26-Persepsi * 3 : PEMILU(KADA) HANYALAH DEMOKRASI PINTU MASUK


(Bagaimana Ruang Sistem Di Dalamnya)
Ada rasa terperangah ketika seseorang berargumentasi: lebih baik kita memilih caleg/caleks(eksekutif) yang buruk dari pada mereka yang baik. Alasannya? Caleg/caleks buruk(selanjutnya baca saja: calon) yang terpilih hanya tetap jadi buruk, sementara yang baik; kita berdosa menjadikan mereka dari baik menjadi buruk setelah itu.

Pemilu(kada) yang kita gembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi rasanya tidak lebih sebuah pintu masuk (bilik suara TPS) ke dalam ruang sistem demokrasi (gedung DPR/Eksekutif)
Kita terlalu naïf berbangga sudah diberikan kesempatan menentukan nasib bangsa dengan meloloskan mereka yang terpilih . Terbanyak adalah mereka yang tinggi daya tarik popularitasnya (misalnya artis, atau ikon keluarga, marga dan suku), dan mereka yang mampu ‘membeli’kesempatan. Sedikit saja yang terbaik tapi yang sedikit ini nanti perlahan berubah dalam sebuah sistem yang buruk.
Seburuk apakah sistem tersebut? Teramat banyak yang bisa disebutkan dari berbagai kasus hukum yang terungkap dan kinerja mereka yang buruk. Di sini kita tidak sampai menggarisbawahinya, namun coba memahaminya dengan gamblang.
Seusai pesta pemilu dan hasilnya telah memastikan siapa yang jadi, mereka sudah boleh melambaikan tangannya dari balik pintu sistem untuk sesaat kemudian menghilang. Selesai sudah urusan mereka dengan kita. Dan rakyat tinggal berkhayal dan berharap ada tidak ditunaikannya janji-janji manis mereka selama kampanye.
Kalau sudah banyak kesempatan yang kita ambil dari mereka sebelum pemilu (money politik) berarti giliran berikut adalah kesempatan mereka mengisi bahkan mengencangkan pundi-pundi yang sudah minus/kempes. Kalau mereka berhasil karena popularitas dan politik kelompok kepentingan silakan tunggu imbalan yang mereka janjikan. Tapi kalau yang kita pilih adalah mereka yang baik dan nyaring teriakan idealismenya, tinggal kita tunggu sikap dan gaung kritisi mereka terhadap ketimpangan dan keprihatinan yang ada.
Asal kita tahu di dalam koridor waktu lima tahun masa jabatan mereka, di dalam ruang terowongan sistem tersebut banyak tikungan-tikungan: berupa kebalitas hukum, hilangnya keperdulian, kesempatan yang tidak terkontrol, ketidakberdayaan terhadap kekuatan mayoritas, loyalitas kepada fraksi/partai.
Boleh kita ukur sembari mencermati tempo dipergelangan tangan; pada hitungan dan tikungan ke berapa gema teriakan idealisme, janji, komitmen moral mereka sayup-sayup menghilang. Mereka memang masih ada, tapi dalam terowongan tertutup dan tidak transparan dari pengawasan dan penilaian .kita. Kalau di ujung torowongan lima tahun kemudian mereka muncul dan masih genap , baguslah (karena sebagian bisa jadi sudah berstatus tersangka dan mendekam di sel). Sebagian dari mereka mencoba mendekati kita kita lagi, merayu dan berjanji dikesempatan periode berikutnya.
Sesaat wajah buram mereka muncul di ujung terowongan tadi, akan kita apakan mereka?
By : Rahman Wahyu Gtlo

4 responses to this post.

  1. Posted by hendra on April 11, 2010 at 11:56 pm

    Saya sudah commentnya Mz rahman di thread :sisi lain….
    http://blog.beswandjarum.com/hendra/2010/03/sisi-lain-dari-kompleksitas-hak-memilih/

    Balas

  2. Dah dibalas! Thanks ya atas kunjungan singkatnya. Bye!

    Balas

  3. Bagus ya perspektifnya. Terowongan di mana tuh?

    Balas

  4. Dikemplang saja kepalanya, mas!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: