RW 38. Persepsi * 9 : Terserah Mau Panggil Saya Om dan Pak atau Apa Saja


(Padahal Saya Cuma Meminta, Tak Lebih)

. . .Hidup ternyata tidak semau apa yang kita minta. Catatan kemarin “Jangan Dulu Panggil Saya Om Dan Pak”, tak urung menuai kritik dan canda. Padahal saya mintanya baik-baik dan dengan alasan searif mungkin. Apa ada yang kurang atau berlebihan.

. . .Komentar-komentar yang muncul mulai dari yang bandel, bercanda, ngaco, menyepelekan, tapi ada juga memberikan nasehat dan ‘petuah’. Coba dengar, untuk tulisan dan mintanya sesederhana itu muncul beberapa tanggapan seperti ini:

. . .”Maaf, pak. Saya orang bandel, jadi biar sudah dilarang saya tetap panggil pak saja buat pak Rahman.” (Komentar di Blog WordPress)

. . .”Panggil om dan pak saya pikir masih wajar, coba kalau dipanggil tante…”

. . .”Kadang hidup tak seindah yang kita harapkan. Jalani saja….”

. . .”Memang apa yang kita harapkan tidak selalu menjadi kenyataan, om, eh pak, eh salah lagi, mas maksudnya. Becande ya om, eh salah lagi…”

. . .”Asal tidak dipanggil mbah atau kakek. Kalau cuma om dan pak, wajar sekali. Adik saya masih sekolah, anak saya panggil om dianya. Dipanggil pak juga didoain biar cepat jadi bapak (kalau belum jadi bapak) atau didoain bersikap lebih deasa layaknya pak2 yang ideal…santai saja.”

. . .”Hidup jangan dibeken susah hanya untuk urusan panggilan dan mempersoalkan hal2 seperti itu…”(kira2 seperti itu, sahabat Hendra Beswan).

. . .Saya jadi perlu merujuk dan menyimak kembali apa sebenarnya yang barusan saya tulis itu. Apa ada yang salah atau kurang jelas? Mungkin perlu dibuat lebih gamblang. Dan itu sebagian telah saya ulas dalam tanggapan balik.

. . .Sejenak saya jadi tersenyum. Toh perbedaan sudut pandang selalu dan perlu ada, karena masing-masing dari kita hanya sedang menjalani peran kita masing-masing. Jadilah diri sendiri dari setiap persoalan. Saya dengan apa yang saya pikir dan sahabat blog dengan cara dan pikirannya. Bukankah kita hanya saling memberikan masukan.

. . .Jadi benar juga. Hidup ini dibuat santai saja. Saya sih maunya begitu. Tapi untuk hal-hal yang lebih dari setengah rius (jadi se, dua, tiga rius) saya perlu berpikir lebih jauh, jernih, matang dan lebih dewasa.

. . .Dan di situlah masalahnya. Ketika sikap, tindak tanduk, dan cara kita tidak menjangkau atau mensejajarkan diri dengan khayal, ide dan konsep kita apa yang seharusnya(normatif), kita mungkin hanya tahu diri, Terkadang muncul dalam bentuknya yang paling naïf, seperti sebuah permintaan kecil itu.

. . .Lagi pula saya tidak ingin dulu dipanggil om bukan karena tua-tua keladi, makin tua tidak tau diri. Perlu waktu sedikit, dan pelan2 berproses menjadi, kenapa sih?!

. . .Kalau cuma dipanggil om, bahkan opa oleh anak-anak sini dan anak dari keponakanku itu sih sudah biasa. Di forum sini saya jadi sungkan, yang manggil om dan pak orang2 cerdas dan berwawasan. Lha, saya jadi omnya orang-orang pintar, pada hal kemarin baru keluar dari batok tempurung. Lagi pula saya kan tidak kawin dengan tante-tante mereka. Hehehe.

. . .Alaah sudahlah. Mau manggil saya apa saja, silakan. Emang saya pikirin. Masih banyak pikir-pikir lain yang mau ditulis, kenapa muter-muter terus di sini.

. . .Jadi sekarang terserah, mau panggil saya om, bapak, mbah, eyang, kakek, dan, lain, sebagai, nya.

. . .Salam Persahabatan!

. . .By : Rahman Wahyu. Gtlo, rabu 12 mei 2010. pkl 21.30

NB : Mau muter sedikit, saya bayangkan keluwesan kita bertegur sapa seperti panggilan Kak untuk semua yang lebih tua, biar jabatan lebih tinggi di komunitas Saka Pramuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: