12-Mutiara Kecil * 1 : SURAT TAGIHAN KIKI


SURAT TAGIHAN KIKI
Kiki sering memperhatikan ayahnya kalau sedang mencatat dan menertibkan setumpuk lembaran-lembaran kertas. Kerja itu karena tak sempat diselesaikannya di kantor, terpaksa dibawa pulang ke rumah untuk dirampungkan sore atau malamnya.
Dasar Kiki anak yang gemar mencari tahu apa yang sudah lama menjadi perhatiannya, penasaran terus sampai pada suatu ketika. Ayahnya saat itu minta tolong kepada Kiki memungutkan lembaran kertas yang tercecer terbuyarkan angin. Kesempatan itu tidak dilewatkannya, untuk bertanya:
“Yah! Apa sih manfaatnya kertas-kertas seperti itu? Dibuang saja!” Tentu saja Kiki mau memancing ayahnya dengan mengatakan yang demikian.

Ayah yang bijaksana. Dijelaskannya apa arti dari kertas-kertas itu kepada Kiki.
“Dengar, Kiki. Kertas-kertas ini merupakan bukti bahwa seseorang telah berhutang kepada pihak lain, dan dia harus melunasinya sampai pada waktu yang telah ditentukan. Nah, mengerti?”
“Lalu, kalau orang itu tidak mau membayarnya, yah?” tanya Kiki memperpanjang rasa ingin tahunya.
“Tentu diberikan peringatan dengan mengirimkan surat-surat ini. Namanya surat tagihan.”
Kiki mengangguk puas. Dalam hatinya dia berpikir: kalau begitu setiap orang yang berhutang perlu diberi surat seperti itu. Yaah misalnya karena orang itu sudah lupa, atau tidak tahu bahwa dia telah berhutang.
Tiba-tiba dia teringat pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Membantu orang tua, disuruh pergi membeli di warung, menuruti semua nasehat-nasehat mereka, kemudian menjadi anak yang baik; dan apa ya? Pokoknya banyak. Rasanya dia telah berbuat banyak hal untuk ibu dan bapaknya. Bukankah itu merupakan hutang yang harus dibayar? O ya siapa tahu ibunya tidak tahu akan hal itu. Biar nanti Kiki akan membuat surat tagihan.
Ibu Kiki terkejut mendapati selembar kertas di meja kamarnya. Dia membaca sebentar dan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tahukah apa yang dibacanya?
Surat Tagihan. Ibu telah berhutang kepada Kiki karena selama ini Kiki telah:
1. Membantu ibu di dapur . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .Rp. 1000,-
2. Menyiram bunga dan tanaman kesayangan ibu . . . . . . . . . . . Rp. 1000.-
3. Disuruh membeli keperluan ke warung tetangga . . . . . . . . . . Rp. 1000.-
4. Selalu menuruti nasehat-nasehat ibu . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 1000.-
5. Menjadi anak ibu yang baik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 1000.- Jumlah : Rp. 5000.-

Ketika Kiki hendak bersiap-siap berpakaian ke sekolah, disakunya telah terisi selembar uang lima ribuan disertai sehelai kertas
Senanglah hatinya memperoleh uang sejumlah itu. Ah, dia berpikir; kalau begitu Kiki akan sering membantu ibunya. Biar…, eh kertas ini? Apa isinya? Kiki kemudian teringat untuk mengetahui isi surat yang bersama uang tadi.
Surat Tagihan. Kiki telah berhutang kepada ibu, karena pernah dan selama ini telah :
1. Melahirkan Kiki . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 0.-
2. Membesarkan dan merawat Kiki sejak kecil . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 0.-
3. Memenuhi segala kebutuhan Kiki . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 0.-
4. Selalu memberi nasehat kepada Kiki . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 0.-
5. Menjadi ibu Kiki yang baik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rp. 0.- Jumlah : Rp. 0.

Kiki tertegun. Setengah terisak campur menangis dia mencari ibunya ke dapur. Sang ibu yang baru akan mengangkat hidangan sarapan pagi terhenti sejenak dan berbalik, mendengar suara anaknya memanggil.
“Ibuu!!” Kiki menghambur ke dalam pelukan ibunya. “Ibu, maafkan Kiki. Kiki telah berdosa kepada ibu…, maafkan Kiki, bu!” Terbata-bata Kiki meluapkan penyesalannya sambil mengembalikan uang itu.
“Kiki lah yang telah banyak berhutang kepada Ibu. Kiki tak mampu membayarnya! Bu…, “ Ibu Kiki membelai rambut anaknya dengan penuh kasih, dan sedikit menitikkan air matanya. “ Sudahlah, ibu tidak merasa berpiutang kepada Kiki. Kiki bisa membayarnya dengan belajar yang baik. Sekarang Kiki harus ke sekolah, tapi makan dulu. Anak ibu harus menjadi orang yang berguna kelak.
Dalam hati Kiki berjanji akan memenuhi harapan itu.
Diceritakan kembali : Rahman Wahyu
(Sumber cerita tidak jelas/ingat lagi)

2 responses to this post.

  1. Posted by Gemini Silver on Mei 27, 2010 at 9:20 am

    Nice posting yang menyentuh perasaan. Kasih ibu sepanjang jalan!

    Balas

  2. Thanks, semoga dapatkan juga kasih itu. Sepanjang hidup…!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: