5-PERSEPSI * 2 : APA YANG SAYA DAPAT DARI SEKOLAH?


(Oleh Rahman Wahyu)

Ijasah! Tepat sekali, kalau untuk menemukan jawaban lain masih perlu diingat atau dipikir-pikir dulu. Sebuah lorong panjang belantara pendidikan telah banyak dilalui orang, dan banyak orang mungkin bisa coba sependapat dengan sekelumit jawaban saya yang mau dituangkan dalam tulisan ini.
Mulai dari sekolah dasar(SD), di situ saya malah termasuk murid pintar. Dan kita tidak menafikan di jenjang ini kita belajar iqra; bacalah! Dengan membaca dan juga menulis, dasar intelektual seseorang terbentuk. Di sini factor sekolah merupakan penunjang pendidikan ketika orang tua dengan beda kemampuan mendidik bisa terbantukan.

Pintarnya saya terutama dalam pelajaran menghapal. Bisa menghapal nama-nama pahlawan, kepala negara, daerah, sampai bisa (disuruh) ingat tahun lahir dan wafatnya. Belum lagi nama-nama negara, propinsi , ibukota lengkap dengan baretnya ( bandara, bendera, lagu , tarian, binatang dan senjata khasnya).. Bisa pintar, juara serta manut (menurut, segan dan takut) pada guru dianggap sebagai sikap murid yang baik waktu itu, karena bisa menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Beranjak lanjut ke SMP, kebetulan ayah saya guru pelajaran berhitung di situ (aljabar dan ilmu ukur, sekarang matematika). Justru dalam mata pelajaran yang satu ini saya rasakan sulit sekaligus momok. Bagaimana tidak? Sebagai guru dari pelajaran yang harusnya keras, ayah saya tidak harus membedakan saya kena strap mistar karena tidak bisa menyelesaikan tugas soal dengan tepat. Dan saya harus tegar melihat teman-teman yang menahan tawa menunggu giliran saya dipukul sama kerasnya dengan yang lain.
Apa yang bisa saya terima dengan baik kalau gurunya menjejali otak kami dengan perhitungan2 yang asing dari relitas hidup keseharian. Diketahui x1 + 2y – 3 akar 4 x 5 pangkat 6 dibagi sinus 7 ko sinus 8 tegak lurus segitiga ABC siku-siku hasilnya 3600 = 0 alias sedari tadi kosong (tidak tahu apa yang “diketahui”).
Di SMA saya disuruh masuk IPA, jurusan yang bonafid untuk mereka yang pintar dan pede dengan kemampuan eksatnya. Dan saya tambah bingung dan bodoh dengan pelajaran eksata tambahan: fisika, kimia, biologi dan seterusnya. Di situ saya harus berkenalan dengan istilah: percepatan dan kecepatan gerak lurus tak beraturan, massa dan berat jenis dzat, nama latin spesies dan DNA mahluk hidup.
Sedihnya, orang tua saya tidak merasa bersalah menempatkan saya di jurusan tersebut. Itu karena matematika dan beberapa mata pelajaran tersebut tadi terukir dengan nilai baik di STTB, setamat saya dari sekolah situ. Mau tahu rahasianya? Saya kebetulan duduk dekat teman yang pintar matematika, ketika ujian akhir berlangsung.
Sedihnya itu tadi. Ironis bukan kalau saya masuk perguruan tinggi diminta ambil jurusan matematika. Berdalih: saya dari jurusan SMA IPA, matematikanya sepuluh, paskah kuliah pasaran kerja tinggi, ada papa yang guru matematika (pindah jadi guru matematika di SMA), jelas bisa menunjang kalau saya mau kuliah di jurusan itu.
Butuh satu smester demi tentukan nasib sendiri, saya hengkang dari bangku perkuliahan dan menjadi kutu buku di sebuah sudut ruang perpustakaan. Kakak saya (yang juga kuliah) memberitahukan ke ayah beberapa bulan kemudian, yang diterima legowo; mungkin setelah akhirnya menyadari tidak semua anak sama minatnya dengan orang tua.
Saya pindah jurusan Pendidikan Luar Sekolah dan selesaikan riwayat akademis hanya selang beberapa bulan akan terancam batas waktu DO enam tahun. Dua akta ijasah terakhir saya gondol, akhir sebuah pertualangan di dalam dunia pendidikan; dari bangku sekolah satu ke bangku sekolah lain berikutnya.
Ijasahnya hanya saya gunakan sekali, masuk dalam bursa lowongan kerja tenaga guru. Tapi waktu itu harus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah Indonesia. Saya tidak serius mengikuti tes masuk. Kesulitan yang saya alami justru bagaimana menemukan pilihan yang salah dari sebuah soal yang jawabannya hampir semua benar (artinya saya jawab salah semua).
Saya kebetulan sudah punya pegangan hidup berjualan di rumah kios. Saya adalah satu serigala yang tidak mau berebut tulang(jatah kerja) yang cuma sedikit untuk silakan diambil oleh yang lain (a homo homini lupus). Saya hanya tidak bisa lupa gurat sedih wajah orang tua yang sampai di akhir hayatnya tidak bisa berharap saya jadi amtenar(pegawai), alasan untuk apa setiap orang tua menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi.
Apa yang saya dapat dari sekolah kalau begitu? Saya mungkin bukan pesekolah yang baik, jadi jawabannya bisa berbeda sesama almamater. Karena ada banyak juga yang sukses, modalnya apa kalau bukan punya izasah sekolah dulu. Jangankan harus jadi birokrat; mau capres, mau caleg, mau mantu (harus yang pendidikannya tinggi), bahkan cuma mau jadi karyawan toko harus ada ijasah. Ketika program wajib belajar dicanangkan, berarti kita harus punya ijasah setara SMP biar tidak untuk jadi apa-apa.
Saya tidak anti sekolah dengan begitu. Sekali pun saya pernah tertarik dengan pemikiran Ivan Ilich: orang harus bebas dari (otoritas) sekolah. Anak-anak juga saya sekolahkan, karena memang tidak ada sekolah yang bukan sekolah. Bahkan salah seorang yang lulus kelas akuntansi di sebuah SMK, (kalau boleh) saya suruh sekolah kembali. Tapi bukan karena ijasahnya, melainkan masuk kelas computer yang diminatinya (dia korban sistim UN SMP, tidak lulus pertama lalu diterima bersyarat masuk jurusan yang tidak sesuai minatnya).
Sekali lagi, banyak yang berhasil karena pernah sekolah, bahkan sekolah-sekolahan (perlu ijasahnya doang). Tapi di sini kita hanya coba saling berbagi masukan.
Sekali waktu ternyata saya butuh kemampuan berhitung. Berapa berat paku dengan pokok harga Rp 1.200,- untuk saya jual eceran Rp. 1.500 perbungkus? Diketahui harga pokok paku Rp. 16.000 per kg. Saya sulit menemukan referencenya dalam memori matematika sekolahan. Setelah berapa kali hitung, salah, dan coba lagi; saya temukan sendiri rumusnya adalah 1.200 dibagi 16.000 dikali 1000 (gram) = 75 gram.-
Saya pernah bodoh dan linglung dengan pelajaran fisika di SMA. Sekali waktu (25 tahun kemudian, jadi sekarang) saya cari dan bongkar buku fisika ( Energi Gelombang dan Medan I ) lalu saya kuliti lembar per lembar dari halaman pertama uraiannya. Baru halaman ke sepuluh dan seterusnya, logika saya sudah buntu dan bebal. Saya lalu terpikir; sekarang saja bodoh begini, apalagi waktu itu.
Terus, di mana saya bisa menemukan tehnik mekanika dan kinetika gerak yang bisa membuat pintu kios terbuka dan tertutup sendiri. Karena membutuhkan kemudahan dan kepraktisan, kios saya mendapat julukan “warung pintu ajaib”.- Hanya dengan satu sentak tarikan senar pintunya terbuka, dan tarikan yang lain bisa membuatnya tertutup (terkunci otomat). Sementara di ruang belakang berdentang bunyi blek memberi tanda(alarm control) kios pintunya dalam keadaan terbuka, dan berhenti ketika tertutup. Dengan begitu bakal tahu kalau kios lupa ditutup pintunya karena kalau pembeli sepi saya suka ada di ruang belakang dengan kreasi kesibukan lain.
Ada banyak. Namun sekali lagi, banyak memang orang sudah bisa berharap lebih dari sekolah. Pangkat, jabatan, dan prestise, serta gaji yang berlipat bisa diraih asalkan bisa sekolah lebih tinggi. Tetapi ada banyak juga mereka yang tidak menemukan dunianya di sana. Sia-sia mencari dan hampir tidak pernah saya berpapasan dengan rumus-rumus dan dialektika pengetahuan yang terlalu teoritis di tengah jalan kehidupan dan realitas persoalannya.
Akar, pangkat, dan rumus-rumus phitaghoras itu bermanfaat. Namun sejauh mana itu bisa dibuat terasakan manfaatnya, aplikasinya, dan bahkan cuma bersentuhan sedikit dengan realitas hidup di sekitar mereka(anak didik).
Belajar bahasa asing (inggris) itu perlu, sampai digalakkan penguasaannya ke tingkat SD dan TK. Hanya, kapan kita sudah berhasil membelajarkan bahasa kita dengan santun dan baik di tengah keterasingan sesama anak-anak bangsa, yang jauh dari saling pengertian dan pemahaman.
Belajar iptek dengan semua perangkat keras dan lunaknya itu juga perlu dan jangan sampai ketinggalan. Tapi kapan kita dengan cerdas menemukan hardware dan software social budaya yang manusiawi dan bermartabat. Ketika untuk mencari sekolah murah (hardware budaya) banyak orang sudah tidak mampu lagi. Dan untuk mencari kemudahan interaksi social (software social ) orang harus berhadapan dengan sikap stagnan dan stigma: “sesuatu kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”.
Kalau belum bisa beranjak sedikit saja dari kondisi tersebut, sayang sekali. Lalu untuk apa dan siapa kita pernah sekolah?
Rahman Wahyu

Pemrihatin masalah pendidikan.-
Email : rahman_gtlo@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: