28-Surat Untuk Sahabat * 3


Dear Mz Hendra.
Kalau belajar di sekolah tidak lebih sebagai bak tampungan; apa tidak bakal tumpah ruah dan mubazir? Lalu satu masa dari hidup kita disia-siakan di dan oleh sekolah dengan ‘caranya’.
Hasilnya apa kalau setelah di bangku kuliah ekspresinya cuma tawuran sesama mahasiswa, bentrok dengan polisi, sampai tarungan dengan masyarakat yang dirugikan haknya di jalan. Kalau pendidikan sebagai sarana belajar untuk mencari solusi, faktanya kenapa lain.

Bicara (a.l) matematika, saya prihatin dengan eksistensinya pada murid SD, SMP, SMA> Kalau dikuliahan, mereka sebagian sudah dekat dengan manfaatnya. Terutama bagi yang ambil jurusan keguruan matematika, karena akan jadi guru dan mendapatkan gaji dan sertifikasi dari situ, selanjutnya akan membuat ‘lingkaran setan’ yang sama kepada murid2nya.
Juga mahasiswa tehnik sipil, karena rumus sinus, secan, dan tangens trigonometrinya bakal segera diterapkan dalam kenyataan profesinya. Itu juga kalau menunggu lapangan kerja yang tepat. Bila tidak?
Saya tidak anti matematika(sekolah) dengan begitu (baca: Apa Yang Saya Dapat Dari Sekolah). Kalau matematika (juga pelajaran lain) sudah betul, seharusnya anak merasa tertarik dan tersentuh kebutuhan belajarnya. Namun kalau anaknya yang betul(tidak suka memang), pelajaran itulah yang dipertanyakan. Barangkali pendalamannya perlu dipraktisi, metodenya perlu dievaluasi, cara mengajarnya perlu dikritisi.
Boleh jadi faktornya bisa diluar itu. Politik pendidikan dan kebijakannya, latar belakang dan motivasi siswa, situasi dan kondisi lingkungan belajar. Tapi siapa yang harus bertanggungjawab dalam dan telah menghadirkan keadaan itu. Kita-kita saja yang punya otoritas kadang harus terpaku tidak berdaya dalam sistem seperti ini, apatah lagi sisiswa. Apakah harus terpulang kepada pribadi masing-masing? Pribadi siapa?
Sampai di situ dulu! Bagaimana?
NB: – Untuk alasan (panggilan om)nya saya bisa terima. Kadang saya lebih suka di ‘yunior’kan atau dianggap kurang supaya selalu ada usaha lebih untuk berbuat baik dan dewasa. Jadi kalau sudah dituakan dengan ‘om’nya, faktanya saya merasa kurang, bahkan dalam prakteknya kalah jauh tertinggal di belakang dengan semua teori dan konsep-konsepnya. Saya selalu merasa kurang dan masih perlu belajar banyak dari yang lain. Melihat kepintaran dan kedewasaan orang lain, kadang kala saya merasa bodoh dan kekanakan. Misalnya dibandingkan sama Hendra dengan pikiran2 akademiknya saya salut dan kurang pede (jadi kalau boleh turunkan sedikit tensinya). Ibaratnya saya ini merasa terperangkap dalam sosok ‘om’ di tengah ketidakdewasaan dalam prakteknya.
– Awas lho, diembel-embelin om, malah jadi segan dan kurang sreg(gaul) teman-teman pebloger lain bertandang ke blog gue. Hehehe

One response to this post.

  1. Posted by erni on Agustus 12, 2013 at 12:34 pm

    4D nya yaitu 6464 dan alhamdulillah berhasil..!!! Kini kehidupan kami sudah tidak seperti dulu lagi dan akhirnya saya juga sdh punya usaha sendiri dan bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HBG 085-241-426-755 ATAU /KLIK http://wwwprediksitogeljitu.webs.com/ AKI WAHYU,nomor ritual AKI WAHYU meman benar2 100% tem ,nomor ritual AKI WAHYU meman benar2 100% tembus

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: