31-Opini * 3 : BERHARAP PADA SIAPA?


BERHARAP PADA SIAPA?
Di negeri carut marut dengan hiruk pikuk berbagai persoalan ini, apa lagi yang masih bisa diharap? Hampir di setiap institusi tak luput dari riak perkara yang bermuara pada dilanggarnya norma-norma hukum. Riak itu antara lain ada pada institusi pendidikan, lembaga perbankan, perpajakan , kepolisian, kejaksaan, KPK,DPR dan DPRDnya, Presiden dan kementeriannya .

Lebih memprihatinkan, terjadinya pelanggaran hukum bukan lagi sebatas ulah oknum, atau tidak cuma kasuistik sifatnya. Tapi sudah menyentuh level kebijakan institusi. Atau boleh dikatakan sudah sistemik penyimpangannya. Kita ambil contoh kasus Century yang membuka borok lembaga perbankan dengan Bank Indonesia sebagai biang sistemiknya. Di kepolisian muncul Susno Duaji, pendekar yang membabakbelurkan citra institusinya dengan membeberkan dugaan penyimpangan yang dilakukan beberapa petinggi Kepolisian. Diperpajakan heboh dengan perkara Gayus Tambunan yang mampu mendiskreditkan lembaga ini sampai pada tingkat ketidakpercayaan yang memunculkan himbauan untuk tidak membayar pajak.
Catatan ini bisa diperpanjang atau ditambah dengan kasus-kasus di berbagai institusi lain. Kesemuanya menghentakkan kesadaran berbangsa kita: kepada siapa kita masih bisa berharap? Kalau kepolisian saja mempolisikan polisinya, perpajakan ‘memajak’ pajak yang dibayar wajib pajaknya, DPR memfinalkan fungsi legislasi hanya sampai di rapat paripurnanya, perbankan menciderai likwiditasnya.
Kalau sudah begini, masih ada harapankah kita berharap?
By : Rahman Wahyu – Gtlo, 16 April 2010
(Di copy ambil dari Kompasiana, oleh : Rahman Wahyu /Kompasianar)

3 responses to this post.

  1. Posted by hendra on April 21, 2010 at 6:04 pm

    Memang susah ketika harus berhadapan dgn situasi yg namanya distrust (ketidakpercayaan). Ya, ketidakpercayaan publik umumnya akan institusi2/lembaga yg ada sekarang. Sebuah ironi yg sgt miris. Lalu buat apa ada negara ini? untuk apa? Tidak adakah secercah harapanpun?? Bagaimana masa depan bangsa ini ke depan? Negara ini bukan cuma milik pemerintah, pejabat2, kaum elitis dan kaum borjuasi tapi juga milik masyarakat marginal/proletar. Tanya Mengapa?? antara das sollen dengan das sein selalu ada disparitas. Jangan selamanya kita cuma menjadi “anak bawang”, berani menentang&mengkritik tanpa ada tindakan nyata, sekecil apapun bagi saya pribadi akan memberikan kontribusi yg berarti utk bangsa ini. Mulailah mengenalkan demokrasi kepada anak cucu kita sejak dini….Semoga

    Balas

  2. Sudah sulit berharap pada siapa pun di negeri carut marut ini. Semua lembaga harapan telah tercemar virus ketidakberesan.

    Balas

  3. sulit bukan berarti tidak bisa lho om (maaf ya saya panggil om, habisnya sy bingung mw manggil apa). diantara berupa macam kebobrokan itu, masa ndak ada sama sekali yang bersih sih? paling nggak sedikit lah. nah, sm yg sedikit itu kita berharap. paling tidak kita berharap sm Yang Di Atas biar nasib negeri ini bisa diubah.

    habis baca artikel ini saya jadi pengin bagi2 link nih om:

    http://ronnyfauzi.wordpress.com/2010/04/29/korupsi-dan-ikan-ikan-di-danau/

    http://ronnyfauzi.wordpress.com/2010/05/05/menyebarkan-semangat-nasional-is-me/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: