. . Puasa seharusnya menjadi ajang kesempatan kita belajar mengendalikan hawa napsu. Melatih kita berempati kepada kaum dhuafa(fakir miskin ?) yang dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun terperangah dalam ketidakberdayaannya. Mereka yang sabar menahan diri dari lapar dan haus, menahan diri dari keinginan menyekolahkan anak di tengah biaya tak terjangkau, menahan angan dari memiliki kemewahan yang suka kita pamerkan.
. . Bulan puasa seharusnya kesempatan bagi kita merasakan nasib mereka. Sesaat menyurutkan kesenjangan kita dengan mereka. Mereka tidak makan, kita ikut lapar. Mereka haus, kita ikut menahan dahaganya. Bedanya kita hanya menahan lapar dan haus sampai tiba waktunya berbuka puasa. Tapi mereka kaum dhuafa menahan lapar dan hausnya dari hari ke hari, sampai tersedia setangkup rezeki dari ikhtiar diri banting tulang mengaisnya.
. . Kadang berpuasa bagi sementara orang tidak lebih dari semacam menarik kencang anak panah dari busurnya. Di sekitar kita sudah tersedia penganan yang menunggu waktunya disantap. Dari sahur kita start mengisi perut kita sekenyang apa, begitu tiba buka semua hidangan di atas meja jadi ajang pelampiasan, bak anak panah tadi lepas dari busurnya.
. . Ada yang membuat saya heran. Ingin sekali mencari jawabnya. Seharusnya dengan bulan puasa kita bisa mengurangi jumlah kebutuhan kita, menghemat pengeluaran. Kalau memang berlebih baiknya kita sedekahkan dalam bentuk zakat. Tapi apa yang terjadi? Lihat saja harga-harga bahan pokok pada merangkak naik. Kebutuhan sandang dan pangan malah melonjak dari sebelumnya. Kemana lebih dari semua itu, padahal kita tengah mengendalikan diri, mengurangi konsumsi hawa napsu ragawi.
. . Ataukah yang terjadi puasa kita hanya sekedar menahan diri tidak mengkonsumsi semua yang lebih itu di siang hari, tapi begitu tiba berbuka? Bulan puasa menahan kita sebulan berpaling dari melakukan hal- hal yang mengurangi pahala; tapi selesai dari bulan Ramadhan itu?
. . Wallahu alam









Posted by SITI FATIMAH AHMAD on Agustus 26, 2011 at 9:32 am
Assalaamu’alaikum wr.wb mas Rahman Wahyu …
Alhamdulillah, kedatangan Syawal setelah berakhirnya Ramadhan sebentar lagi menjadi saksi kepada ibadah yang kita jalani. semoga keberkatan dan rahmat Allah akan mengiringi setiap langkah ke depan dalam kehidupan.
Hadir ini, untuk mengucapkan Minal aidin wal fa’izin buat sahabat yang selalu berbagi kebaikan di dunia maya. Maaf dipohon jika ada kesilapan sepanjang silaturahmi selama ini. Semoga diberi kesihatan dan kebahagiaan di hari yang mulia ini.
SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI
MAAF ZAHIR DAN BATHIN
Salam Ramadhan yang mulia dari Sarikei, Sarawak.
*** nanti saya hadir lagi untuk bicaranya. Mau jalan2 ucap selamat hari raya dulu
Posted by rahmanwahyu on Agustus 26, 2011 at 3:09 pm
Terima kasih telah berkenan hadir yang pertama di lapak saya gugur kewajiban ini.
O lupa, Waalaikum Salam Warrahmatulahi Wabbarakatuh.
Syukur kita bisa kembali dipertemukan dalam suasana lebaran nanti, untuk itu saya minta dimaafkan semua kesalahan saya yang telah lewat.
Selamat Hari Raya Mbak Siti beserta handai tolan dan kerabat tetangga di mana Mbak Siti berada.
Maaf lahir dan batin.
Saya awak negri Sulawesi – Indonesia. Salam serumpun Melayu.
Ditunggu kehadirannya setiap saat.
Posted by Akhmad Muhaimin Azzet on September 7, 2011 at 8:01 am
Sebuah renungan yang patut untuk menjadi perhatian kita bersama. Makasih banyak ya….
Ohya, mohon maaf atas segala salah dan khilaf saya selama ini ya, batin dan lahir; taqabalallahu minna wa minkum….
Posted by Daiichi on September 9, 2011 at 4:38 am
Yang biasanya makan seadanya jadi makan semaunya.. yang ga ada di ada adain.. hihihihi…..
Posted by SITI FATIMAH AHMAD on September 13, 2011 at 7:37 am
Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Rahman yang dihormati…
Jujurnya saya tersenyum membaca postingan di atas. Puasa kita ternyata berat diongkos. Sungguh bener mas. Saya mengakui hal ini berdasarkan pengalaman masa kanak-kanak di mana orang tua saya, kiranya punya wang banyak kerana mereka bekerja dengan pemerintah.
Setiap kali berbuka, makanan yang terhidang di meja bisa membuat orang miskin menggeleng2 kepala lantaran indahnya tatapan mata memerhati banyaknya makanan lazat yang dihidangkan. Menu airnya sahaja sudah 5 jenis. Pilih mana yang disukai. Setelah kekenyangan yang amat, rasa malas untuk melakukan ibadah mulai terasa, kantuknya tidak terperi. Ini adalah kisah yang telah menjadi pengajaran buat saya tika dewasa ini. Astaghfirullah.
Alhamdulillah, setelah memahami konsep yang terkandung dalam falsafah puasa, saya kian mengerti mengapa kita disuruh berpuasa dan merasai nikmat lapar dan dahaga. Saya siap melatih diri hanya memasak makanan mudah yang biasa di masak di bulan biasa dan tidak berlebih-lebih dalam berbuka kerana kenyang mengakibatkan ibadah kita jadi tidak nyaman dilakukan. Mudahan kita bisa mengasihani dan mengambil iktibar kemiskinan yang dihadapi oleh mereka yang kurang bernasib baik.
Pembaziran sebenarnya lebih banyak lagi berlaku pada menjelangnya Syawal sehingga sanggup mengorbankan fadhilat beribadah pada 10 akhir Ramadhan. Subhanallah, semoga kita selalu qanaah dengan segala nikmat Allah. Aamiin.
Salam mesra dan maaf telat dengan janji untuk segera kemari lagi.
Posted by Dokter Anak on Oktober 28, 2011 at 1:48 am
slam kenal…thanx