RW 82). Belajar Yang Menggiurkan Karena Ujian


. .Selalu saja ada cara yang bisa kita siasati dalam menyikapi sebuah kondisi.
. .Ketika saya menyayangkan belajar anak kita di sekolah semata diorientasikan menjawab soal2 ulangan dan ujian, ada yang berkilah: kenapa tidak kalau tinggal itu yang bisa memotivasi mereka belajar.
. .Hm, belajar tinggal semata belajar itu sendiri, buat mengisi soal ujian, apa tidak salah?

Apa hanya karena dan untuk si monster ini kita belajar (google gambar)

Apa hanya karena dan untuk si monster ini kita belajar (google gambar)

. .Oke, kalau tinggal se’primitif’ itu motif belajar kita, ada yang masih bisa kita ambil.
Caranya? Kalau saja ujian tidak didikte dari atas soal dan kompetensinya seperti apa, kita bisa menjadikan ujian model sendiri sebagai motif belajar siswa. Selagi mereka termotivasi belajar karena dan untuk ujian ‘kita’, materi belajarnya kita buat semenarik dan semenyenangkan mungkin. Menyentuh kebutuhan belajar yang bisa mereka rasakan.
. .Ibarat memberikan sanksi kepada murid: “Kalau kalian tidak bisa menghabiskan kue enak yang ibu sediakan ini, jangan sekali-sekali keluar dari ruangan ini!”
. .Hm, siapa takut, eh siapa yang nolak? Kue, sini kuenya, pengen belajar menghabiskannya!
imagesKalau saja ada cara yang lebih baik.

Haruskah cermin ini kubawa-bawa, padahal di luar sana orang lain bisa menjadi cermin bahwa di jidat saya ada tahi cicak. (google gambar)

Haruskah cermin ini kubawa-bawa, padahal di luar sana orang lain bisa menjadi cermin bahwa di jidat saya ada tahi cicak. (google gambar)

Teringat Kampung Halaman


Teringat aku akan kampung halaman
Yang telah ditinggalkan
Kembali terlukis dalam ingatanku
Ibunda sayang..

Terbayang bila sang surya telah nampak
Di ufuk timur
Terdengar suara burung berkicau
Ayam berkokok

Dari jauh tampak surau
Sepoi-sepoi suara orang mengaji
Terdengar adzan yang memanggil kepada umatnya
Untuk beribadah

Bila senja telah tiba
Kami berkumpul sesama keluarga
Bila semua ku kenang terlintas hasrat ku ingin kembali
Kampung halaman..

Dari jauh tampak surau
Sepoi-sepoi suara orang mengaji
Terdengar adzan yang memanggil kepada umatnya
Untuk beribadah

Bila senja telah tiba
Kami berkumpul sesama keluarga
Bila semua ku kenang terlintas hasrat ku ingin kembali
Kampung halaman..

Cintailah Alam Dengan Caranya


Pengen Coba Terus Mengupload Video Di Sini


Dengar dan nonton video lagu nostalgia ini jadi terkenang mendiang Bunda, lagu kesukaannya.

RW 76). Dalam Sistem Pendidikan Seumur Hidup Yang Sudah Kadung Buruknya, Tindakan Ibu Yang Kejam Ini Memang Ada, Nih Videonya; Nggak Percaya?


Aduh, ada tindakan kekerasan seorang ibu terhadap anaknya seperti ini ya?


Karena ini memang fakta, kita percaya saya kenyataan telah menyuguhkan ini ke hadapan nurani ketidaktegaan kita yang berselimutkan sikap menyalahkan, bahkan mengutuk. Cuma dan hanya sampai di situ?
Kalau kebanyakan orang sampai mengutuk, menyalahkan, saya malah melampaui itu; melihat ada yang salah sekaligus tidak salah secara kausalistik.
Ibu ini sampai kejam terhadap anaknya, karena dia sendiri sudah dikejamkan oleh semua hal yang menjadikan dia seperti itu.
Boleh jadi ada traumatik masa lalu, atau sekarang ini dia tengah membalas kekejaman yang diterima dari suaminya kepada sosok tak berdaya yang mampu dia lampiaskan.
Mengutuk dan menyalahkan bukan lagi solusi hanya karena kita bereaksi secara spontan. Perlu pemahaman dan tindakan jangka panjang mengantisipasi kejadian ini tidak sampai terulang. Tidak cuma berkutat pada bicara: kekerasan apapun alasannya tidak bisa kita terima.
Sekarang kita menerima kenyataan ini sebagai sebuah fakta yang tak terelakkan, yang lalai dan tak terantisipasikan oleh kita, oleh sistem pengawasan sosial kita.
Perlu lebih dari sekedar wacana menghindarkan hal yang sama bisa terjadi ke depan dan di depan atau di belakang kita. Mari!
By : Rahman Wahyu
(Tulisan asalan, hanya untuk coba mengunggah video di lapak ini)

RW 75). Bahkan Ketika sudah Lupa Daratan, Kita Masih bisa Berteriak: “Tolonngg!! Ada yang Karam Di Lautan!!!”


Haah, ada yang tenggelam, Toloonnggg !!! (google gambar)

Haah, ada yang tenggelam, Toloonnggg !!! (google gambar)

(Lanjutan Dari Tulisan Sebelumnya)

. . Hidup kadang tidak mensyaratkan banyak hal kalau hanya ingin menyelamatkan hidup orang lain. Taruhlah itu sekedar teriakan: “toloonnggg, tolonnggg!!!”

. . Seperti ketika kita salah, kita berharap ada kebenaran orang lain yang mampir memperbaikinya. Bahkan dalam keadaan mereka salah, kita masih bisa berharap mereka dengan ’salah’nya bersedia mencegah kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

. . Hanya sapu bersih yang bisa membersihkan, itu yang sering kita dengar. Petuah itu tidak salah-salah amat kalau kita bisa memperbaikinya sedikit, sedikit saja. “Dan hanya sapu, yang bisa dipakai menyapu”. Masalahnya kalau sudah semua sapu kotor, atau yang bersih tidak ada, atau tidak didekat situ? Setidaknya sapu kotor tadi masih bisa dipakai membilas kotoran yang lebih kotor.

. . Seorang Roy Marten, artis napi pemakai narkoba silahkan berceramah tentang bahaya mengkonsumsi racun keparat itu bagi dan di hadapan remaja kita, sekali pun sepulangnya dari situ dia kedapatan lagi memakainya di sebuah hotel. Lanjutkan membaca

RW 74). Kita Tidak Harus Tahu Dulu Solusi Dari Suatu Masalah Hanya untuk Memberitahukan Bahwa Sesuatu Itu Bermasalah


Haruskah cermin ini kubawa-bawa, padahal di luar sana orang lain bisa menjadi cermin bahwa di jidat saya ada tahi cicak. (google gambar)

Haruskah cermin ini kubawa-bawa, padahal di luar sana orang lain bisa menjadi cermin ngasih tahu kalau di jidat gue ada tahi cicak. (google gambar)

Dalam banyak hal kita kerap diwanti-wanti jangan cuma tahu mengeritik tapi tidak bisa menyertakan solusi. Itu sama dengan cari-cari masalah.

Pada satu ketika saya tercenung dan mencermati benar makna dan konsekwensi dari petuah tersebut.

Apakah setiap orang yang mau menunjukkan suatu masalah, bisa dan harus tahu juga solusinya? Tanpa itu? Tanpa bisa memberikan solusi, apakah masalahnya tidak valid alias tidak ada?

Hidup ini tidak menunggu kita harus tahu dan temukan cara dapatkan makanan hanya untuk merasakan bahwa perut kita sudah lapar, lantas seorang anak misalnya perlu bersuara agar emaknya tahu.

Ketika tiba di persimpangan dari sebuah jalan yang kita lalui, apa sikap kita kalau lewat jalan itu kita sempat kena patuk ular?
Lanjutkan membaca

RW 73). Saya Lebih Suka Dianggap Orang Telmi, Eh Tahu Apa Itu Telmi?


(Kalau Tidak Tahu, Jadikan Saya Teman)

Eh, kami masih seRtT telminya (Google gambar)

Eh, kami masih seRtT telminya (Google gambar)

. Saya pernah bahkan kerap mengalami apa itu yang namanya bodoh, sebelum benar-benar bisa memintar-mintarkan diri. Eh, memang saya sudah pintar, apa? Belum juga, kalau di hadapan saya ada orang yang lebih pintar. Kepada mereka saya ingin belajar banyak.

. . Lalu sekarang sudah pintar,belum?

. . Itulah sedihnya. Saya rasanya belum mau beranjak lebih jauh dari situ kalau di belakang saya masih banyak orang bodoh. Biar saya masih bisa merasakan seperti apa orang dengan kebodohannya itu.

. . Eh, cerita ini mau dibawa ke mana, ya? Jadi ngawur begini. Inilah kebodohan saya dalam menulis, sewaktu-waktu bisa menguap. Haap, nah ketangkap inti ceritanya. Fokus dulu ah.

. . Begini, karena pernah bodoh, dan sekarang juga masih bodoh; saya orangnya suka simpatik kepada mereka yang telmi itu. Telah mikirlah, kalau belum tahu artinya. Nah, ini lagi satu kebodohan saya, tidak bisa ‘membaca’ orang lain kalau sudah tidak lagi setelmi saya. Lanjutkan membaca

RW 72). Sahabat Komunikasi Setiap Orang


. . .Pernahkah kita merasa kesulitan menjelaskan sesuatu pada seseorang, lalu orang lain sudah akan berkata: “Wah, seumur hidupku baru dia orang yang tidak sampai mengerti urusan sepele ini”. Tinggal kita tunggu saja dia akan menggerutu: “Wah, gobloknya minta ampun !”
. . .Pada satu ketika aku coba memahami kesulitan ini secara humanis. Kukira ada dua sisi cursor (status penerimaan) yang relatif bisa bergeser mencapai titik kompromi; dan sebuah komunikasi minimal berhasil.
. . .Andai kita seorang komunikator yang baik, human, dan punya pengetahuan yang cukup tentang sesuatu, betapa sanggup membuat seseorang se’goblok’ apa, bisa memahami sesuatu yang kita jelaskan. Artinya: kita dengan skala kemampuan memahamkan yang sangat baik mendekati cursor seseorang yang jauh kemampuan memahaminya. Lanjutkan membaca

RW 71). “Selagi Masih Ingin Bicara”



. . Saya tidak beda dengan kebanyakan orang, maunya suka ketemu teman diskusi yang cocok alias nyambung. Sayangnya kadang apes, ketika orang kebetulan yang diajak bicara tak memenuhi selera kita. Problem yang muncul: bagaimana mau berlalu dari dia tanpa membuatnya tersinggung. Karena di bagian ini sifat empati saya kembali ‘bermasalah’: bagaimana andai saya diperlakukan demikian, selagi masih ingin bicara, orangnya berlalu karena merasa kita tak memenuhi seleranya.

. . Seperti biasa saya coba belajar memahami situasi ini dengan baik. Pada saat saya ingin merasa cocok, itu berarti saya berharap ada kenyamanan di antara kami sesama penikmat wicara. Satu sama lain saling mengisi. Ada yang lebih, memberi; yang kurang, menerima; yang sama, saling berbagi menambahkan. Juga, selagi seseorang mau berekspresi dengan pikirannya, kita meresponnya. Sebaliknya kita dihargai ketika mau menunjukkan ‘talenta’ kita.
Lanjutkan membaca

RW 70. “Betapa Beda Cara Kami”



. . Mungkin kita sering mendengar adagium(?): “Di belakang seorang suami/bapak yang sukses, ada seorang istri/ibu yang baik”, demikian juga sebaliknya. Untuk kebalikannya, silakan teman saya Ibu Dosen buat pernyataannya. Misalnya, di belakang seorang ibu dosen yang cerdas tersedia bapak(dosen?) yang mengsuport kecerdasannya.

. . Kebetulan seorang bapak, saya lanjut dengan esay saya.

. . Dengan adagium di atas lalu muntahlah beberapa tema. Peranan ibu dalam menunjang karir seorang bapak, peranan seorang istri mendorong keberhasilan sang suami, peranan istri yang lain mendorong suaminya, istri-istri yang lain lagi dengan bla-bla-blanya.

. . Yang jadi pertanyaan, coba kalau di belakang bokong bapak/suami tadi, tidak tersedia wanita yang dimaksud. Seperti apa ya sukses seorang suami? Apakah dia tidak akan jadi apa-apa? Atau harus mencari ganti wanita lain yang tepat untuk posisi itu?
Lanjutkan membaca

RW 69: “Ada Apa dengan Belajar Kita di Sekolah?”


Apa hanya karena dan untuk si monster ini kita belajar (google gambar)

Apa hanya karena dan untuk si monster ini kita belajar (google gambar)


. . Idealnya belajar di sekolah karena mau nambah-nambah pengetahuan, dan bukan karena ulangan, smesteran, dan ujian(punya sekolah dan siUN). Tapi sayang begitulah fakta yang tergali. Keuletan belajar anak kenapa jadi berorientasi kepada usaha bagaimana bisa mengisi soal-soal dalam lembaran evaluasi tersebut?

. . Idealnya ada di sekolah menjadi kesempatan belajar yang menarik bagi anak. Di situ dia mendapatkan bimbingan pengetahuan dan pendidikan yang teratur, terprogram, termotivasi. Terdorong karena belajar dalam kebersamaan dengan teman-temannya. Ini pula menjawab keterbatasan belajar dan didikan yang didapat dari dalam keluarga, yang beragam dengan latar belakangnya. Karena tidak semua orang tua sadar dan mampu mengelola belajar dan didikan yang baik bagi anak-anaknya. Jadi sekolah menjadi alternatif yang bersifat kolektif dan terencana dalam mengisi kekurangan tersebut.

. . Idealnya karena itu, lalu kenapa siswa tidak menemukan kecintaan belajarnya di sekolah? Lanjutkan membaca

RW 68. “BELAJAR MEMAHAMI KESALAHAN SESAMA”



. . Selama ini kita lebih mudah mengasihani orang yang kurang dari segi materi, misalnya orang papa melarat; dari pada mereka yang kurang dari nilai moral, misalnya orang jahat. . yang suka kita tuding keparat. Mudah sekali kita tersentuh melihat orang yang cacat fisik, tapi tersentak kalau menampaki mereka yang cacat moral. Kita kasihan dengan orang yang tuna mental, tapi kesat dan kesal dengan mereka yang tidak bermoral.

. . Ya, selama ini kita mudah bersimpati kepada mereka yang kurang beruntung dari segi materi, cacat fisik dan tuna mental tadi; sementara suka antipati dengan mereka yang kurang dari segi moral.

. . Dengan mereka yang khifaf, salah, dan jahat kita langsung membenci, menghujat, kalau perlu menghajarnya. Tak sudi kita mengasihani mereka, memahami posisi mereka. Coba memaklumi dari mana dan ada di mana mereka dengan kesalahannya.
Lanjutkan membaca

RW 67). Perlu Kejujuran Memahami Masalah Bangsa Ini


. . Bangsa ini seperti tak putus dirundung malang. Kisruh persoalannya hampir tak pernah usai ditelan masa. Banyak sudah wacana dan konsep dilontarkan, dalam penerapannya seperti tak menemukan tempatnya berpijak. Selaksa doa dan harapan sudah pula kerap dipanjatkan, juga seperti tak makbul diluluskanNya.

. . Apa yang salah dengan bangsa ini? Masih kurangkah keperdulian dan kerja keras kita selama ini? Rasanya semua sudah kita kerahkan, tak sedikit yang sudah kita korbankan.

. . Tapi kalau semua itu belum membuahkan hasil bukankah itu pertanda ada yang masih kurang kita genapkan. Boleh jadi ada yang sama sekali kita tidak sertakan.
Lanjutkan membaca

RW 66: Sistem Moral Dan Kesadaran Dalam Evaluasi Belajar Siswa


. . Saya begitu acak memaknai sistem secara definitif. Tapi untuk sementara itu tak jadi masalah karena saya ingin menggambarkan apa yang saya maksud pada akhirnya.

. . Sistem moral dan kesadaran diperlukan untuk menunjang berjalannya evaluasi belajar siswa secara jujur. Kita tidak cuma butuh perangkat berupa mekanisme aturan, sifatnya yang transparan dan akuntabel, materi dan jenis soal seperti apa, pengawasan yang jujur, apa lagi? Yang juga tak kalah pentingnya bagaimana kita membuat kesadaran yang tersistem, dan itu merupakan bagian dari sistem ujian belajar siswa. Lanjutkan membaca

RW 65: “Heran, Puasa Kita Ternyata Berat Diongkos


. . Puasa seharusnya menjadi ajang kesempatan kita belajar mengendalikan hawa napsu. Melatih kita berempati kepada kaum dhuafa(fakir miskin ?) yang dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun terperangah dalam ketidakberdayaannya. Mereka yang sabar menahan diri dari lapar dan haus, menahan diri dari keinginan menyekolahkan anak di tengah biaya tak terjangkau, menahan angan dari memiliki kemewahan yang suka kita pamerkan.

. . Bulan puasa seharusnya kesempatan bagi kita merasakan nasib mereka. Sesaat menyurutkan kesenjangan kita dengan mereka. Mereka tidak makan, kita ikut lapar. Mereka haus, kita ikut menahan dahaganya. Bedanya kita hanya menahan lapar dan haus sampai tiba waktunya berbuka puasa. Tapi mereka kaum dhuafa menahan lapar dan hausnya dari hari ke hari, sampai tersedia setangkup rezeki dari ikhtiar diri banting tulang mengaisnya.
Lanjutkan membaca

64). “Ada Batas Samar Dari Sebuah Nasehat Yang Terlalu Idealis, Kita Perlu Memperjelasn


. . Membaca nasehat seseorang lewat tulisannya di pagi ini, saya yang yang tadinya mau rehat dari cuap2 menulis, terusik untuk memberikan pikiran banding. Dia mengurai curhat problem rumah tangga temannya sesama lelaki, sesama suami; yang memutuskan berpisah lalu memilih ibunya hanya gara-gara istrinya tidak terima dia suka memberikan uang secara diam-diam kepada ibunya. Hanya masalah kejujuran sepele memang, tapi tidak sesepele mengapa sikap jujur sampai tidak bisa dilakoni dengan cukup baik dalam sebuah rumah tangga.

. . Kejujuran membutuhkan kedewasaan menerima, jadi jujur saja tidak cukup. Dia membutuhkan landasan berpijak. Jujur kepada seseorang yang akhirnya bisa menerima dari sebelumnya alot, mungkin masih mending. Kita bisa bersabar menunggunya terkuak di bilik kamar yang sepi. Artinya persoalan ini tidak perlu sampai orang lain tahu, dan jadinya kita juga tidak tahu ada kasus seperti ini dan belajar menganggapnya ‘sepele’. Ini nasehat yang kedua, setelah “Jangan pernah tidak jujur”, yang ini: “Jangan pernah menceritakan masalah rumah tanggamu kepada orang lain”.

. . Ada batas yang samar kita masih bisa menerima nasehat seideal ini, kalau kita mencoba masuk lebih jauh ke dalam persoalannya. “Coba kamu kalau ada di tempat saya?”. Apakah mau tukaran pasangan sekalian tukar keruwetan persoalannya? Saya sarankan coba tukar semuanya, untuk bisa menakar permasalahannya. Bayangkan kita menghadapi persoalan yang sama dengan orang yang sama tapi dengan situasi dan kemampuan diri yang sama. Jadi tidak hanya kalau kita punya pasangan yang tidak bisa membuat kita jujur, kita sendiri sudah tergerus melakoni ketidakjujuran itu dengan cara dan sikap kita yang kian terdistorsi. Lanjutkan membaca

RW 63. UN Tahun Ini Berhasil, Berhasil Dikelabui Apa?


. . Sekilas tak ada masalah dengan UN nasional tahun ini. Banyak pihak merasa puas karena prosentase kelulusan mendekati 100 persen. Ini pertanda apa? Apakah selama ini yang jadi masalah hanya karena banyak siswa yang gagal? Lalu digagalkan sudah kegagalan itu dengan menggagalkan kejujurannya? Yang tahun kemarin tidak berhasil dipecundangi seratus persen.

. . Coba perhatikan seandainya dalam UN tersebut memang terjadi rekayasa. Tahun ini mulai diberikan kesempatan 40% penentuan kelulusan kepada pihak sekolah dengan mengambil nilai evaluasi raport smester 3 s/d 6. Bukankah ini sama dengan menambah porsi kesempatan selain 60% yang direkayasa dari nilai Ujian Nasional?

. . Bertambah lagi persiapan mengatrol nilai siswa jauh-jauh sebelumnya. Yang ini pengawasannya lebih tidak terkontrol. Lebih parah dari ujian utama saja yang tidak beres.

. . Dari lapak teman terbaca laporan kecurangan UN sampai-sampai orangtua siswa yang melaporkannya diusir rame-rame dari rumahnya oleh orang tua siswa lain. Motif laporan boleh jadi ada ketidakpuasan dari siswa pintar pelapor tersebut. Apa mungkin ada perasaan tidak adil karena ketidakjujuran UN menjadikan nilainya sama rata dengan siswa lain yang tidak berperingkat. Lanjutkan membaca

RW 62). Ada Apa dengan Pasangan Selingkuh Kita?



. . Berita perselingkuhan para suami di belakang bokong istrinya mulai pada terkuak dan menimbulkan heboh tersendiri. Ada Arnold Schwartzenegger yang selingkuh dari Maria Shriver setelah menjalani perkawinan selama 25 tahun. Juga ada Pangeran Charles berpaling dari Ladi Di yang muda dan cantik dan jatuh dalam pelukan Camilla Parker-Bowles. Terjadinya skandal seks mantan presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Dan begitu banyak lagi terbongkarnya perselingkuhan affair lelaki dalam kehidupan berumah tangga. Tapi sesungguhnya masih lebih banyak lagi affair sex yang bergelimang di bawah permukaan yang belum sempat terbongkar ke khalayak. Ini pertanda apa?
Lanjutkan membaca

RW 61. Dunia Serasa Milik Norman Bergoyang


“DUNIA SERASA MILIK NORMAN BERGOYANG”
(Rehat Sejenak Dari Kepekatan Berpikir Tentang Si UN)
. . Sekejap saja panggung selebritis negeri ini direngkuh Briptu Norman Kamaru, polisi brimob dari kota nyiur melambai Gorontalo. Pagi ini Panggung Dasyaat RCTI bergoyang histeris, menyuguhkan improvisasi goyang regge indianya polisi berusia 26 tahun itu.
. . All round, alias serba bisa. Nyanyi bisa, goyang ala Sharul Khannya yahuud, petik gitarnya mengundang decak, siulannya memukau, tutur kata dan tingkahnya bikin greget, pribadinya sederhana, tetap komit dengan tugas korps sekalipun ditawarkan dengan godaan uang dan dunia yang glamours. Apa lagi? Pokoknya sejuta pesona penggemar dadakan seolah amblas ke sosok tegap yang satu ini. Hampir tak menyisakan perhatian fans negeri ini menoleh ke arah lain.
Lanjutkan membaca