RW 49. “Berikan Mereka Kesempatan Bermain”


Berikan mereka kesempatan

. . . Kalau kemarin saya mensyukuri Rei ada di Pesantren selagi melihat anak-anak teman sebayanya nakal, ugal tak karu-karuan, sekarang ini malah terbalik sedih, membayangkan dia tidak bisa bermain lepas layaknya anak-anak seusia dia. Itu ketika melihat tayangan TV 7 acara si Bolang. Ada sekumpulan anak-anak yang cerah ceria bermain sambil belajar di alam terbuka. Tawa lepas, sikap lepas, bermain serta belajar lepas mengiringi keseharian mereka.
. . . Mereka menapaki dan meniti jalan di pematang kehidupan kekanakannya sambil sesekali tercebur dan jatuh terjerembab didorong kenakalan teman-temannya. Itulah rona kehidupan di mana anak tuntas merampungkan tugas dari masa perkembangan hidupnya. Sedih rasanya membayangkan semua itu tidak benar benar lagi dinikmati oleh Rey anak saya.

. . . Di pesantren dia juga masih bisa bermain, di sela-sela belajar yang cukup padat. Terlebih sekarang ini sedang digodok persiapan menghadapi ujian nasional. Porsi bermain menjadi sangat langka, karena hidup keseharian telah diprogram oleh pemegang otoritas ‘kebaikan’ pesantren, dan didikte kedaulatan kurikulum pendidikan nasional.
. . . Menjadi seperti apa anak buah hati kami, sebagai orang tua tinggal mempercayakan harapan itu kepada kebijakan program pengasuh dan pimpinan pesantren. Sejauh ini kami percaya itu. Karena dari dalam pesantren itu anak kami sudah jauh berbeda lebih baik dari sewaktu pertama kali masuk ke situ. Antara lain dia dan teman-temannya sudah fasih berbahasa Arab, segampang mereka berkumur sehabis bersiwak.
. . . Lalu apa yang jadi soal? Sepertinya semua berjalan baik-baik saja. Itulah sedihnya. Sulit bagi kita menyayangkan kekurangan sesuatupadahal kepada hal tersebut kita sudah percaya dan berharap banyak dari situ.
. . . Tentunya sebagai sebuah saran, tidak ada salahnya kita menyampaikan rasa ini sebagai masukan. Siapa tahu bisa dipertimbangkan.
. . . Kalau boleh disarankan berikan waktu kepada para santri untuk bisa menikmati dunia mereka. Masa anak-anak adalah masa bermain, tentunya di samping belajar. Masa remaja, masa mencari jati diri, juga sekali-sekali bermain sambil belajar. Sehingga kelak setelah dewasa nanti mereka tidak terlalu bermain-main, bahkan mempermainkan tanggung jawab. Tanggung jawabnya sebagai tugas yang harus dia emban di masa itu.

Rahman Wahyu

6 responses to this post.

  1. ya, boleh disarankan ke pesantrennya dong oom, siapa tahu ditanggapi positif. omong2, anaknya kls brp oom?

    Balas

  2. Baiknya sebenarnya begitu. Cuman kadang sebuah saran sering diabaikan. Mungkin karena prinsip yang mau dikedepankan, ingin jadi “diri/pesantren” sendiri. Hahaha.
    Rei nya kelas tiga tsanawiyah/SMP.

    Balas

  3. Assalaamu’alaikum Wr.Wb saudara Rahman Wahyu…

    Sungguh berbeda sekali zaman kanak-kanak kita dengan anak2 sekarang. Zaman kita dulu (hehehe… kok sama zaman ya) seusai belajar tengah hari tidak ada lagi pembelajaran waktu petang, lalu setelah habis membuat kerja rumah yang boleh dibilang jari, terus aja bermain dengan kawan2 yang rata2nya adalah saudara sendiri.

    Jika hari2 tertentu wajib mengaji Qur’an, maka selepas mengaji Qur’an akan pergi bermain2 lagi. saya juga kasihan melihat anak2 sekarang yang belajarnya mengalah orang kerja di pejabat/kantor. awal pagi sudah ke sekolah hingga petang baru balik kerumah. betapa penat mereka dengan segala kurikulum yang rata2nya lebih bersifat duniawi.

    Sedangkan ilmu agama hanya sedikit sahaja yang dipelajari. hal seperti ini menunjukkan ruang pemikiran mereka dipenuhi dengan belajar, belajar dan belajar. Nikmat dunia kanak2 kian hari kian hilang. Bermain hanya sebentar di sekolah dalam kawasan yang kecil tidak sama dengan bermain di kampung, berlari keliling rumah dan jalan2 kampung, masuk hutan mencari buahan atau mandi manda di sungai.

    Sungguh zaman mengejar kemajuan dan moden ini banyak meragut keindahan alam kanak-kanak. Dulu kurikulum tidak banyak pun saya boleh berjaya sehingga tahap ini. saya bimbang, kerana tidak banyak bermain dengan alam semulajadi, akhirnya anak2 kita bermain games, menonton tivi dengan kerap dan kurang perhatian kepada nikmat alam kanak2 yang sebenarnya. mereka dewasa dalam alam kanak2. Semoga Allah melindungi anak2 kita dari hal2 yang memudharatkan di zaman moden penuh cabaran ini.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

    Balas

  4. Senang mendapatkan cerita masa silam kekanakan kita dari Mbak. Agaknya kita punya keprihatinan yang sama.
    Saya rindu dengan masa lalu yang lepas dan ceria lantas menyayangkan kalau anak-anak kita tidak sempat menikmati dunianya itu dengan tuntas.
    Belajar memang perlu, tapi apakah mereka memang benar-benar belajar atau dihajar dengan keharusan belajar yang tidak mereka nikmati?
    Saya pernah penikmat buku alias kutu buku. Saya suka dengan cerita dunia anak yang lepas, belajar dan selesaikan tugas kerjanya di rumah lalu bergandengan tangan dengan teman-teman sebayanya sekampung bercengkerama dan bermain bermesraan di alam bebas, diselingi usik dan usil teman, bergelayut di dahan pepohonan yang menjuntai lalu melompat, mencebur ke telaga yang sejuk dan basah di bawahnya.
    Di saat libur, ada anak kita di kota mencari kedamaian liburnya nuh jauh di desa, di lereng bukit, di pondok sejuk rumah paman/pakcik dan pakdenya. Berceloteh dengan suara ayam, itik, dan kambing yang dilepas dari kandang dan menggembalanya di hamparan padang rumput dan sawah yang baru selesai dipanen.
    Sayang ini tinggal mimpi, membayangkan itu kalau masih bisa dinikmati anak-anak kita di tengah trend jiwa yang urban.
    Kebanyakan dari kita kemajuan hidup adalah dari melangkah dari desa ke kota. Lalu lupakan semua yang pernah ada di sana.
    Sayang.

    Balas

  5. Salam kenal dari Nganjuk jatim. Permainan anak sekarang salah satunya adalah “blogwalking”, sedangkan di masa lalu “pethak umpet”. Anak sekarang belajar membuat robot, dimasa lalu main “jelangkung” atau “nini thowok”. Selamat sore semoga bahagia. Amin.

    Balas

    • Terima kasih telah mampir. Bermain diperlukan agar tidak sampai ada masa yang hilang dari perjalanan hidup mereka.
      Saya sulit berkomentar di ruangnya. Gimana ya caranya. Saya posting di sini saja, ya?
      Sayangnya apakah ini hanya bisa dilihat sebagai contoh saja, dan kita tidak bisa mencontohinya.
      “Mungkin kita tidak bisa terbang laiknya unggas di awan sana, kecuali angan saja.
      Senang telah disinggahi oleh komentarnya.
      Slam kenal !”

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: