RW 55. Tidak Harus Pintar Sendirian


google gambar
(Kita Perlu Mencerdaskan Sistem)
. . . . Kadang aku diminta sikecil Dea bantu mengerjakan PR sekolahnya. Kuajak dia bisa menyelesaikan tugas pelajaran itu dengan benar, mandiri, dan proporsional.
. . . . Caranya?

. . . . Dengan telaten kuberikan contoh lain dari soal yang didapat, lalu dia harus mengerjakan sendiri soal PRnya. Sebelum itu kucari tahu sejauhmana, dan dengan cara bagaimana soal PR itu diberikan pengertiannya oleh guru pelajaran tersebut. Kusimak dengan seksama sebuah soal apakah menyentuh kebutuhan belajarnya, seperti apa tingkat kesulitannya, dan sejauhmana relevansinya dengan realitas hidup di luar.

. . . . Mencari luas sebuah bidang persegi misalnya. Diketahui panjang 5 cm dan lebar 4 cm, maka kubuat gambarnya lalu distrimin. Kusuruh Dea menghitung kotak di dalam gambar tersebut, itu besaran luas yang dimaksud. Kucoba lagi dengan contoh yang lain. Setelah itu kuajar bagaimana mencari hitungannya dengan cara yang lebih praktis dan cepat, yaitu pakai rumus panjang kali lebar. Jadi rumusnya kuberitahu setelah selesai dari sebuah pengertian.

. . . . Lantas kuperkenalkan seperti apa soal itu dalam kehidupan nyata. Misalnya sebidang tanah dengan panjang dan lebar berapa maka luasnya menjadi berapa. Jadi dengan luas yang seberapa itu orang bisa menentukan berapa nilainya (mau dijual dengan harga berapa permeter).

. . . . Selesai dengan penjelasan itu, biasanya sikecil akan mengangguk puas.

. . . . Tapi kalau setelah itu dia merengek minta diselesaikan semua soalnya, aku menampik. Untuk soal yang terlalu banyak, dan kesulitannya tidak bisa dijangkau daya pikir mereka , terlebih soal itu tidak dibuat jelas benar oleh guru yang bersangkutan, aku mempersilahkan dia untuk mengabaikannya. Biar guru itu tahu dan bisa mengajar murid-muridnya dengan lebih baik.

. . . . Aku tidak ingin kemampuan sekecil Dea menyelesaikan soal PR karena bantuan orang tuanya, akan mengabaikan realitas keberhasilan pengajaran tentang topik soal tersebut. Dan itu juga akan melebarkan kesenjangan antara kemampuannya dengan anak yang orang tuanya tidak mampu untuk itu.

. . . . Biarlah anak itu belajar sesuai kemampuan dan karena pengetahuannya dan bukan karena mengejar nilai ulangan. Belajar yang bersahabat bersama teman-temannya dan berpijak pada realitas alam sekitar dan kesehariannya.

. . . . Ini caraku, adakah cara lain yang lebih baik?

5 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum Wr.Wr. saudara RahmanWahyu…

    Alhamdulillah, kesempatan hari ini ditakdirkan Allah untuk menyapa setelah lama tidak melakukan blog walking (BW) kepada kebanyakan blog sahabat maya. Maafi saya dan mengharapkan kebaikan selalu mengiringi kehidupan mas Rahman dan keluarga.

    Setelah membaca tulisan mas Rahman di atas, saya sangat bersetuju bahawa kepintaran harus dikongsikan bukan diboloti seorang diri. Sungguh menyedihkan apabila anak2 kita membawa balik kerja sekolah dan tidak tahu bagaimana mahu melaksanakan tugasan tersebut.

    Hal yang sama berlaku dengan anak2 saya apabila mereka merungut tidak tahu membuat tugasan yang diberi guru. Malahan kerja yang dibuat sampai belasan muka surat. Bukan itu sahaja, guru anak di sekolah menengah rendah pula memberi kerja rumah dengan menyalin semula karangan secara bulat2 dari buku teks. Alasan mahu pelajar membaca karangan tersebut. Sungguh melampau bagi saya.

    Jika mahu menyuruh pelajar membaca karangan tersebut, guru seharusnya menyediakan soalan2 yang berkaitan dengan karangan itu. Pencarian jawaban kepada soalan yang diarahkan, secara otomatis memberi ruang kepada pelajar membaca sambil mencari jawaban. Itukan lebih berkesan. Sehinggakan anak2 saya merungut kerana penat menulis dalam hampir 10 muka surat setiap hari.

    Bayangkanlah “malas”nya sebahagian guru yang tidak komited dalam membangunkan kepintaran pelajar. Guru yang berklualiti bisa menghasilkan pelajar berkualiti. Guru yang pintar juga akan melahirkan pelajar yang pntar. Kepintaran harus dikongsi bersama. Untuk mendapat kepintaran dan prestasi yang hebat, pelajar harus didedahkan dengan kehebatan cara belajar oleh gurunya. Guru adalah teladan kepada kebijakan pelajarnya.

    Terima kasih mas, sudah berkongsi rasa dan kebimbangan terhadap “kepincangan” yang berlaku dalam dunia keguruan kita akhir-akhir ini. Kini, tidak ramai guru yang kita gelar sebagai “guru sebenar guru.”

    Salam mesra dari saya di Sarikei, Sarawak.

    Balas

    • Waalaikum Salam Wr. Wb !
      Salam bertemu kembali.
      Senang sekali karena Mbk Siti masih berkenan mampir di sini.
      Soal kesibukkan saya bisa pahami, mbak orang terbaik dengan pengabdiannya. Sungguh saya salut.
      Saya jadi senang ditanggapi pikiran saya tentang dunia pendidikan dan pengajarannya. Kalau pun pendapat kita berbeda, saya tetap gembira menyambutnya.
      Saya juga gundah dengan nasib si santri Rey di pesantren, apakah dia bisa lolos dari sistem evaluasi nanti.
      Padahal belajar seharusnya menjadi sesuatu yang mereka cari dan senangi, bukan untuk segera keluar dari kerangkeng keterpaksaan belajarnya.
      Saya baru saja tadi menyimak adanya sistim KTSP, di mana sekolah diberikan kewenangan mewarnai pendidikan diterapkan seperti apa dengan caranya. Hanya kenapa kesempatan ini tidak digunakan saya jadi memahaminya, karena sekolah masih terlalu disibukkan bagaimana murid harus pintar karena Ujian Nasional dari pusat.
      Jadi bagaimana sempat menerapkan kalau sekarang lagi aspek nilai ujian akhir diambil dari smesteran kelas I sampai III.
      Jadi sempurnalah belajar bagi siswa demi semata berhasil di ulangan smesteran dan ujian akhir.
      Coba andaikan saja, ulangan/ujian bisa dipakai untuk memotivasi anak belajar, namun bisa tidak dibuat belajar karena ulangan itu muridnya ‘berasa’ dapatkan manfaat dan juga korelasinya ke dunia luar.
      Jadi sambil menyelam minum air seperti kata peribahasa. Bukan malah tenggelam.🙂
      Salam saya dari Indonesia.
      KTSP : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

      Balas

  2. Kebanyakan sekolah-sekolah umum memang seperti itu bang..
    Murid di fokuskan untuk bernilai bagus, berprestasi maksimal, lulus ujian akhir, dan sebisa mungkin agar tidak memalukan nama sekolah

    Tapi sempet baca juga kalau di Jerman ada sekolahan SD dimana murid2nya gk perlu mengerjakan PR, nggak perlu Ulangan, dan semua murid bisa lompat naik turun kelas sesuka hati sesuai kemampuannya.
    Di novel Totto-Chan itu juga bahkan, murid2 bebas mengubah2 jam pelajaran sesuai ketertarikan mereka…

    ah, memang sudah banyak yang sadar kok kalau sistem pendidikan harus keluar dari jalur konvensional-nya🙂

    Balas

    • Wah senang didekati lagi oleh komentarnya.
      Saya sempat ke ruangnya, belum juga dibalas komentar saya.🙂
      Belajar jadi fokus untuk nilai, prestasi, lulus dan tidak sampai memalukan, sangat memprihatinkan ya?
      Senang menyimak perbandingan belajar kita dengan yang ada di Jerman. Ada sekolah seperti itu, artinya mereka terus membuat terobosan dari sekedar bertahan dengan cara yang konvesional.
      Banyak yang sadar dari kita dengan kekurangan sistem di sini, sayangnya tidak cukup dipakai untuk mendobrak stagnannya cara yang sudah tidak bisa diterima. Satu cara penolakan antara lain dengan berjamaahnya bantuan nyontek kepada peserta ujian nasional.
      Dilemma memang, mau jujur tapi bisa terbujur.
      Salam dari saya.

      Balas

  3. Assalamualaikum wr.wb saya sangat mengucapkan banyak terima kasih kepada AKI SUBALA JATI..atas bantuan AKI kini impian saya selama ini sudah jadi kenyataan..sudah lama saya ikut kerja dikebun kelapa sawit dimalaysia dan gaji tidak seberapa..dan berkat bantuan AKI SUBALA JATI pula yang telah memberikan angka jitunya kepada saya yaitu..6734..dan alhamdulillah berhasil..sekali lagi makasih ya AKI..karna saya cuma bermodalkan uang cuma 100 rb dan akhirnya saya menang..berkat angka GHOIB nya AKI SUBALA JATI..saya ada rencana pulang ke indonesia buka usaha sendiri..dan kini kehidupan saya jauh lebih baik dari sebelumnya..bagi anda yang ingin mengikuti jejak saya silahkan hubungi..082..318..816..444..AKI SUBALA JATI..ramalan AKI SUBALA JATI meman memiliki ramalan GHOIB..yang dijamin 100% tembus ini asli tampah rekayasa..dan yang punya room terima kasih atas tumpangannya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: