RW 41. Tips Perspektif: SAHABAT KOMUNIKASI SETIAP ORANG


. . .Pernahkah kita merasa kesulitan menjelaskan sesuatu pada seseorang, lalu orang lain sudah akan berkata: “Wah, seumur hidupku baru dia orang yang tidak sampai mengerti urusan sepele ini”. Tinggal kita tunggu saja dia akan menggerutu: “Wah, gobloknya minta ampun !”
. . .Pada satu ketika aku coba memahami kesulitan ini secara humanis. Kukira ada dua sisi cursor (status penerimaan) yang relatif bisa bergeser mencapai titik kompromi; dan sebuah komunikasi minimal berhasil.

. . .Andai kita seorang komunikator yang baik, human, dan punya pengetahuan yang cukup tentang sesuatu, betapa sanggup membuat seseorang se’goblok’ apa, bisa memahami sesuatu yang kita jelaskan. Artinya: kita dengan skala kemampuan memahamkan yang sangat baik mendekati cursor seseorang yang jauh kemampuan memahaminya.
. . .Atau kita cuma punya kemampuan komunikasi seadanya, tapi orang lain yang kita ajak bicara bahkan sudah tahu apa yang kita pikir, sebelum kita mengucapkannya (hehehe hebat dia, kita yang rada-rada bloon). Masih perlu dijelaskan skalanya? Kita yang jauh dari kemampuan bisa mengkomunikasikan sesuatu; lawan bicara kita, cursor kemampuan memahaminya mendekati kita.
. . .Lebih komunikatif lagi (ideal), baik kita penyampai pesan dan lawan kita sebagai penerima bisa dalam posisi dan kemampuan saling memahami yang lebih baik, maka sebutan yang tepat, kita dan dia bicaranya nyambung. Kalau ini skalanya ketemu di tengah, maunya sharing terus.
. . .Sempatkah kita berpikir: seandainya saja kita bisa jadi sahabat yang baik dalam setiap komunikasi. Mau lawan bicaranya pintar, sedang-sedang atau telmi (telat mikir) sekalian; kita bersedia menjadi orang yang terbaik yang bisa di ajak bicara.
. . .Jadi satu ketika orang lain sudah nerveus/putus asa tidak mampu membuat seseorang mengerti, kita coba saja berpikir: bukankah sebuah tantangan kalau orang lain sudah tidak bisa, kita mencoba dan bisa.
Bahkan ketika orang lain itu sudah ngacir dan menyisakan teriakan: Buaat kamuuu ajaaa!!! (ingat soundtrack iklan pembersih lantainya Ulfa).
. . .Ketika dia kembali, biarkan dia mati keheran ala dia, mendapati orang yang dikatakannya goblok itu masih bersama kita, sedang ngangguk-ngangguk senang karena telah memahami sesuatu dari kita.
. . .Sebuah prestasi diri yang manusiawi, bukan?
By : Rahman Wahyu Gtlo, 2 Juni 2010
Catatan: Cuman tips pribadi saja, dari cara pandang saya terhadap realitas komunikasi dalam keseharian.

2 responses to this post.

  1. kalo komunikasi sudaa terkontaminasi dengan ego, pasti susah “nyampe”nya.. meski posisi sama tinggi atau sama rendah, yang namanya ego itu nyebelin banget. hehehehe

    Balas

  2. Betul juga, tapi saya mengesampingkan faktor itu. Yang saya lihat bagaimana kemampuan seseorang bisa mengkomunikasikan sesuatu lalu orang lain mengerti dari karena caranya kita berusaha memahami dia.Trims telah berkunjung. Mana tanggapannya atas komentar saya di ruang situ

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: