21-SURAT UNTUK SAHABAT * 1


Dear Mz Hendra yang baik dan . . .,raib!
Lama ya kita tidak saling ketemu. Mungkin tepatnya tidak mau ketemu.
Tidak apa-apa. Kita berhak untuk itu. Cuma kalau ada yang merasa tidak disenangi, dia berharap(boleh jadi berhak) mendapatkan penjelasannya.
Orang itu saya; yang merasa tidak apa-apa, kalau atas ketidaksenangannya seseorang punya alasan yang tepat. Itu saya pikir mekanisme dan sikap hidup orang yang harus kita hargai.
Kita toh tidak berhak memaksakan orang lain untuk suka atau tidak suka kepada kita. Sama hal juga sebaliknya. Saya juga demikian, karena perasaan saya pernah beberapa kali di situ, bahkan coba mencari solusi yang tepat dari situasi itu.

Dengan mz Hendra, saya tidak tahu (untuk tidak sok tahu) ada apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin terlalu sibuk, atau pikiran kita tidak lagi sejalan.
Dua komentar saya yang tidak berbalas dalam beberapa hari sebagai indikasi bahwa saya harus tahu dan introspeksi diri. Kira-kira ada yang membuat Mz kurang berkenan bahkan tersinggung. Sampai dengan begitu juga tidak apa-apa. Masak orang tersinggung harus respek. Itu kan sikap yang pas sebagai isyarat orang lain untuk coba mengoreksi diri.
Misalnya; ada komentar saya (yang notabene cermin dari sikap dan cara pandang saya terhadap sebuah realitas persoalan), telah menabrak sikap dan nilai-nilai moral serta normatif mz Hendra. Mungkin itu jadi penyebabnya (kalau tidak keliru). Dan mz mengambil sikap sejauh ini sebagai isyarat penolakan. Untuk itu dengan ini saya minta maaf.
Kalau bisa berbeda sedikit, menurut saya kita bisa langsung saja. Saya sudah sampai pada tahap di mana untuk menyatakan tidak setuju; seseorang bisa saling berbeda, berseberangan, bahkan saling mengeritik dengan cara yang bisa diterima bersama. Intinya toh kita bisa sepakat untuk tidak sepakat dalam beberapa hal, namun boleh jadi sependapat dalam hal-hal yang lain. Ini sah-sah saja dalam demokrasi berkawan.
Selama ini, sebelum mengenal betul blantika internet dan blogingnya; media yang sudah lama menjadi obsesi tempat curahan wawasan dan ekspresi hidup saya yang terpendam, saya suka dan selalu mencari teman diskusi yang baik, cocok, dan terbuka. Kadang masalah yang timbul berkisar di soal kecocokan: cocok waktunya, cocok wawasannya, cocok seleranya. Karena saya orangnya perasa, empatik, dan sensitif. Sesuatu yang jadi pesoalan bagaimana kita tahu seseorang itu merasa cocok dan masih bersedia waktunya dipakai diskusi dengan kita. Kasihan kan, selagi kita asyik bercerita, dia sedari tadi waktu dan pikirannya tidak lagi bersama kita.
Karena sebaliknya juga kita begitu. Inginkan orang lain menyadari: masih ada atau tidak kesediaan kita menerimanya sampai pada batas tertentu.
Saya membayangkan kalau software human itu ada secara kasat mata; kayak di game PS, saya bisa secara jelas melihat, masih berapa banyak darah dari tokoh game kita untuk bertahan dalam pertarungan. Kalau darah itu ibarat bentuk interest lawan bicara kita masih tertarik(hidup), kita tahu kapan skala indikatornya akan habis. Bahkan kita sudah boleh pamit dari kebersamaan bicara sebelum darah itu benar2 habis. Untuk kemudian dipakai sebagai respon dia terhadap kedatangan kita di lain waktu dan kesempatan.
Saya tertarik mendapati manfaat situs jejaring social facebook dalam mempertemukan bentuk interest social tersebut. Dia bisa membuat kita mendapatkan banyak teman, bahkan lebih dari yang kita butuhkan. Begitu kita mengkomfirmasikan apa bisa diterima sebagai teman; seorang teman baru bukan saja bersedia ‘menyerahkan diri’nya, bahkan ambil sekalian dengan teman2 dia (borongan nih, yee).
Cuman kekurangannya (entah itu ada) facebook tidak memberikan kesempatan kita untuk menyortir siapa teman2 kita yang boleh masuk, disesuaikan dengan mood(kurve nuansa hubungan) kita pada satu ketika. Kalau itu ada, bertambah satu kenyamanan kita dalam berfacebook.
Menyayangkan hal tsb, Ichal anak saya berbeda pendapat malam itu. Papa sih bawaannya curiga dan sensitif terus. Belum tentu seseorang tidak senang atau menjauh dari kita hanya karena apa yang papa pikir. Sesaat kemudian karena sesuatu hal dia terpaksa mengakui teori saya itu.
Sebuah teori yang sudah beberapa kali saya diskusikan dengan dia. Tentang nuansa sebuah hubungan coba didasarkan pada sebuah perkiraan. Ketika kita mengira-ngira seperti apa hubungan kita – seseorang; buatlah sebuah gambar imajiner. Gambar itu kita rubah, perbaiki, tambah atau kurangi berdasarkan realitas/fakta sikap dan respon yang kita terima dari orang itu. Boleh jadi kita salah, toh gambar itu bisa kita edit atau delete(hapus).
Mz Hendra yang beswan dan akademisi!
Begitu pula soal berbeda dalam pendapat dan wawasan. Saya suka membayangkan diskusi terhadap sebuah pesoalan adalah bagaimana kita coba menggambar. Mungkin kita bisa sepakat terhadap sebuah gambar dengan cara kita perbaiki dan perbagus bersama, Tetapi kalau kita yakin dengan cara(argumentasi) kita; apa salahnya kita buat gambar sendiri2. Lalu kita coba dalam kurun waktu tertentu dan perspektif yang lebih baik, menyempurnakan gambar kita masing2. Sampai suatu ketika kita bisa mempertemukan dan menerima gambar mana yang bisa kita anggap dan akui lebih baik. Tidak soal gambar punya siapa. Karena memang kita tidak “sekali berbeda berbeda terus”
(egosentris
Okey, segitu dulu. Terserah apa bisa disambung atau dikemanain cerita ini.
Salam Bloger-Rahman
gorontalo, akhir maret ‘2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: