RW 42. SEBUAH KECELAKAAN SEBUAH PENGALAMAN BERHARGA


(Antara Pelajaran Dan Trauma)
Minggu pagi itu aku dan Rey melaju berekreasi dengan Honda Revo melintasi tebing gegunungan dan sepanjang pesisir pantai. Sebuah perjalanan yang ingin kunikmati bersamanya, setelah tiga pekan lebih baru mendapat kesempatan pulang, tumben lagi di hari Sabtu. Jadi Minggu paginya bisa berwisata, rehat sejenak dari kejenuhan belajar dan rutinitas hidup keseharian di pesantren.
Dengan laju rata-rata, tiba-tiba saja motor tergelincir di belokan sebuah tikungan tebing gunung, dan kami terjerembab mencium aspal. Tidak terlalu parah memang, tapi kepanikan singgah beberapa lama. Rey mukanya lecet memar, dan dari luka di pergelangan tangan mengucur darah tak henti-hentinya. Muka anakku itu pucat pasi, dan berulangkali beristigfar campur rasa tak percaya.

Beruntung di tempat kejadian itu ada beberapa orang pekerja sedang memancang batas pengaman jalur tebing jurang. Mereka dengan spontan menolong kami yang lagi sock tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan salah seorang pakai sembilu di tangan dengan sigap dan ikhlasnya mencabik baju kaos yang dikenakannya untuk membebat lengan Rey yang terus berdarah-darah.
Kami disarankan segera mencari pertolongan medis terdekat. Dengan dipandu dua orang bermotor, aku memboncengi Rey membuntuti mereka dari belakang. Mujur Revonya masih bisa dipakai usai dari insident itu, dan aku sendiri hanya kebagian luka-luka ringan. Di sebuah Puskesmas Kota kecamatan kami beroleh pertolongan medis seperlunya. Dan beberapa saat kemudian sudah bisa pulang, disertai nasehat agar berhati-hati di sepanjang perjalanan pulang yang rawan dengan banyak tanjakan, turunan, dan tikungan tajam.
Merunut kilas balik kejadian itu, aku menjadikannya sebagai pelajaran berharga dalam wacana kami selama perjalanan pulang. Di awal perjalanan tadi, kerap sudah aku mencolek Rey untuk berhati-hati di setiap belokan dengan mengurangi kecepatan sebentar. Isyarat itu lebih banyak tidak digubrisnya. Dalam perjalanan itu Rey memang yang menyetir Revonya karena ingin memberi dia kesempatan trampil berkendara.
Mungkin karena merasa pede dan tidak pernah mengalami apa itu namanya celaka, kesadaran itu tidak bisa kupaksakan secara instant(cepat). Jadi dengan insident kecelakaan itu, bisa menjadi pelajaran berharga; tidak hanya bagi dia, bagiku juga, serta kakaknya Ical yang punya tipe masalah berkendara yang sama.
Hanya mengurangi sebentar kecepatan rata-rata dalam setiap rintangan, baik itu tikungan, kelokan, jalan bebatuan dan berlubang serta setiap berpapasan dengan kendaraan berat yang sedang melaju; maka kita akan diselamatkan.
Begitu pula dalam mengakselerasi kecepatan maksimal sebaiknya bisa mengantisipasi setiap kemungkinan yang bisa terjadi’ Seperti ban selip, di depan ada yang tiba-tiba menyeberang dan kenderaan belok seketika, atau jebakan salip yang tak terperhitungkan.
Lalu kutunjukan ke Rey, yang sedari tadi mulai manut dengan nasehatku; panel speedmotor. Dengan kecepatan aman sekian km/jam, toh kita hanya akan berbeda beberapa menit-jam lebih lambat tiba dari mereka yang melaju karena mau mengejar waktu. Dan beda waktu itu bisa digunakan menikmati perjalanan yang rencananya memang dipakai untuk berwisata.
Begitu pula, tidak perlu menyesali takdir. Sebenarnya, kalau mau diperpanjang ceritanya; perjalanan tadi sudah jauh melampaui tujuan kami semula, yakni pesiar ke tempat wisata pemandian pantai, di mana dekat situ tinggal teman sekelas pesantren Rey. Coba saja kalau kami sesekali mampir bertanya kepada orang2 yang kami temui di sepanjang jalan tentang alamat tersebut, tentunya tidak bakal tersesat sejauh beberapa puluh kilometer ke depan. Dan kecelakaan itu tidak sampai terjadi, karena bukankah kami tidak akan sampai ke tikungan berbahaya itu, yang menurut cerita orang orang di Puskesmas, beberapa waktu sebelumnya juga telah menelan korban meninggal. Kejadiannya persis di tempat itu.
Saya coba mendiskusikan hikmah pelajaran bagian ini sesaat setelah sampai di rumah. Ibunya anak-anak dari sempat sock berat menampaki diri Rey, tak terelakkan menyesalkan kenapa perjalanan sudah sejauh itu. Menurutku, kami mengalami kecelakaan bukan semata-mata karena sudah sampai di tempat kejadian itu, lebih dikarenakan Rey tidak mampu mengendalikan kecepatan di setiap belokan, dan belajar menahan diri mengurangi kecepatan lebih dari batas yang diperlukan.
Boleh jadi kami tidak celaka di tempat itu, tapi setelahnya di waktu dan tempat lain dengan sebab modal kesadaran berkendara yang belum muncul. Bahkan bisa lebih tragis. Karena menilik keadaan akibat kejadian itu, kami bersyukur masih diberikan cobaan yang terukur oleh Yang Maha Kuasa. Coba kurang dari kadar luka seperti itu, mungkin Rey cuma akan merasa kebal dan meyepelekan kejadian itu. Atau lebih parah dari itu, sudah akan membuat kami trauma menyesal berkepanjangan.
Akhirul kalam, sebuah pengalaman bisa menjadi pelajaran berharga. Tapi sebaiknya tidak harus pengalaman sendiri, kejadian yang menimpa orang lain seyogyanya bisa menjadi pelajaran bagi kita. Sayang ironisnya, kalau kuingat tadi dalam perjalanan pulang itu, selagi memberikan wejangan , tak sadar aku sesekali sudah melaju dengan cepat, gantian Rey dari belakang mencolekku. Yah, kita ternyata sudah harus saling mengingatkan. Kita coba kenali teori ini: kita yang diboncengi(di belakang) biasanya merasa kecepatan berkendara sudah lebih dari yang diperlukan, ketimbang yang menyetir, merasa kecepatan yang dilakoninya biasa-biasa saja.
By : Rahman Wahyu Gtlo, Senin 7 Juni 2010.
Catatan kecil : Perspektif ini cuma semacam nasehat untuk diri dan sanak keluarga sendiri. Malu diri ini yang baru belajar bermotor menasehati anda yang sudah mahir ngebut dan selamat dari setiap rintangan berkendara.

2 responses to this post.

  1. Hai Om rahman.. Apa kabar nih?

    Thanks sharenya, emg bener hal tersebut bisa jd sebuah pengalaman yg luar biasa. Terkadang manusia juga br sadar setelah dpt pengalaman walaupun ada jg yg gak bisa sadar..

    keep blooging

    Balas

  2. Trims atas komentarnya. Manusia baru sadar setelah berlalu dari sebuah insident. Sayangnya lama setelah itu kambuh lagi penyakit lupa dirinya.
    Salam : Manusia Bisa salah (MBS)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: