapa pun semasa hidupnya, bahkan di kala usianya menapak senja, bunda dengan apa yang dia miliki hanya lebih banyak memberi dari pada menerima.
. . Bunda adalah Mama/Oma yang terbaik yang pernah kami miliki.
. . Hanya kepada Allah Yang Maha Mengetahui kami berserah diri. Baik dan buruk ada dalam genggamanNya.
. . Selamat jalan Bunda/Oma !
. . Doa kami yang ditinggalkan senantiasa menyertaimu. Damailah di sisi haribaan Papa/Opa.
. . Amin, ya Rabbal Alamin.
. . (RW)
NB : Sesaat mendapati catatan harian kepergian bunda dan mengenang lebih dua tahun setengah silam kepergiannya.

6 responses to this post.

  1. Posted by ravenshka on Maret 24, 2011 at 1:44 am

    Syukur alhamdulillah karena masih diingatkan tentang bagaimana rasanya kehilangan.Dengan begitu, kita insyaAllah bisa menghargai apa yang masih kita miliki. Cintailah mereka, orang-orang tersayang selagi masih ada kesempatan…jangan menunda-nunda berbuat baik terhadap mereka. Karena sekali kita sudah kehilangan salah seorang yg tercinta tersebut, maka semua tak akan pernah sama lagi. Kalau kita tak sempat berbuat yang terbaik untuknya hari ini, menyadari esok yg mungkin tak ada lagi…maka yang tersisa hanyalah penyesalan sedalam-dalamnya😦

    Balas

    • Senang mendapatkan pencerahan dari komentarnya yang berbobot.
      Setiap orang akan mengalami yang namanya kehilangan, dan hari sesudahnya akan jadi berbeda dari waktu sebelumnya.
      Benar, kita akan menyesali apa yang tidak sempat kita perbuat untuk seseorang yang tidak lagi kita temui di esok pagi, senja dan malam hari, dan seterusnya.
      Terima kasih telah berbagi kata yang berarti di ruang ini.
      Salam sesama pencari makna kehidupan.

      Balas

  2. Assalaamu’alaikum mas RahmanWahyu…

    Sayu berpaut di hati tika membaca kenangan kepergian bundamu. Betapa kasih bunda tiada yang mampu menafikannya. Malah jasanya mendahului jasa ayah. Susah payah yang dilalui sepanjang mengandung kita tidak akan dapat dibalas sepanjang hayat hidupnya.

    Malah kesakitan untuk melahirkan si anak tidak boleh dibayangkan dengan semua kesakitan yang ada di dunia ini sehingga ada yang membawa kepada kematian hanya untuk menghadirkan sesosok nyawa bagi menyuburkan bumi ini dengan tumbuhan manusia.

    Semoga bunda mas Rahman tenang dalam pangkuan Sang Pencipta yang lebih berhak ke atasnya. Demikian juga dengan ayah mas Rahman. Tika telah tiada mereka kini, baru terasa ada yang hilang dari hidup kita. Senyum, tawa, tangi, pelukan dan kasih mereka hanya sebuah bayangan yang melambai-lambai di mata kita.

    Hehehe… mas, saya kok rasa tidak selesa dengan foto di bawah itu. maaf ya. kasihan sih ibu mas di sana, kalau pilihan mas tentang foto itu bisa menyakitinya. Hanya saranan aja mas.

    Salam ukhuwwah dan hangat selalu.😀

    Balas

  3. Waalaikum Salam War. Wab. Encik Guru Fatimah…
    Senang menerima kunjungan Mbak Siti dengan komentarnya yang sejuk dan santun.
    Kasih kita sepanjang badan, kasih ayah sepanjang jalan, kasih bunda sepanjang masa. Lebih abadi dari kasih kita yang tak pernah tuntas membalas budi baik dan pengorbanannya.
    Bunda saya telah pergi menyusul kepergian ayahanda yang telah berpulang mnghadapNya selang sepuluh tahun.
    Masa yang cukup lama itu tlah dia jalani semata untuk mengalirkan kasih sayang demi kami anak-anak yang sudah ditinggalkan ayah.
    Mungkin seharusnya kamilah yang menjaganya dari kesendirian ditinggalkan orang yang telah mendampinginya sebelum kami ada.
    Mungkin kami tak benar-benar sepenuhnya menunaikan kewajiban yang diamanatkan ayah kami untuk menjaga bunda baik di kala suka mau pun duka, dalam kesendirian dalam kesepian dalam kepiluan.
    Hanya sesal tak berujung, doa jualah pelipur lara yang terus dipanjatkan ke hadiratNya.
    Terima kasih telah berbagi bicara yang mencerahkan.
    O ya, soal gambar itu; setelah memperhatikan saran Guru pencerah batin, lantas mengamati dengan seksama gambar tersebut, saya memutuskan mendeletenya. Tidak karena diminta, tapi ketemu apa yang saya pikir benar dari saran tersebut. Agak sensual ya? Itu budaya pakaian kemben Jawa. Dan saya bukan dari sana, jadi tak beralasan mempertahankan lukisan itu.
    Salam, senang bila terus mendapatkan kunjungannya

    Balas

  4. Setiap kali membaca tulisan tentang ibu, apalagi yang berupa kenangan, sungguh… tiba-tiba kerinduan ini betapa sangat memenuhi dada, memanggil-manggil dan berdoa. Benarlah yang disabdakan Kangjeng Rasul Saw. yang mulia, bahwa surga berada di telapak kaki ibu; bahwa kita semestinya berbuat baik kepada ibu, bahkan perintah ini diulang sampai tiga kali. Sungguh hal ini menunjukkan betapa besar dan penting peran ibu bagi kita selaku anak manusia. Duhai, Ibu….

    Balas

    • Kerinduan akan sosok bunda dengan segala kecintaannya membuat kita mencari dan menemukan personifikasinya pada setiap hal dan benda yang pernah kerap dijamahnya.
      Kedambaan itu semoga tidakkan pernah pupus dalam bentuk panjatkan doa dan simpuhkan maaf dan taubat ke hadirat pengampunanNya.
      Sesal memang datangnya selalu terlambat. Tapi tidak pernah terlambat untuk membayarnya dengan berbuat baik dan mengasihi sesama.
      Salam kenal. Suatu kehormatan bagi saya telah mampir ke lapak yang sederhana ini.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: