RW 53. Ada Apa Dengan Pendidikan Sekolahan Kita


(Diskusi Panjang Saya Dengan Kang Guru Teguh Sasmito)

Ujian Nasional telah di ambang pintu. Evaluasi sentralistik ini banyak memunculkan reaksi pro dan kontra di kalangan pemerhati pendidikan.
Bagi saya yang kebetulan kurang setuju dengan sistem ini sangat menyayangkan kalau orientasi belajar siswa di sekolah menjadi semata wayang demi menjawab ulangan dan ujian.
Evaluasi menurut hemat saya diperlukan untuk mengetahui sudah sejauhmana materi ajar tidak saja telah mencapai target yang diharapkan, tetapi juga menyentuh relung-relung kebutuhan belajar siswa.
Karena belajar tidak harus dilihat sebagai bahan yang sekedar dipakai mengisi eksistensi siswa di sekolah, tetapi dengan belajar siswa jadi terhubung ke dunia luar; relevan dengan kenyataan yang ada, juga dapat dirasakan manfaatnya ke depan, dari sini dan saat ini.

Menyayangkan itu, saya nimbrung dalam blognya Kang Guru Teguh dan ‘terseret’ dalam diskusi panjang dengan beliau. Sedemikian panjang dialognya, postingan ini tidak wajib baca bagi pengunjung yang datang di blog saya. Saya bawa bahan diskusi itu kemari, biar sebagai arsip di lapak saya, juga karena mau disusun secara kronolog.
Kepada Kang Guru saya sudah meminta izin dengan mengcopypaste seperti apa yang tertuang di sana.
Perbincangan itu tidak lebih dari sebagai berikut:
1). RAHMAN WAHYU :
Februari 19, 2011 pukul 9:48 am |
Salam kenal.
Boleh berbeda pendapat ya bang?
Tolong dikoreksi pikiran saya mungkin salah.
Sejauh ini saya prihatin karena Ujian Nasional telah menempatkan dan memampatkan siswa belajar hanya untuk pelajaran itu sendiri(verbalistik) dan tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang bisa mengisi relung-relung kebutuhan belajarnya.Apakah hanya karena dan untuk simonster ini kita belajar?
Belajar hanya karena untuk bisa mengisi ulangan (smester/Mid) dan selamat dari monster Ujian Nasional.
Sadarkah kita bahwa dunia pendidikan telah menggiring mereka ke arah dan cara yang salah, maaf setidaknya menurut pendapat saya.
Salam dialog sesama pemerhati pendidikan.
Saya Rahman Wahyu
################

2). KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 20, 2011 pukul 10:29 am |
Pendapat bapak tidak salah, karena semua orang bebas berpendapat. Satu hal yang perlu kita sadari, bahwa setiap proses pembelajaran pasti akan diakhiri dengan sebuah ujian atau tes akhir untuk mendapatkan sebuah sertifikat demi sebuah pengakuan. di samping itu tes atau ujian juga menentukan indikator keberhasilan itu sendiri. saya bisa mengatakan kepada orang bahwa saya sudah lulus setir mobil, terus orang lain tidak begitu saja percaya tanpa bisa membuktikan sertifikatnya. Begitu pula ujian nasioal sebenarnya sesuatu yang biasa daan memang harus ditempuh unruk mendaptakan sebuah sertifikat yang bernama ijazah. Permasalahannya adalah yang biasa itu dijadikan luar biasa sehingga seolah-olah sesuatu yang menakutkan. Strees dibuat sendiri hanya untuk menghadapinya, dan akhirnya dipolitisasi demi untuk mendapatkan sebuah pujian apapun caranya dilakukan tidak terkecuali memberikan beban yang berlebih kepada siswa dengan tambahan-tambahan jam.Namun terlepas dari itu semua asal siswa berperan sebagai siswa mau belajar dengan baik, guru berperan sebagai guru utuk memberikan pelayanan juga yang baik, dan pejabat berperan sebagai pejabat dengan memberikan fasilitas yang baik, serta orang tua juga berperan sebagai orang tua untuk memantau putra/putrinya dengan baik dan tidak menjadikan sesuatu yang biasa itu menjadi luar biasa, kan tidak masalah, asal jangan dibuat masalah. Salam

3). RAHMAN WAHYU :
Februari 19, 2011 pukul 1:50 pm |
Terima kasih telah menanggapi pikiran saya. Saya pengen terus, boleh ya?
Saya bukan tidak setuju dengan perlunya ujian sebagai indikator keberhasilan siswa menyerap materi ajar. Yang agak sulit saya terima ketika ujian menempatkan siswa sebagai obyek yang harus mendekat ke semua faktor yang menentukan dalam proses belajar. Sekaligus ujian menjadi vonis lulus dan gagalnya siswa.
Kenapa tidak kita juga harusnya fair menempatkan ujian sebagai indikator berhasil tidaknya guru dengan kemampuan mentransfer ilmunya, dengan ujian itu mampu mengetest handal tidaknya metode yang dipakai, ujian itu juga hasilnya kalau tidak memadai akan membuka banyak hal ketimpangan dan kesenjangan yang telah dengan tidak adilnya menyamakan semua sekolah, beragamnya persoalan yang melilit siswa dan pengaruh buruk lingkungannya; dengan alat ukur evaluasi yang sama.
Satu lagi, kenapa dengan ujian itu kita tidak coba dengan jeli melihat sejauhmana materi ajar bermanfaat dan relevan dengan dunia sekitar anak yang mampu dipahaminya.
Intinya setiap pelajaran yang ‘dijejalkan’ ke mereka sudahkah atau belum menyentuh relung-relung kebutuhan belajaran siswa.
Jadi setelah ini, mungkin perlu kita gugat adanya Ujian Nasional untuk guru, metode, materi, dan semua faktor yang menentukan keberhasilan pengajaran.
Salam !
###############

4). KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 20, 2011 pukul 12:30 am | #29
Wah, terima kasih Pak..kelihatannya bapak tipe orang yang suka berdiskusi dan berkomentar terhadap sebuah kebijakan, tentu berbeda dengan saya. Tapi tak apalah saya coba untuk ikut mencoba belajar berdiskusi dengan bapak.
Menurut saya guru, kepala sekolah, kepala dinas, atau siapapun yang bergelut dengan suatu pekerjaan pasti ada alat evaluasinya. UN merupakan alat evaluasi untuk siswa pada tigkat akhir, meskipun sebagian mengatakan juga evaluasi terhadap keberhasilan sekolah maupun guru dalam mengajar. Itu sah-sah saja orang berpendapat.Tetapi kalau UN dikatakan hanya alat evaluasi untuk sekolah atau guru saja menurut saya juga tidak fair, sebab kalau seperti itu maka sampai kiamat hanya guru-guru di sekolah favorit dengan input siswa yang tinggi saja yang dianggap berhasil.Sementara untuk sekolah dengan input siswa rendah tidak akan pernah dikatakan berhasil. Nah, kira-kira berani tidak menggunakan sistem rolling guru, artinya untuk guru-guru yang siswanya sudah dianggap berhasil kemudian dipindahkan untuk mengajar dengan input siswa yang rendah ? Saya yakin mereka akan streesss.
Masalah apakah “setiap pelajaran yang ‘dijejalkan’ ke mereka sudahkah atau belum menyentuh relung-relung kebutuhan belajaran siswa”.tergantung dari sudut mana kita memandang, yang jelas kurikulum dibuat oleh orang-orang pintar dan ahli, pasti sudah diperhitungkan dari segala lini kebutuhan siswa.
Maaf ya Pak,…saya memang bukan orang yang suka berkomentar tentang sebuah kebijakan, sebab menurut saya itu hanya akan membuang energi saya dan tidak ada yang bisa saya hasilkan.Setuju atau tidak setuju terhadap sebuah kebijakan, toh akan terus dijalankan.Sebaik apapun menurut kita, belum tentu bisa merubah sebuah kebijakan. Untuk itu yang bisa saya lakukan hanya berbuat dan berkarya sesuai dengan kemampuan saya dengan harapan semoga bisa dimanfaatkan oleh orang lain secara gratis. Untuk menjadi komentator sudah terlalu banyak, tetapi tidak satupun komentator yang pernah saya lihat menghasilkan sebuah karya besar untuk bangsa ini, kecuali hanya meningalkan sebuah kalimat pahit untuk sebagian orang, kadang saya juga bingung untuk membedakan mana tukang becak, mahasiswa, dan mana seorang doktor, karena komentar yang keluar dari mulutnya tentang sebuah kebijakan bunyinya sama yaitu menghujat tanpa solusi, semakin banyak pendukung semakin besar hujatanya. Sekali lagi mohon maaf, Salam dari Pekalongan.
#######################################

5). RAHMAN WAHYU :
Februari 20, 2011 pukul 1:27 pm |
Senang bisa mendapat koreksi dari Bapak.
Tapi tidak apa-apa ya kalau kita masih coba melihatnya dari perspektif yang berbeda? Asalkan tidak dengan maksud mau berbeda terus.
Apa yang salah kalau kita memberikan komentar terhadap sebuah kebijakan karena hal itu menyangkut kepentingan kita. Seperti azas demokrasi, kebijakan itu hakikatnya dari kita, oleh kita, dan untuk kita juga.
Jadi menurut hemat saya, bukan hanya boleh berkomentar; pada tingkat yang paling mendesak sebuah kebijakan boleh jadi perlu dikoreksi atau digugat demi kebaikan bersama dan ditempuh dengan cara yang santun dan bijak.
Kembali ke laptop (versi Tukul), ujian nasional sah-sah saja sepanjang kita bisa mencapai yang terbaik dan makin baik dari sistim itu.
Banyak keluhan dan kritikan yang dialamatkan ke produk evaluasi yang sentralistik ini, di sini saya lebih consen dengan keprihatinan hakikat belajar yang mbalelo ketika berhadapan dengan ‘momok’ ulangan /smesteran/ ujian(nasional).
Saya bukan tidak menerima fungsi tets belajar itu sebagai alat evaluasi. Hanya benarkah itu sebagai alat evaluasi atau cara ‘memaksa’ siswa untuk belajar?
Kalau sudah seperti itu tidakkah kita perlu mengembalikan test ulangan/smester/ujian pada porsi yang sebenarnya: sebagai cara untuk mengetahui sudah sejauhmana sebuah materi ajar telah mencapai target yang diharapkan.
Tentang kurikulum dibuat serta sudah diperhitungan oleh para ahli pintar, senanglah kalau sudah seperti itu. Hanya lebih senang lagi kalau kurikulum yang sudah dipintarkan oleh orang pintar itu tidak saja mampu memintarkan siswa secara verbalistik (diingat/dihapal) dalam semusim, sekedar mengisi ulangan/ujian; tetapi juga mampu menyenangkan siswa karena pelajaran itu dipahaminya dengan baik relevansi dan manfaatnya ke luar dan bagi dirinya dalam kehidupan di luar sekolah.
Salam berbagi perspektif. Maaf kalau ada yang kurang berkenan.
######################

6). KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 20, 2011 pukul 2:03 pm | #16
Hehe, ternyata diskusi masih berlanjut juga ya pak. Terima kasih. Semoga apa yang bapak harapkan bisa terealisasi oleh si empunya kebijakan. Untuk itu mari kita fokuskan tugas kita masing-masing saja, saya pernah bincanng-bincang dengan seorang profesor yang juga berkompeten di dunia pendidikan ternyata beliau juga mengeluhkan yang sama, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa, Nah apalagi kita pak. Tapi jika kita terlarut dengan ketidakpuasan, maka kita juga tidak mendapatkan apa-apa lebih-lebih bisa menghasilkan seuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Awal saya membuat blog juga lebih banyak menyoroti kebijakan tersebut seperti yang bapak keluhkan. Tapi apa yang saya dapatkan ? sepertinya hanya sebuah kekecewaan. Kalau saya lanjutkan sepertinya saya tidak bisa berbuat yang lebih baik, maka dari itu sesuai dengan kemampuan yang saya miliki saya lebih baik berbuat untuk bisa mebantu kesulitan siswa dengan cara saya tentu saja. Sekali lagi terima kasih Pak, atas masukannya. Salam.

7). RAHMAN WAHYU :
Februari 21, 2011 pukul 2:49 pm |
Wacana seperti ini memang tidak harus mensyaratkan bisa tidaknya mempengaruhi kebijakan. Juga tidak bermaksud mendikte jalan dan cara yang tengah bapak ambil.
Kita mungkin pernah dari persimpangan/pikiran yang sama, namun adalah hak bapak/kita mengambil jalan yang terbaik.
Saya hanya berharap kita bisa menjadi sahabat dalam perbedaan pemikiran ini.
Saya ada di jalan pikiran yang sementara ini saya anggap benar namun berharap ada pikiran orang lain/ bapak bisa memberikan keragaman berpikir.
Banyak yang ingin saya diskusikan namun rasanya apa ini tidak akan mengusik kenyamanan bapak?
Salam bersahabat dari saya, Rahman Wahyu.
#########################

8). KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 22, 2011 pukul 1:41 am |
Tentu saja saya tidak akan terusik dengan berdiskusi untuk kebaikan Pak, sebab perbedaan adalah suatu anugerah yang patut kita syukuri. Apa yang kita pikirkan dan kita lakukan mungmin sudah benar menurut kita, tapi belum tentu bagi orang lain. Nah disinilah kita cari jalan keluarnya, kita cari solusinya bukan kelemahan masing-masing. Kalau kita bisa mengambil kelebihan yang dimiliki dari setiap perbedaan dan menerima kelemahan yang ada, saya yakin setiap masalah akan bisa dipecahkan dengan sempurna. Salam dari Pekalongan.
#######################

9). RAHMAN WAHYU :
Februari 22, 2011 pukul 2:56 am |
Senanglah kalau begitu.
Saya masuk saja ke dalam subtansi ketidakjelasan yang mau saya tanyakan.
Saya pernah di jurusan IPA, ayah saya guru matematika SMP, setelah itu SMA, kuliah saya disuruh ambil jurusan eksat itu.
Mencoba memahami dengan baik dan lugas materi pelajaran eksat itu sejak SMP, SMA; sungguh merupakan kesulitan bagi kami murid2, terbukti adanya anggapan pelajaran2 tsb menjadi momok.
Jadi berusaha saja memahaminya sesaar, kalau perlu menyontek agar tidak kena strap dan nilai kita tidak merah.
Sampai sekarang saya dan juga mungkin teman2 tidak mengerti ada apa dengan akar, pangkat, x2, sinus secan dan tanges, percepatan gerak lurus beraturan, dan semuanya.
Boleh jadi semua itu ada manfaat dan korelasinya di dunia real. Berarti kita saja yang tidak dibuat memahami, atau jangan-jangan topik itu perlu di undur dan diganti dengan topik yang bersahabat dengan pengertian, korelasi dan kegunaannya bagi anak didik, di sini dan saat ini.
Itu dulu, saat ini saya sedang dikaluti masalah yang pelik, yang pemecahannya tidak ada referencenya dari apa yang saya dapat di sekolah. Maaf !

#######################
10. KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 22, 2011 pukul 5:51 am
Setiap apa yag diajarkan guru pasti ada relevansinya terhadap dunia pekerjaan Pak, permasalahannya adalah ketika kita sudah lulus kita kerja dimana. Seseorang yang kuliah di jurusan matematika kemudian menjadi camat seperti teman saya, tentu tidak ada sedikitpun ilmu yang relevan terhadap pekerjaannya, tetapi apakah tidak ada manfaatnya ilmu yang dipelajari ? Tentu sangat bermanfaat ketika suatu saat dia harus masuk ke Sekolah-sekolah untuk memberikan motivasi kepada siswa. Begitu juga untuk teman yang bekerja di Bank, tentu tidak akan pernah menemui apa itu akar, apalagi integral. Tetapi untuk beberapa teman yang bekerja di LIPI, LAPAN, LPMP, P4TK,Laboratorim kimia, fiaika, biologi, matematika, dll yang bersifat penelitian, atau di perusahaan-perusahaan jasa pembuatan alat-alat, tentu akan banyak relefansinya meskipun tidak semuanya. Bahkan seorang polisi yang ingin mengetahui berapa kecepatan kendaraan yang baru saja tumbukan, dari jarak berapa pengendara mulai mengerem, berapa meter polisi harus membuat daerah terlarang, tentu sangat berhubungan dengan fisika, meskipun pada praktiknya saat ini sudah dilengkapi dengan alat-alat otomatis yang berbasis komputer. Tapi semua itu atas dasar ilmu Fisika. Seorang dokter yang yang memberikan beban kepada pasien patah tulang, tegangan tali yang dibutuhkan agar pasien tidak terlalu sakit, tentu sangat berhubungan dengan konsep kesetimbangan. Dulu seorang dokter menyuruh pasien yang menderita panas untuk dikompres dengan air dingin, tetapi dengan konsep fisika yang baru ternyata perkembangan ilmu berubah, seorang pasien yang menderita panas justru harus dikompres dengan menggunakan air hangat. Itu semua juga sangat berkaitan dengan konsep hantaran panas pada fisika, sifat-sifat konduksi, konveksi dan radiasi juga dimanfaatkan untuk penemuan-penemuan di bidang kedokteran yang lain.
Nah, permasalahannya adalah (maaf bukan menyalahkan) bapak/ibu guru yang kebetulan mengajar bidang studi eksakta jarang yang mendahului pelajarannya dengan bercerita tentang tokoh-tokoh penemu, kenapa rumus itu ditemukan, untuk apa rumsu itu dibuat, dan dalam hal apa persamaan-persamaan itu dimanfaatkan. Beliau lebih banyak menuliskan sebuah rumus, contoh soal, latihan, ulangan, dan akhirnya ujian. maka yang ada pada otak siswa tentu rumus-rumus dan rumus sehingga pelajaran itu dianggapnya sebagai momok yang berupa kumpulan rumus.Ironisnya lagi, beberapa bimbingan belajar juga membuat rumus yang menamakan diri sebagai rumus praktis yang tidak umum untuk mengerjakan soal yang praktis tanpa mengajak untuk berfikir logika. Jadi terus terang bukan kurikulum yang salah, tetapi justru bagaimana guru menterjemahkan kurikulum itu untuk disampaikan kepada siswa hingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan.
O, ya keberadaan rumus dibuat oleh para ahli sebenarnya untuk mempersingkat penjelasan pada waktu ditemukannya. Misal seorang fisikawan menyimpulkan hasil temuannya bahwa muai panjang sebuah benda sangat dipengaruhi oleh :
1. panjang benda mula-mula
2. perubahan suhu/panas benda
3. jenis benda
maka untuk mempersingkat penulisan peneliti tersebut menuliskannya dengan sebuah persamaan :dl = Lo. a. dt.
Yang artinya sama dengan pernyatan tadi.
Maaf jika saya salah,…..Salam dari Pekalongan.

########################
11). RAHMAN WAHYU :
Februari 22, 2011 pukul 3:30 pm |
Terima kasih telah diberikan uraian panjang lebar yang konteks dengan apa yang jadi ketidakmengertian saya. Sampai tertawa senang saya karena mendapat teman diskusi yang nyambung.
Jadi persoalannya karena kita tidak dibuat jelas dengan apa manfaat dan korelasinya dengan dunia luar sekolah.
Saya sadar itu, lalu juga coba memahami seperti apa pengetahuan guru tentang korelasi dan manfaat dari topic yang diajarnya. Ada guru yang seperti membuat lingkaran setan yang sama, alias dia juga menerimanya seperti apa lalu menyinambungkan cara yang sama secara verbalis: belajar hanya untuk ajaran itu semata, kepada murid2nya.
Masih ada factor lain, yakni saratnya jadwal kurikulum yang harus dituntaskan, metode dan sarana penyampaian yang tidak memadai, juga idealisme guru; apakah menganggap penting hal itu.
Ada lagi (maaf), bahwa kalau pun semua ada korelasi dan manfaatnya, lalu hal itu disertakan penjelasannya, masih harus mempertimbangkan tingkat urgensi yang bisa dirasakan murid.
Misalnya, seorang murid TK diberi pelajaran kimia hanya karena pelajaran itu yang penting ada manfaatnya dan korelatif. Seorang yang ternyata kemudian jadi camat tidak merasa berguna beberapa pelajaran yang diterimanya secara detail dengan tingkat kerumitan macam apa, sampai kemudian ternyata yang tidak membutuhkannya masih ada sekian banyak siswa dikurangi dua tiga orang yang beruntung melanjutkan ke tingkat kuliah yang fakultatif dengan mata ajaran tersebut.
Saya membayangkan alangkah bijaknya murid diajarkan dengan sebuah perhitungan luas persegi misalnya, lalu memperkenalkan bagaimana dengan pengetahuan itu anak bisa menghitung luas sebidang tanah dengan cara mengstriminnya. Setelah itu memberi kemudahannya dapatkan hasil yang sama dengan rumus panjang kali lebar.
Bijak tadi bisa lebih jauh dengan memberitahukan juga ada bangun dan ruang lain yang jelas dan real bagi anak yang perlu sekedar diketahui bahwa semua ada rumus perhitungan luas dan isinya. Tanpa harus memaksa anak mengingat dan menghapalnya setengah mati demi jawaban selembaran kertas ulangan.
Dengan tidak membebani anak seperti itu, banyak pengetahuan dan hal-hal lain yang human sifatnya lebih penting mereka miliki.
Antara lain tahu menghitung dan dihitung orang kalau misalnya diketahui: si Polan memiliki gaji tiga juta rupiah per bulan, dalam dua puluh empat bulan kemudian berapa gaji yang bisa dikumpulkannya? Kalau sudah sampai berjumlah 2,4 milyar, berapa dan dari mana harga x nya. Diketahui x nya semua orang tahu, karena semua orang belajar hitungan yang ‘diperlukan’ dan sesuai keperluan.
Ah, kenapa saya sampai ngawur ke sini? Maafkan saya kalau pikiran saya jadi tidak jelas seperti ini.
Salam perhitungan !
Saran: demi kemudahan kita membaca boleh ya sekali2 diselingi ‘enter’ tanggapannya. Maaf sekedar saran.

12). KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 23, 2011 pukul 12:28 am |
Hahahaaa. makasih-makasih, enter saja kok dikasih tahu,….mungkin karena saking asyiknya sih. Kita terusin nih diskusinya ? hehe
enter
Sebenarya intinya hanya pada guru lho Pak, bisa tidak dia memberikan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dengan tidak melulu menyuapi rumus-rumus yang tak dimengerti dan diberi penjelasan yang bisa membuat siswa mengerti apa manfaatnya.
Soal anak TK diberi materi kimia, sebenarnya bukan konteks materinya sih Pak, tetapi bagaimana maraknya makanan instan yang ada di pasaran, juga minuman yang kesemuanya mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh. Jadi substansinya kadang-kadang dilupakan tapi malah diajarkan rumus kimianya yang belum waktunya untuk anak seusia TK.
enter lagi ya,hehe
Mudah-mudahan dengan kebijakan pemerintah memberikan sertifikasi bagi guru, pendidikan akan lebih maju dan guru lebih profesional dari sekedar menggugurkan kewajiban.
Sebagai bukti sudah bisa kita lihat sekarang ini calon mahasiswa yang masuk keguruan kelihatannya sudah ada perbaikan di banding waktu saya dulu yang kebanyakan teman-teman yang mau jadi guru biasanya dari desa dan dari keluarga yang kurang mampu seperti saya ini, sehingga menjadi guru hanya jalan agar cepat dapat kerja.Mudah-mudahan ini adalah awal kebangkitan pendidikan indonesia.

############################

Komentator lain masuk, dipersilahkan.
Beliau adalah Encik Guru dari Sarikei, Serawak, Malaysia.

13). SITI FATIMAH AHMAD
Februari 23, 2011 pukul 7:02 am | #3
Assalaamu’alaikum Kang Guru, mas Teguh…

Subhanallah, saya mengambil masa hampir satu jam untuk membaca dan memahami segala diskusi dari awal kenal antara mas Teguh dengan mas Rahman di atas. Jujur saya bilang, saya menyukai acara komentar sebegini kerana memberi ruang untuk perbincangan tentang sesuatu yang bermanfaat.
Ternyata mas Teguh sudah bertemu regu yang mantap. Saya dapat membaca cara fikir kalian berdua yang masing2nya mempunyai pendapat tersendiri yang cuba dipertahan dan berusaha untuk dipertimbangkan. Biasanya perdebatan ilmiah akan sangat menarik kalau adanya pro dan kontra untuk mencari kepelbagaian sikap dalam menangani sesuatu isu yang dibincangkan.
Hehehhe, sepertinya saya jadi pemerhati dan berusaha memahami apa yang dibahaskan. mas Rahman dan mas Teguh memiliki kepakaran dalam bidang masing2 dan tentunya untuk membicarakan dunia pendidikan secara umum tidak mempunyai masalah yang rumit dan pasti punya alasan sehingga mencapai kesepakatan yang belum tentu disepakati.
Senang dapat membaca buah fikiran sahabat kedua-dua guru hebat saya ini. Silakan berbincang dan saya senang membacanya, kalau sekali-sekala saya mencelah, mungkin tidak mengapa, hanya mahu bertanya lanjut kerana mungkin proses pendidikan di Malaysia dan indonesia punya sedikit beda.
Terima kasih mas teguh kalau menerima bicara saya ini. mudahan banyak kebaikan yang bisa dicapai dalam mencari sesuatu yang bermanfaat, walau orang seperti kita hanya bicara seperti angin tanpa diketahui pihak berkenaan, sekurang2nya kita telah membebas diri dari belenggu kesakitan di jiwa yang selama ini banyak persoalan cuba ditimbulkan.
Bagi saya pertanyaan mas Rahman bukan sia-sia dan jawaban mas Teguh juga memberi manfaat bersama. Teruskan berkarya mas Teguh untuk kemenjadian siswa yang memerlukan. saya salut dengan semua jawaban kalian berdua. malah terkagum2 menuruti setiap patah bicara yang sangat berbobot ini.
Salam mesra dari saya di Sarikei, Sarawak.

14). KANG GURU TEGUH SASMITO
Februari 26, 2011 pukul 11:43 am
Wah,..terima kasih sekali bunda,…meski jauh ternyata bunda sudi untuk menyimak diskusi antara saya dengan pak rahman.
saya setuju bunda, dan itu pula yang saya rasakan selama ini terhadap sebuah kebijakan. Kalau dipikir saya juga merasa salah satu korban dari sebuah kebijakan. Dulu ketika saya masih D3, tidak ada penerimaan guru PNS yang berijazah D3. Ketika ada ujian D3, batas usia sudah tidak terpenuhi. Akhirnya saya transfer ke S1, setelah S1 lagi-lagi terbentur usia. Ketika usia memenuhi, terbentur dengan aturan pengabdian harus di sekolah negeri. Ketika pengabdian di sekolah swasta memenuhi, terbentur lagi SK yayasan tidak berlaku dan harus dibiayai oleh angaran RAPBN, dan ketika massa kerja minimal 5 tahun memenuhi, juga terbentur hanya mengabdi di sekolah swasta. Terakhir ketika dengan ikhlas saya menerima apa adanya untuk mengabdi sebagai guru di sekolah swasta masih terbentur lagi dengan kebijakan pemerintah mengiklankan siswa lulusan SMP agar masuk ke SMK, sehingga berakibat siswa di sekolah saya jumlah siswanya menurun banyak. Dan entah sampai kapan akan saya rasakan.
Dari situlah akhirnya saya harus belajar bersabar, belajar mandiri, belajar menerima, belajar untuk tetap bertahan, dan belajar untuk tidak bergantung pada orang lain. Tuhan pasti punya rencana lain. Akhirnya saya memutuskan untuk berbagi apa yang saya miliki, apa yang saya bisa, dan apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain. Saya hanya yakin dan haqul yakin, bahwa rejeki semua dari Allah.
Terima kasih bunda atas masukannya, terima kasih juga telah ikut menyimak diskusi saya denga Pak Rahman.
Salam persahabatan selalu dari Pekalongan

15). RAHMAN WAHYU :
Februari 23, 2011 pukul 10:40 am |
Terima kasih karena tidak sampai tersinggung dengan ‘enter’nya.
Kalau menurut bapak intinya hanya pada guru, saya sependapat; tapi dengan catatan(menurut saya) bila faktor pendukung lain cukup signifikan terpenuhi.
Ok, saya punya catatan pemikiran di seputar problematika ini. Cuman kutipan (bagian terakhir)dari uneg2 saya. Biar diskusi kita nyambung. Sbb:
Sekali waktu ternyata saya butuh kemampuan berhitung. Berapa berat paku dengan pokok harga Rp 1.200,- untuk saya jual eceran Rp. 1.500 perbungkus? Diketahui harga pokok paku Rp. 16.000 per kg. Saya sulit menemukan referencenya dalam memori matematika sekolahan. Setelah berapa kali hitung, salah, dan coba lagi; saya temukan sendiri rumusnya adalah 1.200 dibagi 16.000 dikali 1000 (gram) = 75 gram.-
. . . Saya pernah bodoh dan linglung dengan pelajaran fisika di SMA. Sekali waktu (25 tahun kemudian, jadi sekarang) saya cari dan bongkar buku fisika ( Energi Gelombang dan Medan I ) lalu saya kuliti lembar per lembar dari halaman pertama uraiannya. Baru halaman ke sepuluh dan seterusnya, logika saya sudah buntu dan bebal. Saya lalu terpikir; sekarang saja bodoh begini, apalagi waktu itu.
. . . Terus, di mana saya bisa menemukan tehnik mekanika dan kinetika gerak yang bisa membuat pintu kios terbuka dan tertutup sendiri. Karena membutuhkan kemudahan dan kepraktisan, kios saya mendapat julukan “warung pintu ajaib”.- Hanya dengan satu sentak tarikan senar pintunya terbuka, dan tarikan yang lain bisa membuatnya tertutup (terkunci otomat).
. . . Sementara di ruang belakang berdentang bunyi blek memberi tanda(alarm control) kios pintunya dalam keadaan terbuka, dan berhenti ketika tertutup. Dengan begitu bakal tahu kalau kios lupa ditutup pintunya karena kalau pembeli sepi saya suka ada di ruang belakang dengan kreasi kesibukan lain.
. . . Ada banyak. Namun sekali lagi, banyak memang orang sudah bisa berharap lebih dari sekolah. Pangkat, jabatan, dan prestise, serta gaji yang berlipat bisa diraih asalkan bisa sekolah lebih tinggi. Tetapi ada banyak juga mereka yang tidak menemukan dunianya di sana. Sia-sia mencari dan hampir tidak pernah saya berpapasan dengan rumus-rumus dan dialektika pengetahuan yang terlalu teoritis di tengah jalan kehidupan dan realitas persoalannya.
. . . Akar, pangkat, dan rumus-rumus phitaghoras itu bermanfaat. Namun sejauh mana itu bisa dibuat terasakan manfaatnya, aplikasinya, dan bahkan cuma bersentuhan sedikit dengan realitas hidup di sekitar mereka(anak didik).
. . . Belajar bahasa asing (inggris) itu perlu, sampai digalakkan penguasaannya ke tingkat SD dan TK. Hanya, kapan kita sudah berhasil membelajarkan bahasa kita dengan santun dan baik di tengah keterasingan sesama anak-anak bangsa, yang jauh dari saling pengertian dan pemahaman.
. . . Belajar iptek dengan semua perangkat keras dan lunaknya itu juga perlu dan jangan sampai ketinggalan. Tapi kapan kita dengan cerdas menemukan hardware dan software social budaya yang manusiawi dan bermartabat. Ketika untuk mencari sekolah murah (hardware budaya) banyak orang sudah tidak mampu lagi. Dan untuk mencari kemudahan interaksi social (software social ) orang harus berhadapan dengan sikap stagnan dan stigma:
“sesuatu kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”.
. . . Kalau belum bisa beranjak sedikit saja dari kondisi tersebut, sayang sekali. Lalu untuk apa dan siapa kita pernah sekolah?
(Rahman Wahyu), lengkapnya:
https://rahmanwahyu.wordpress.com/2010/10/01/315/
############################################

16). KANG GURU TEGUH SASMITO :
Februari 23, 2011 pukul 5:20 pm |
Sangat setuju untuk catatannya Pak. Tetapi saya tidak setuju kalau tugas guru adalah menjadikan anak pintar. Kalau sudah bicara pintar berarti sudah menyangkut motorik siswa.
Ketika guru mengajar, kemudian siswa ditanya dan bisa menjawab, maka tugas guru selesai karena apa yang disampaikan sudah bisa dterima.

Ketika guru melakukan evaluasi (ulangan) lalu siswa tidak bisa menjawab, tentu jangan menyalahkan guru. Sebab disini keterlibatan siswa lebih dominan, siswa yang selalu mengulang materi yang disampaikan guru pasti akan terus ingat, sementara siswa yang hanya mengerti saat diajar dan kemudian tidak mau mengulang kembali, tentu saja tidak bisa. Jadi ada faktor lupa di sini.
Sungguh mulia dan luar biasa apabila bapak/ibu guru selalu mengulang-ulang materi yang telah diberikan agar siswa selalu ingat, sungguh enak sebenarnya bila ujian telah diberikan kisi-kisi, kemudian bapak ibu guru memberikan contoh soal yang sesuai dengan indikator agar ujian nasional berhasil.
Lalu tiba saatnya anak tidak lulus, guru masih disalahkan ? Saya kok tidak yakin ada guru yang seenaknya saja membiarkan siswanya untuk menghadapi ujian nasional.
Yang jelas siswa pasti lupa….dan tidak mau latihan hingga berakibat jawabannya salah.
Jadi guru tidak perlu bangga kalau ada siswanya pintar, karena memang dia pintar. Beda halnya kalau satu kelas yang inputnya 3 dan keluar dengan ouput 9 semua misalnya, itu pasti gurunya.Tapi kalau inputnya 9 dan keluar outputnya juga 9, apa yang dibanggakan, dimana letak keberhasilannya ?
Oke, berikutnya…
Kelihatannya bapak sudah bisa menemukan jawaban sendiri untuk menjawab berat paku, jadi itulah manfaat kita dulu belajar, hingga akhirnya bisa menemukan sesuatu yang baru. Saya yakin bapak menemukan itu pasti dengan coba-coba juga, seperti yang dilakukan oleh para penemu rumus phytagoras dan yang lainnya.
Begitu pula ketika bapak membuka-buka buku fisika kemudian merasa bodoh, itupun hasil dari belajar. Orang yang tidak pernah belajar jelas tidak akan pernah merasa dirinya bodoh, karena biasanya yang dilakukan selalu bersifat monoton dan rutinitas sehingga tidak pernah menemukan sesuatu yang baru yang harus dipecahkan.
Adapun untuk apa dan untuk siapa kita pernah sekolah, mohon maaf ini jawaban saya yangn mungkin tidak benar;
Untuk apa kita pernah sekolah : tentu untuk ibadah, karena orang pintar tidak harus sekolah, asal ada sarana untuk belajar pasti bisa pintar.
Ketika saya beragkat mengajar, saya pakai kendaraan. Ketika sampai di sekolah dan masuk kelas saya hanya butuh kapur, papan tulis, dan penghapus dan tidak butuh kendaraan itu, maka saya tinggal di luar sekolah.Ketika saya harus pulang, maka baru saya membutuhkannya kebali.Kendaraan itu sangat berjasa pada saya karena bisa mengantarkan saya ke sekolah.
Tetapi saat saya harus jadi tukang ojek, maka saya membutuhkan kendaraan itu selalu di samping saya kapan saja, karena itulah satu-satunya yang bisa memberikan saya penghasilan. Namun suatu saat saya juga butuh kapur, papan tulis kecil, dan penghapus, saat anak saya yang kecil minta diajari menulis.
Jadi saya pikir apapun yang pernah kita pelajari suatu saat pasti akan ada manfaatnya tergantung koonteksnya tentu saja.
Untuk siapa kita Sekolah ?
Tentu untuk anak cucu kita, untuk generasi kita.
Salam dari pekalongan.
############################

17. RAHMAN WAHYU :
Februari 25, 2011 pukul 1:58 pm |
Salam !
Maaf, karena satu kesibukan; baru sempat merespon tanggapan Pak Teguh sekarang.
Wah, jadi enak membaca tulisannya. Senang bisa kembali melanjutkan diskusi kita.
Saya baru tahu kalau guru tidak bertugas menjadikan muridnya pintar.
Terus evaluasi(ulangan) menurut saya sesungguhnya adalah kesempatan bagi guru mengetahui sejauhmana siswa menguasai termasuk ingat dan hapal dengan apa yang diajarkannya.
Kalau faktanya lebih banyak siswa tidak berhasil, bukankah dengan begitu seorang guru mengetahui bahan ajar tersebut tidak menyentuh minat siswa untuk mempelajarinya.
Banyak memang yang jadi faktor penyebab: suasana kelas, mood siswa, metode yang dipakai, kemampuan dan cara guru mengajar, dll; sampai ke inti diskusi kita: sejauhmana relevansi dan manfaat topik ajar itu menyentuh relung kebutuhan belajar siswa.
Soal mengulang-ngulang materi ajar, saya sependapat sejauh apa yang perlu diulang itu demikian penting. Tapi kalau sudah dipahami, mengulangnya hanya tinggal semacam penyegaran.
Tapi bedakan seorang murid menghapal dan mengulang-ulang hanya sekedar menjawab soal ulangan, bukankah belajarnya hanya semata ‘jadi-jadian’?
Begitu pula jadinya murid belajar setengah mati demi berhasil dalam ujian nasional. Berarti hanya sampai dengan ujian nasional. Setelah itu?
Kalau tidak lulus, siswa menyesalnya luar biasa karena tidak berhasil mati-matian belajar demi jawaban lembar UN. Juga sesal tidak mendapatkan ‘cara’ diselamatkan dari ketidaklulusan tersebut.
Kalau lulus? Wah girangnya minta ampun, karena belajar atau dengan ‘cara’nya bisa lulus tadi bisa lolos dari lubang jarum otoritas “evaluasi harga mati” UN. Tidakkah kita sadari sebagian dari kegirangan tadi menyiratkan UN telah mengelabui makna dan esensi belajar yang sebenar-benarnya belajar.
Soal saya menemukan jawaban dari berat paku yang dimaksud, justru saya tidak mengambil referencenya dari sekian banyak rumus dan teori hitungan yang memang saya tidak pahami di masa belajar di sekolah.
Tentang kebodohan saya dengan buku fisika yang coba saya kuliti di masa setelah saya sudah agak lebih baik daya cerna nalar dan logika saya, hanya soal coba menyimpulkan. Betapa beralasannya saya tidak memahami waktu itu.
Lagi-lagi apa yang jadi reference, tehnik mekanika gerak ‘pintu ajaib’ itu lahir dari semacam usaha coba mencari kemudahan dan kepraktisan hidup. Tak sedikitpun mengandalkan sudut percepatan gradien variabel pangkat akar x fungsi sinus cotangens dan lain sebagainya ‘
Maaf, saya tidak bermaksud takabur dengan ‘tanpa’ tersebut diatas.
Boleh saya buktikan? Lha wong saya tidak mengerti sama sekali apa yang saya sebutkan itu, mengetahui maknanya, terlebih bisa menerapkannya dalam praktek kreativitas saya.
O ya, sebagai penutup saya seperti bisa menarik kesimpulan dari sudut pandang kita yang berbeda.
Bapak mungkin datang dengan segenap ‘pembenaran’ kebaikan sistim yang tengah bapak lakoni, begitu juga saya hadir di sini dengan coba memperkenalkan ‘pembenaran’ yang sementara ini saya anggap benar dengan segala alasannya.
Dalam diskusi ini kita tidak harus ‘bersiteru’ dengan pembenaran itu. Kita hanya coba terus mencari kebenaran atau sesuatu yang lebih baik dan beralasan, tidak soal datangnya dari siapa; apakah itu dari saya, bapak, atau dari orang lain yang pikirannya lebih baik dari apa yang tengah kita gelar di sini.
Senang bisa berdiskusi dengan bapak, saya perlu mengatakan itu. Karena itu yang saya dapatkan dari apa yang saya tidak dapatkan di sekolah.
Salam pencerahan.
Rahman Wahyu
NB: Saya minta izinnya mengcopypaste semua tutur diskusi kita di sini untuk jadi bahan postingan di lapak saya. Biar isi blog saya bertambah dan semarak dengan wacana bersama bapak yang santun, bijak nan cerdas. Juga sebagai cara menyusun alur diskusi kita secara kronolog.
Tentunya tidak sampai merubah isinya sama sekali, kecuali menyisipkan ‘enter’(baris baru) untuk kalimat yang panjang. Bagaimana?

################################
18). KANG GURU TEGUH SASMITO
Salam kembali Pak,
Mohon maaf bila dalam diskusi ini ada tutur kata saya yang mungkin kurang berkenan, saya tidak bermaksud untuk itu. demikian pula jika ternyata dalam diskusi ini tidak terdapat kesepakatan pandangan. Karena apapun argumen yang kita sampaikan masing-masing punya alasan sendiri, untuk itu saya berharap bapak berkenan menjadi sahabat bloger saya. Saya juga tidak pernah merasa pendapat saya adalah benar, apalagi meminta orang lain untuk sependapat dengan saya.
Akhirnya kalau boleh saya ingin mengutarakan uneg-uneg saya yaitu 3S ( tiga Stop) dan 3I (tiga Ingat).

3S (tiga Stop)
1. Stop ! jangan menyalahkan guru, bila tidak pernah menjadi guru !
2. Stop ! Jangan pernah merasa bangga siswanya pintar, bila selama jadi guru hanya mengajar di sekolah favorit dengan input siswa tinggi.
3. Stop ! Jangan pernah merasa berhasil siswanya lulus semua, kalau masih ada yang ikut bimbingan belajar di luar.

3I (tiga ingat)
1. Ingat ! siapapun kita pernah belajar, pernah sekolah, pernah menuntut ilmu, siapa yang mengajari ? Pastilah Guru !
2. Ingat ! Jangan pernah merasa berhasil membimbing siswa menjadi juara, karena sesungguhnya yang juara adalah siswa itu sendiri.
3. Ingat ! Jangan terlena dengan semobayan “guru Pahlawan tanpa tanda jasa”, Tetapi bersama-sama berjuanglah dengan ikhlas dan profesional agar jasa yang kita berikan layak dihargai sebagai pahlawan !
Terima kasih, Sekali lagi mohon maaf,…Salam dari koita batik pekalongan.
#################################

19). RAHMAN WAHYU :
Salam sejahtera, Pak Teguh,
Sama-sama, saya juga minta maaf bila keseringan datang dan merepotkan bapak.
Soal bisa tidak sepakat itu hal yang biasa dalam mencoba cari kesesuaian pemikiran. Kita hanya tidak harus berbeda, atau sekali berbeda – berbeda terus.
Kita dari dua komunitas yang bermaksud saling melengkapi. Saling menyampaikan pikiran dan pandangan. Lebih dari itu tak terelakkan bagi kita kalau sudah dengan menilai dan mengoreksi. Rasanya itu sah-sah saja, sepanjang tidak sampai mendikte atau menggurui bahkan sampai memaksakan kehendak satu terhadap yang lain.
Argumen yang ada bisa kita kembangkan terus. Siapa tahu di tengah jalan bisa ketemu itu juga bukan harus dihindari hanya karena kita mau solid dengan perbedaan. Setuju dengan argumen orang lain dan menyadari ada kelemahan dari argumen kita, itu bukan berarti kita tidak punya pendirian. Atau lari dari diri sendiri yang sedianya mau “menjadi diri sendiri”.
Kita selama ini telah diajar dan dihajar oleh tradisi keharusan belajar mempertahankan pendapat, pendirian, tesis, makalah, dalam forum-forum akademik, terlebih politik. Apa yang mau dipertahankan kalau terkadang diam-diam kita sebenarnya sedang mengakui kebenaran argumentasi ‘lawan’ diskusi, dan menyadari pendapat kita salah. Kita hanya tidak nyaman kalau sampai mengakui hal itu, bukan?
Pernahkah kita diajar bertemu pendapat, atau bagaimana caranya mengakui kebenaran yang datang dari pihak lain tanpa membuat diri kita terkalahkan dan pihak lain menepuk dada. Jadi tidak harus dalam posisi menang dan kalah.
Nah, pendidikan bagi saya seyogyanya berperan menjembatani ‘perbedaan’ ini. Kita perlu mengedepankan pendidikan humaniora untuk meretas jalan saling memahami dan menerima dalam perbedaan menuju satu kesamaan, yaitu mencari pikiran dan cara yang terbaik dan terus lebih baik. Andaikan ini jalan, pendidikan akan menjadi ajang pencerahan bagi banyak orang
Ah, sepertinya saya lagi mengigau ya Pak Teguh?
Saya sangat terkesan dengan uneg-uneg “tiga S dan tiga I” nya.
Terlebih dengan tiga S pertama, membuat saya tersentak: apakah saya yang dimaksud. Saya belum pernah jadi guru selain pernah PKL mengajar karena syarat mendapatkan akta mengajar dari kuliah.
Lalu apakah saya tidak boleh menyalahkan guru?
Rasanya sedari awal saya tidak sampai menyalahkan guru dalam dialektika persoalan ini.
Bagi saya kenyataan tidak pernah salah, secara kausalitas. Kalau sampai guru tidak bisa kita salahkan, itu karena persoalannya tidak mulai dan berhenti pada mereka. Ada proses sebab akibat(kausal) yang harus kita pahami untuk mencari dan melihat secara jernih duduk persoalan ini.
Dan itu tidak bisa kita urai dan tuntaskan segampang membalikkan telapak tangan.
Seperti sekarang ini, tidak tuntas kita membahasnya seketika. Sekarang malam kian larut.
I ya kan Pak Teguh?
Senang berbicara dengan bapak, saya perlu mengatakan itu. Seperlu saya menyampaikan:
Selamat malam, Pak !
########################

20). KANG GURU TEGUH SASMITO
Februari 26, 2011 pukul 6:35 pm |
Malam juga Pak. Wah kalau bapak tersentak, itu pasti. Hanya dalam diskusi kita, kan tidak ada satu kalimatpun dari bapak yang menyalahkan guru, makanya saya berani menuliskan itu.
Lebih-lebih Bapak pernah kuliah guru, pernah PKL untuk menghadapi siswa, jadi tentu tidak beralasan bapak harus tersentak.
Saya hanya bermaksud ingin siapapun untuk menghargai jaya guru, khususnya guru yang pertama kali mengajarkan kita mengerti huruf a, b, c,…dan angka 1, 2,3,….atau guru yang pertama kali mengenalkan alif, ba, ta, ….dan seterusnya.
Sebesar apapun kita saat ini, sesukses apapun kita saat ini, dan sekaya apapun kita saat ini, kita bisa membaca a, b, c, 1, 2, 3 , alif, ba, ta, dst tentu dari seorang yang bernama guru.
Salam dari pekalongan.
#############################

21). RAHMAN WAHYU :
Februari 27, 2011 pukul 3:05 am
Hahaha, kita hanya sedang menyentakkan kesadaran kita yang terkadang ada di ambang bawah sadar. Koreksi orang lain justru diperlukan sebagai cermin buat dipakai mengaca kekurangan yang ada dalam diri kita.
Saya menghargai setiap orang(terutama guru) yang membuat saya bisa lebih baik dan makin berarti dari saat sebelumnya.
Kita hanya sedang mengoreksi sesuatu yang pengaruhnya bisa menentukan masa depan kita dan generasi sesudah kita dari kekurangan yang sekiranya bisa diperbaiki.
Ketika terjadi pergantian kebijakan, perbaikan kurikulum, peningkatan kwantitas dan kwalitas pengajaran, perbaikan nasib guru; bukankah itu berarti ada yang bisa kita ambil dari sebuah perubahan. Dan perubahan itu sebagian dihasilkan dari adanya kritik, saran, dan perbaikan. Manakala koreksi itu tidak cukup signifikan datangnya dari dalam (intern korps), tak ada salahnya kita berharap itu datang dari luar. Karena bagaimanapun kita semua adalah bagian dari tatanan pendidikan sebagai sebuah sistem.
Terima kasih atas nasehatnya.
Rasanya saya terlalu sering kelebihan bicara. Semoga tidak terlalu banyak yang salah dari bicara saya yang sebegitu banyak.
Maafkan saya, salam.

2 responses to this post.

  1. semoga sama-sama puas begitu juga kang teguh
    ………………….
    mohon maaf, mohon bantuan dan doa di
    http://bchree.wordpress.com/2011/03/09/mohon-do%E2%80%99a-dan-bantuannya/
    terima kasih

    Balas

  2. Saya harap begitu, sama-sama saling menerima dan mengerti sekalipun dalam perbedaan.
    Terima kasih telah singgah, kemarin saya sudah mampir ke lapaknya. Sudah belum ditanggapi komentar saya?
    Salam !

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s