RW 35. Persepsi * 6 : Anda(i) Pada Sebuah Sistem? (2)


. . .Kita lanjutkan topic diskusi terdahulu.
. . .Saya terkadang merenung, bila sesemrawut apa sebuah keadaan kita prihatinkan, bisa dan telah menjebloskan seseorang(kebanyakan) pada sebuah tindakan buruk, kita sering disodorkan dengan kalimat yang simple: “Ah itu sih tergantung pada kitanya bagaimana”. . . Maksudnya kembali pada pribadi ybs.
. . .Ada apa sih dengan kalimat itu? Saya bisa saja membalikkannya: Segoblok dan sejahat apa seseorang, kembali pada keadaan sebaik apa sebuah system lebih kuat mempengaruhi dia bisa menjadi baik.

. . .Saya ingat satu filem ‘Gadis Hitam Putih’. Dua bayi dari dua pasang orang tua yang kontras sifatnya(baik buruk) dipertukarkan suster di sebuah Rumah Sakit Bersalin. Jadilah keadaan orang tua keduanya membentuk watak anak2 tsb. Anak ‘sibaik’ diasuh orang tua pelacur dan peminum jadi binal, sementara anak ‘siburuk’ menjadi alim oleh pasangan orang tua yang baik2. Sampai suatu ketika kisah ini terbongkar, anak ‘sibaik’ yang terlanjur buruk oleh system orangtuanya mengatain anak yg satunya: seharusnya aku ada di situ (jadi baik), dan kamu ada di sini(jadi buruk)
. . .Saya ingat Rey(anak saya ke 3) harus saya selamatkan(pindah) ke pesantren; dan berubah 180 drjt hanya beberapa bulan oleh system lembaga tsb. Tiga hal kenapa : di SMP umum dia di kelas nakal, dia trauma dipalak anak preman di lingkungannya , ketiga; kondisi buruk bentukan rumah tangga yg sulit
. . .Saya sulit berharap tiga hal itu diserahkan kepd “ kembali pada pribadi masing2(Rey dan kami orang tua) untuk tetap bertahan dalam keadaan(sistem) buruk tsb. Ada kesadaran untuk mengukur mana yang masih bisa dirubah(diharapkan): diri sendiri atau lingkungan baru.
. . .Hanya tujuh bulan Rey digodok di Pesantren telah merubah dia dari anak penakut dan pemalu bisa berani ceramah di mesjid2 dalam acara :‘kultum terawih’ bulan ramadhan. Sebulan kemudian berubah menjadi kebanyakan anak2 oleh dampak buruk facebook, game PS II, dan pengaruh ‘apa adanya’ lingkungan, sebelum(Alhamdullilah) kembali ke pesantren.

Di ambil dari Kompasiana
. . By: Rahman Wahyu (Diambil dari komentar saya diblog sahabat: http://blog.beswandjarum.com/hendra/dialektika-hukum-berdasarkan-nurani-dan-etikanya/

One response to this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: