RW 37. Persepsi * 8 : Jangan Dulu Panggil Saya Om dan Pak


(Panggil Saja Saya Mas, Perak Atau Perunggu)

. . .Hidup kadang tidak seindah yang kita idamkan. Ada rasa minder dan tidak klop ketika kita dituntut dan ditempatkan berpikir, bersikap, dan berperilaku layaknya orang yang sudah matang(dewasa), kita justru merasa mentok dan mentah dalam banyak hal. Dipanggil Om dan Pak, saya merasa harus mempertanggungjawabkan sikap ketidakdewasaan, kekurangpengalaman dan ketidakkonsistenan saya selama dan sejauh ini.

. . .Ada masa yang hilang dalam realita hidup ini, tatkala apa yang baik-baik hanya sebatas angan, ide , dan konsep. Lalu pertanyaan itu muncul: ada di mana dan ke mana saya di masa itu. Akan saya jawab nanti dalam goresan tulisan-tulisan saya kemudian.
. . .Jangan panggil saya Om dan Pak. Panggil dulu saya: Mas, sembari mengejar ketertinggalan itu.
. . .Terserah kalau mau dipanggil perak atau perunggu, atau kalau ada yang lebih kurang dari itu. Becande hehehe. Kayak medali saja. Boleh juga, medali(status) bergilir dalam proses mencapai kedewasaan.
. . .Satunya pikiran, kata, dan perbuatan adalah sesuatu yang diharapkan (ideal). Kita hanya sedang berusaha menjadi seperti itu. Silakan yang lain lebih dulu dari saya.

Di ambil dari kompasiana
. . .By : Rahman Wahyu, gtlo,jum’at, 7 april 2010
. . .(Sebuah permintaan menjawab kemungkintidakmengertian dari beberapa sahabat blog)

8 responses to this post.

  1. Posted by hendra on Mei 10, 2010 at 12:58 pm

    Dari beberapa tulisan yg pernah saya lihat, sedikit banyaknya saya bnyk berpikir ttg arti sebuah tanggung jwab, apakah terdengar klise saat orang mencoba utk menghargai orang yg menurutnya dianggp sbg seorang bapak/om/kakak/maz/panggilan apa saja mengenai itu?? Saya pikir, kita jgn terlalu mempersoalkan hal-hal seperti itu sebab inilah yg menjadi pemicu sebuah hubungan seorang pertemanan atau persahabatan itu sendiri. Kontrakdiksi persoalan itu jgn dilingkari dgn sebuah skema berpikir abu-abu. Memang, saya akui tak lebihnya dari berbagai komentar saya (scr pribadi kmrn2 menyebut)mungkin tidak berpihak kepada seorang idealis sperti Mz Rahman ini. Saya mencoba menyeimbangkan antara idealisme dgn sebuah kenyataan yg ada. Kmrn2 (kalau gak salah), saya sudah mengatakan bahwa kita “alergi” dgn keadaan sprt itu, saya mafhum apa yg menjadi pikiran mz rahman kala itu….

    Kembali lagi (kemudian sejenak berpikir), hidup jgnlah dibikin susah. Siapa yg susah??Ya!! kita sendirilah, mau dikooptasi, mau dikamuflase sedemikian rupa, mau dikontradiksikan, atau apalah….sekali lg saya mengatakan sebuah pertanggungjwaban dlm soal pertemanan. Hargailah diri sendiri ya Mz Rahman dan tetap bersyukur punya teman2 sperti kita2 ini….hehehehe

    maaf, baru balaz ni…..
    keep spirit…
    salam blogger

    Balas

    • Tidak klise maz Hedra, asal kita sudah memperlakukan orang itu dengan sebutan yang terbaik, sudah lepas kewajiban etis kita setelah itu dia meminta kita untuk tidak terlalu menyanjungnya.Insident ini sudah biasa. Dan saya tidak terlalu mempersoalkan karena saya rasanya cuma meminta. Saya bukan juga orang yang terlalu idealis, di antara itu (pragmatis), kalau yang idealis terlalu muluk2 sementara yang realita bukan pula yang benar, kita hanya perlu mengambil jalan tengah, untuk kemudian terus memperbaiki kenyataan agar sesuai dengan ide kita. Das sein atau das sollen, saya lagi pangling dengan istilah itu, perlu cari kamusnya. Saya memang besyukur punya teman-teman seperti maz, terlebih mas memintanya.Maaf kalau pikiran kita kadang tidak sejalan, toh kita tetap menghargai perbedaan itu, walaupun lama baru bersua.
      Ok, terlalu sayang membuat tanggapan yang luas terhadap komentar mas yang tumben, sekalian saja saya angkat dalam forum kompasiana. Silakan berkunjung ke situ:
      http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/12/terserah-mau-panggil-saya-om-dan-pak-atau-apa-saja/

      Balas

  2. maaf pak, saya orang bandel.. jadi biar sudah dilarang, saya tetap panggil pak saja buat pak rahman, he3x…

    Balas

  3. Bagi orang timur memanggil nama orang dengan didahului sebutan apakah mas, bang, bung, kang, mbak, teteh, uda, adik, kak, nak, pak, bu dsb. merupakan etika yg sangat baik sebagai ungkapan rasa hormat, tidak lantas harus menanggung beban tanggung jawab. Tapi yang jelas, menurut penelitian secara phsikologis tiap manusia, tanpa kecuali anak anak, remaja, orang dewasa, orang tua dan kakek-kakek memiliki 3 karakter/sifat yang kadang muncul. Namun ada yg karekternya memang mendominasi orang tsb.
    1. Karakter anak anak. Ekpresinya menangis, ngambek, berteriak, cengengesan, tertawa,cemberut dan sejenisnya.
    2. Karakter orang dewasa. Ekpresinya, bertanya, selalu ingin tahu, bereksperimen
    gak pernah puas dsb.
    3. Karakter orang tua. Ekpresinya, memberi nasehat, melarang, mengarahkan, melerai, melindungi dll.

    Nah, sekarang lihat dan rasakan sendiri. Meskipun kita sudah tua bangka, sifat anak kecil masih suka dipertontonkan. Contohnya, mbuat artikel cengengesan, gak serius yg penting tujuannya happy, orang orang pada tertawa. Yah….. setidaknya metertawa’i diri sendiri. Hwaha…ha…ha…. Tksh.

    Balas

  4. Terima kasih atas penilaian dan masukannya. Artikel saya tersebut memang cengengesan dan gak serius kalau lagi tidak dipahami substansinya. Cermati dulu maksudnya, juga tanggapan2 saya dengan komentar2 yang muncul, juga:
    http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/12/terserah-mau-panggil-saya-om-dan-pak-atau-apa-saja/
    Sekali lagi thanks atas perhatiannya. Salam !

    Balas

    • Menurut hemat saya, menyampaikan subtansi pesan, ide, gagasan, kritikan dan “familinya” tidak harus dalam format serius and formal yg malah cenderung kaku. Biarlah porsi tsb menjadi santapan maupun lahan para pakar beneran, pejabat, akademisi dkk diruang ruang yg serba
      “aduhai”. Kita, setidaknya saya mending berhappy-ria dengan format yg sedikit cengengesan, ngobrol “ndobos” di warung tegal, nulis dijalanan dan sejenisnya yg penting bermakna. Tentu bagi yg sefaham. Bukankah seorang dalang wayang kulit atau golek kalau menyampaikan pesan dan kritikan justru dalam kemasan cengangas-cengenges yg dimainkan oleh kelompok rakyat jelata tepat ditengah orang orang lagi terserang rasa kantuk yg teramat berat. Toh nyatanya event
      “goro-goro” tsb.lah yg sangat dinanti nantikan oleh khalayak penonton sekalian. Ini artinya apa? tolong jawab sendiri aja dulu ya !!! Tksh.-

      Balas

  5. Saya setuju, Anda seorang pengamat sosial yang baik.
    Saya masih perlu belajar banyak untuk bisa memahami jalan pikirannya.
    Terima kasih atas kunjungan baliknya. Apakah Anda punya alamat blog (wordpress) untuk bisa sowan dengan pikiran2nya yang lain? Salam!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: