25-Surat Untuk Sahabat * 2


Wah, pas mz Hendra suka matematika, orang yang saya cari buat mendebati ketidakmengertian ini.
Ayah saya guru matematika, bahkan pakar; saya malah tidak suka! Kuliah disuruh ambil jurusan ini, lima bulan next, mandek!
Apa sih matematika itu? Rey anak saya di pesantren mengeluh soal tidak bisa di topik variabel (juga topik2 lain). Berapa siswa tidak bisa? Hampir semua, jawabnya! Saya cari tahu, saya juga tidak bisa. Lalu saya tanya ke kakak kelasnya, ke pamannya(guru fak lain), ke kakak2nya yg telah tamat, ke karyawan, ke pegawaian, kelain-lainan; mereka juga tidak tahu. Cuma ingat pernah telah mempelajarinya. Setelah itu untuk apa? Yaah, waktu itu untuk sekolah, kita harus belajar, dan guru mengajar, dan matematika salah satu pelajarannya, dan mengisi ulangan, dan lulus di ujian.

Selagi kita belum tahu apa dan untuk apa itu fungsi dan kwadrat, ini rumusnya! Untuk apa rumusnya, besok ulangan! Selagi bingung, lusa topik lain, pelajaran lain, guru lain, persoalan lain, dan lain-lain.
Kenapa tidak: sekali waktu Rei dengan “O Begitu” nya tatkala baru mengerti; mencari luas itu misalnya kita membeli sebidang tanah yang panjangnya sekian meter, lebarnya sekian meter. Lalu distrimin ada berapa kolom meter di dalamnya, itu luas tanah tersebut. Gampangnya kita pakai rumus panjang kali lebar. Dengan begitu kita bisa menentukan berapa harga tanah itu dari berapa permeternya.
Teman sebangku kuliah saya (dagang spear part motor), dua puluh tahun kemudian, dan itu sekarang: hari gini baru memahami apa itu pemerintah daerah, legislatif, bumn, saham, kurs nilai tukar, valas, dll, ketika semua itu keluar dari penjelasan saya yang dibuat gamblang dan menyentuh kebutuhan ingin tahunya.
Sekolah, dengan apa yang pernah kita dapati di sana, apa sudah menyentuh kebutuhan belajar anak? Atau cuma mengejar target kurikulum pemerintah?
Apa yang kau cari UN?
By : Rahman Wahyu

NB : Ketemu di topik ini ya mz? Ichal masih terus cari cara tukar linknya. Terima kasih blog saya dilink pada blognya mz Hendra. Cuman kapan papanya (om rahman wahyu) kawin dengan tantenya mz Hen, tanya Ichal bloon. He he becanda saja! Biarin kalau mz Hen merasa pas dengan sebutan itu. Siapa tahu teman-teman bloger mz penasaran pengin lihat seperti apa blog Omnya mz Hendra. He he.
Oke, segitu dulu. Salam blogger!
Gorontalo, 9 april 2010, 12,30 dini hari (lagi belum bisa tidur)

3 responses to this post.

  1. klu aq mlah suka matematika..hehhhe
    biarpun kdang bingung sendiri, tapi suka aja klu ngutek2 soal matematika…hehhe

    salam kenal….

    Balas

  2. Posted by hendra on April 12, 2010 at 12:50 am

    Sistem pendidikan di negeri masih boleh dikatakan masih memprihatinkan terutama dari sisi objektivitas ilmu. Masih adanya pola pragmatisme itulah yg terjadi sekrang Mz Rahman. Padahal kegiatan aktivitas pembelajaran pada dasarnya akan selalu mengarahkan pemahaman guna terbentuknya skema berpikir. Ya, menjdikan peserta didik yg mempunyai hati nurani, jati diri, tanggung jwab, serta memiliki kepekaaan normatif dan sosial yg menyangkut nilai dan tata nilai. Proses yg ada sekarang yg terjadi adalah “proses penampungan“. Maksudnya, proses yg menjadikan manusia hny sebatas menerima dan melaksanakan, tanpa ikut produktif utk bersikap kritis dan obyektif. Begini, saya juga pernah menanyakan kpd teman2 mahasiswa yg bergelut dlm dunia keguruan matematika(FKIP contohnya). Selain pelatihan teknis mengenai penggunaan rumus2 matematika yg nantinya siap diajarkan, aplikasi apalgi yg pernah dijelaskan oleh dosen2 itu? Ya mungkin masalah2 yg berkaitan dgn kompetensi guru (kualitas seorang guru), moralitas guru (nurani guru) dan konseling (msalah belajar siswa). Mereka mengatakan, rata2 boleh dibilang, materi yg disajikan itu cukup sedikit dijelaskan oleh dosen. Kebanyakan berkutat di nuansa teorisasi angka2 yg bersifat afektif, tidak dinamis, statis sekali menurut saya. Nah, bagaimana ini? Yg pasti akan berdampak saat sang calon guru tersebut ketika mengaplikasikn ilmunya nanti. Harus menyalahkan siapa kalau sudah seperti ini? Pemerintah dan pengelola institusi pendidikan jelas harus melihat akar masalah sebenarnya. Sayangnya, amanah UUD mengenai hak utk memperoleh pendidikan malah cenderungnya dikomersialisasikan. Entah oleh siapa. Institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas hendaknya jgn lantas dianggap “alergi“. Banyak sisi yg kita kita dayagunakan kalau saja kita mau proaktif. Jadi bukan hny sekedar memposisikan antara guru dgn siswa atau mahasiswa dgn dosen cuma soal batasan yg paling pintar atau tidak. Perlu pendekatan yg sifatnya dialogis. Ya, komunikasi dua arah itu hendaknya ditanamkan sedini mungkin.
    Masalah UN, memang hendaknya bisa dijadikan kontemplasi bagi stakeholders utk mencoba merumuskan bagaimana sistem pemetaan terhadap mutu pendidikan nasional yang baik bagi masyarakat. Will-nya belum kelihatan. Selama mementingkan kepentingan politik praktis, maka sektor pendidikan yg diharapkan selama ini, akan mandeg atau mungkin ikut bersama arus politik yg ada. Burukkah? Silahkan Mz Rahman yg bisa menilai itu.
    Saya memang menyenangi matematika tp gak pintar2 amat. Amat aja gak pintar,,,,,,hehehe
    Panggilan “Om“ hanya memberikan kesan bhw saya menghormati orang yg lebih tua dari saya saja Mz Rahman. Itu saja, gak lebih kok atau “kalau mau lebih tggu tante saya bercerai dulu ya Mz….yg sabar….hahahahaha“. Just kidding….
    Oke, salam blogger Mz Rahman.

    Balas

  3. Buat Johan: baguslah kalau bisa diajak diskusi ttg hal itu. Bagaimana?
    Untuk Hendra: Balasannya sudah dikomentari di Surat Untuk Sahabat 3, thanks!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: