18-OPINI 1 : KEPADA GORONTALO DAN PECINTA SEPAKBOLA


(Sebuah Catatan Di Bulan Agustus 2005)

Mengenaskan nasib korban balas dendam dalam pertandingan sepakbola kemarin Di Gorontalo. Kesediaan pemain Persiwa(Waimena) untuk tetap bemain di kandang lawan, harus dibayar dengan terkapar bersimbah darah di rumah sakit. Parah memang! Tapi separah inikah moral kita dalam menghakimi sebuah persoalan? Pro dan kontra menyeruak dari hati kita yang paling dalam.
Pemain kita (Persigo) memang dipecundangi babak belur di kandang Persiwa. Wajar darah kita mendidih ingin balas dendam. Karenanya, banyak di antara kita mencari kesempatan menjadi eksekutor, minimal menjadi saksi mata langsung dari arena pembantaian yang diperkirakan bakal seru. Aroma konspirasi seperti sudah tercium. Satu keranda buatan bertuliskan: “Persiwa Di Sini Tempatmu” mempertegas bayangan kita akan seperti apa nasib event sepakbola kali ini.

Seperti yang diduga. itulah yang terjadi. Satu pesatu pemain Persiwa digelandang masuk ambulans, setelah sebelumnya dikejar, dipukuli, ditendang, ditonjok pecahan botol, dilempari batu. Usaha menyelamatkan diri dan minta perlindungan menjadi sia-sia. sabuk pengaman kebal diri mungkin tidak mempan, doa dari orang teraniaya bisa jadi lupa dipanjatkan. Sementara pembelaan dari kita yang kebetulan bersimpati pun tidak menemukan bentuk. Coba-coba melerai dan melindungi, bisa berakibat fatal.
Merekam tampilan tragis tersebut, logika kita mungkin mempertanyakan. Seperti itukah pemain kita diperlakukan di kandang mereka?
Mungkin tidak. Tapi pembalasan kan harus lebih kejam dari perbuatan! Kalau begitu kita harus bersiap-siap; baik pemain mau pun penonton kita untuk menerima pembalasan yang jauh lebih kejam pada kesempatan mereka berikutnya. Mungkin tidak di kandang mereka, boleh jadi di wilayah kompetisi lain yang potensial untuk itu.
Sementara itu nasib prestasi dan sportivitas persepakbolaan kita jadi taruhan. Mandek dan dikenakan sanksi untuk even-event berikutnya. Protes bisa dimunculkan. Seandainya perlakuan mereka yang menjadi sebab awal, kenapa tidak ada sanksi tegas dari PSSI? Dengan begitu menjadi sedikit alasan untuk melampiaskan balas dendam separah itu di sini.
Sistem peraturan PSSI mungkin terlambat untuk mengantisipasi hal ini. Ataukah diperlukan kejadian separah ini untuk mengkondisikan lahirnya aturan dengan sanksi yang lebih tegas?
Sekali lagi, seperti reformasi; kita sepertinya harus membayar harga yang sangat mahal untuk menemukan bentuk sistem yang lebih baik. Dengan realitas persoalan tersebut di atas, kita coba berimprovisasi dengan beberapa kesadaran sebagai berikut:
– Kerusuhan kemarin sepertinya tidak terekspose lebih nyata oleh kamera stasiun televisi. Tayangan televisi lokal seperti GOTV dan TVRI Pelangi Gorontalo, tidak merinci gambaran kerusuhan tersebut dengan jelas, detail, dan kronolog; agar kita bisa menilai kejadian tersebut secara obyektif, daripada sekedar mendengar penuturan orang-orang yang sempat menonton, yang bisa jadi kurang atau berlbih-lebihan.
– Tayangan rekaman kejadian lebih menampilkan bagaimana gawang Persiwa begitu pasrah menerima kemasukan lima gol berturut-turut. Memasuki adegan kerusuhan, tayangan sesaat segera diakhiri. Sepertinya ada kesadaran baru untuk tidak berbagi informasi hal-hal yang bisa merugikan dan merusak citra serta nama baik daerah kita, yang notabene telah sukses menyelenggarakan STQ Tingkat Nasional. Negeri awak yang berfalsafahkan Adat Bersendikan Sara, Sara Bersendikan Kitabullah.
– Bersamaan dengan kerusuhan yang melanda stadion Gorontalo, hal yang sama pula terjadi di beberapa pertandingan daerah lain. Insiden bisa sama, tapi tidak dengan serta merta menganggap kejadian ini adalah hal yang biasa. Kriminalitas berjamaah yang bisa memupus masa depan saudara-saudara kita, ketika cidera yang kita balas timpakan pada mereka sudah demikian parah, bisa cacat dan berakhir dengan dendam dan putus asa; bukan sesuatu yang bisa dianggap hal biasa dari budaya mereka yang ingin menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dalam sebuah pertandingan olah raga.
– Kesediaan pemain Persiwa untuk berjibaku main di daerah lawan yang sudah diperkirakan rawan, bukan tidak mungkin sudah diawali dengan jaminan keamanan dari panitia dan pihak keamanan. Kenyataan hal itu tidak terlaksana, menjadi preseden buruk dalam jaminan pengamanan ke depan. Janji tinggal janji.
– Emosi balas-membalas dalam pertikaian pertandingan tidak mengenal orang dan batas wilayah. Di antara pemain Persiwa barangkali ada beberapa orang yang tidak harus bertanggungjawab dengan kesalahan orang lain. Artinya mereka bukan pelaku penyerangan terhadap pemain Persigo sebelumnya.
– Pertikaian bisa terjadi pula pada batas wilayah yang berdekatan. Bisa dibayangkan seandainya saling bantai dan balas dendam itu terjadi antar kesebelasan daerah yang berdekatan. Betapa kita harus menghadapi trauma saling balas yang tak berkesudahan. Amuk massa dan tawuran sesama saudara berdampingan tak terelakkan.
– Sangat membanggakan ketika kalah dan menang dalam sebuah pertandingan olah raga bukan menjadi harga mati. Yang menang tidak lantas senang dan sombong, yang kalah tidak harus sakit hati. Yang terjadi, misalnya: pihak yang kalah dalam pertandingan sepakbola antar kelurahan, memberikan tongkat estafet kesempatan kepada pemenang sebagai yang terbaik mewakili mereka dalam pertandingan antar kecamatan. Selanjutnya pemenang dari situ mendapat kesempatan kepercayaan mewakili maju untuk kompetisi antar daerah. Demikian seterusnya. Saling memberikan dan mendapatkan kesempatan menang dalam sebuah pertandingan yang sportif dan fair, dilandaskan pada semangat untuk mencari yang terbaik, mewakili prestasi wilayah kesatuan ke tingkat wilayah kesatuan yang lebih tinggi.
– Demikian pula selalu dipupuk mental kesabaran, bahwa ke depan akan ada event kompetisi berikutnya menunggu untuk lebih memperbaiki kesempatan berprestasi.
– Dengan kesadaran seperti ini, bisa dicoba bangun dan bangkitkan kembali sarana dan kompetisi-kompetisi pertandingan dari tingkat paling bawah, yang selama ini pupus oleh insiden-insiden yang tidak fair. Diharapkan kesempatan ini akan menjadi sarana hiburan olah raga dan cikal bakal lahirnya pemain-pemain muda yang berbakat.
– Ajakan kesadaran ini barangkali tidak harus diakhiri oleh tulisan ini sampai di sini. Terbuka keinginan menunggu datangnya kesadaran-kesadaran lain yang baik, bahkan yang lebih baik. Tegur sapa dan dan kritik sangat diharapkan.
Sebagai akhirulkalam, seandainya kita bisa beranjak kepada kebesaran jiwa: pembalasan tidak selamanya harus lebih kejam dari perbuatan. Ketika kita diperlakukan tidak sportif, sembari bersabar dan persoalannya kita perjuangkan ada satu sistem peraturan PSSI yang mengakomodir setiap bentuk pelanggaran; pemain Persiwa kita jamu dan jamin main di sini, dengan spanduk seraya bertuliskan: “Kami Telah Diperlakukan Tidak Sportif. Anda Kami Terima Dengan Senang Hati Di Sini. Tidak Ada Pembalasan. Terima Kasih Telah Memberikan Kami Kesempatan Belajar Untuk Menahan Diri!” (Mimpi kali, yee?). Wassalam Alaikum Warrahmatulahi Wabbarakatuh.
By : Rahman Wahyu
(Pernah Dimuat Di Harian Gorontalo Post)

Sedikit Catatan:
* Tulisan ini diangkat sekedar mengisi blog yang baru dan sederhana ini. Tapi tidak ada salahnya sebagai bahan introspeksi dan antisipasi ke depan, mengawal event-event sepakbola yang mulai marak di Gorontalo.
* Kalau sebuah karya tulis ada harganya (honor), tidak ada pun tidak apa-apa; biar cuma koran bukti pemuatannya. Kalau pun tidak ada korannya (sekedar bonus), juga tidak apa-apa; biar cuma konfirmasi bahwa tulisannya dimuat (maklum penulis tidak mampu berlangganan koran). Opini ini baru sadar dimuat beberapa bulan kemudian ketika seseorang memberitahu, dan dicari copy korannya di Perpustakaan Provinsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: