Perlu Kejujuran Memahami Masalah Bangsa Ini

. . Bangsa ini seperti tak putus dirundung malang. Kisruh persoalannya hampir tak pernah usai ditelan masa. Banyak sudah wacana dan konsep dilontarkan, dalam penerapannya seperti tak menemukan tempatnya berpijak. Selaksa doa dan harapan sudah pula kerap dipanjatkan, juga seperti tak makbul diluluskanNya.

. . Apa yang salah dengan bangsa ini? Masih kurangkah keperdulian dan kerja keras kita selama ini? Rasanya semua sudah kita kerahkan, tak sedikit yang sudah kita korbankan.

. . Tapi kalau semua itu belum membuahkan hasil bukankah itu pertanda ada yang masih kurang kita genapkan. Boleh jadi ada yang sama sekali kita tidak sertakan.
Continue reading

RW 66: Sistem Moral Dan Kesadaran Dalam Evaluasi Belajar Siswa

. . Saya begitu acak memaknai sistem secara definitif. Tapi untuk sementara itu tak jadi masalah karena saya ingin menggambarkan apa yang saya maksud pada akhirnya.

. . Sistem moral dan kesadaran diperlukan untuk menunjang berjalannya evaluasi belajar siswa secara jujur. Kita tidak cuma butuh perangkat berupa mekanisme aturan, sifatnya yang transparan dan akuntabel, materi dan jenis soal seperti apa, pengawasan yang jujur, apa lagi? Yang juga tak kalah pentingnya bagaimana kita membuat kesadaran yang tersistem, dan itu merupakan bagian dari sistem ujian belajar siswa. Continue reading

RW 65: “Heran, Puasa Kita Ternyata Berat Diongkos

. . Puasa seharusnya menjadi ajang kesempatan kita belajar mengendalikan hawa napsu. Melatih kita berempati kepada kaum dhuafa(fakir miskin ?) yang dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun terperangah dalam ketidakberdayaannya. Mereka yang sabar menahan diri dari lapar dan haus, menahan diri dari keinginan menyekolahkan anak di tengah biaya tak terjangkau, menahan angan dari memiliki kemewahan yang suka kita pamerkan.

. . Bulan puasa seharusnya kesempatan bagi kita merasakan nasib mereka. Sesaat menyurutkan kesenjangan kita dengan mereka. Mereka tidak makan, kita ikut lapar. Mereka haus, kita ikut menahan dahaganya. Bedanya kita hanya menahan lapar dan haus sampai tiba waktunya berbuka puasa. Tapi mereka kaum dhuafa menahan lapar dan hausnya dari hari ke hari, sampai tersedia setangkup rezeki dari ikhtiar diri banting tulang mengaisnya.
Continue reading

“Ada Batas Samar Dari Sebuah Nasehat Yang Terlalu Idealis, Kita Perlu Memperjelasn

. . Membaca nasehat seseorang lewat tulisannya di pagi ini, saya yang yang tadinya mau rehat dari cuap2 menulis, terusik untuk memberikan pikiran banding. Dia mengurai curhat problem rumah tangga temannya sesama lelaki, sesama suami; yang memutuskan berpisah lalu memilih ibunya hanya gara-gara istrinya tidak terima dia suka memberikan uang secara diam-diam kepada ibunya. Hanya masalah kejujuran sepele memang, tapi tidak sesepele mengapa sikap jujur sampai tidak bisa dilakoni dengan cukup baik dalam sebuah rumah tangga.

. . Kejujuran membutuhkan kedewasaan menerima, jadi jujur saja tidak cukup. Dia membutuhkan landasan berpijak. Jujur kepada seseorang yang akhirnya bisa menerima dari sebelumnya alot, mungkin masih mending. Kita bisa bersabar menunggunya terkuak di bilik kamar yang sepi. Artinya persoalan ini tidak perlu sampai orang lain tahu, dan jadinya kita juga tidak tahu ada kasus seperti ini dan belajar menganggapnya ‘sepele’. Ini nasehat yang kedua, setelah “Jangan pernah tidak jujur”, yang ini: “Jangan pernah menceritakan masalah rumah tanggamu kepada orang lain”.

. . Ada batas yang samar kita masih bisa menerima nasehat seideal ini, kalau kita mencoba masuk lebih jauh ke dalam persoalannya. “Coba kamu kalau ada di tempat saya?”. Apakah mau tukaran pasangan sekalian tukar keruwetan persoalannya? Saya sarankan coba tukar semuanya, untuk bisa menakar permasalahannya. Bayangkan kita menghadapi persoalan yang sama dengan orang yang sama tapi dengan situasi dan kemampuan diri yang sama. Jadi tidak hanya kalau kita punya pasangan yang tidak bisa membuat kita jujur, kita sendiri sudah tergerus melakoni ketidakjujuran itu dengan cara dan sikap kita yang kian terdistorsi.

. . Kita hidup dengan seseorang yang sudah jadi. Kalau anak, kita sendiri yang mencetak prosesnya dan memproses cetakannya. Jadi kita sudah pantas dimintai tanggung jawab jadi seperti apa mereka. Sedangkan pasangan kita hasil dari cetakan otoritas orang lain nota bene orangtuanya. Merubah pribadi yang sudah jadi tidak segampang nasehat membalikkan telapak tangan. Itu kenapa kita dinasehati untuk memilih pasangan yang baik agar bisa membaikkan kita. Lha kalau yang baik-baik sudah habis kita pilih, yang tidak baik disisakan untuk siapa, coba?

. . Artinya ada pribadi rumit yang tersisa untuk mereka yang sulit menerima kekurangannya. Kalaupun pribadi yang sulit itu masih bisa kita pikir bagaimana mengelolanya dari luar, kemampuan mereka yang menghadapinya masih di bawah atau sulit mengatasinya. Sesulit orang yang coba diajak damai dengan cara yang jujur, yang terjadi malah perang melulu kalau kita bicara apa adanya. Atau maunya kita yang harus jujur kalau ngasih ke siapa-siapa, diam-diam murahan banget dia ngasih apa-apa kepada siapa tanpa sepengetahuan kita. Ah, apa ada kejujuran tidak simetris ala gini? Yah, namanya saja pribadi yang sulit, kita sulit menerima kalau mengalaminya, menasehati ke orang lain gampang. Kita suka menuntut orang lain jujur, jujurnya kita yang mana? Suka selingkuh dari pasangan kita tapi tidak mau kita diselingkuhinya.

. . Jadi kalau kita bersedia memahami kesulitan seseorang, cobalah ‘menyulitkan diri’ dalam kesulitan dia, dalam posisi dia. “Maka akan banyak yang bisa kita mengerti dan pahami tentang mereka, tentang kesalahan/kesulitan mereka. Karena kenyataan tidak pernah salah.”

RW 63. UN Tahun Ini Berhasil, Berhasil Dikelabui Apa?

. . Sekilas tak ada masalah dengan UN nasional tahun ini. Banyak pihak merasa puas karena prosentase kelulusan mendekati 100 persen. Ini pertanda apa? Apakah selama ini yang jadi masalah hanya karena banyak siswa yang gagal? Lalu digagalkan sudah kegagalan itu dengan menggagalkan kejujurannya? Yang tahun kemarin tidak berhasil dipecundangi seratus persen.

. . Coba perhatikan seandainya dalam UN tersebut memang terjadi rekayasa. Tahun ini mulai diberikan kesempatan 40% penentuan kelulusan kepada pihak sekolah dengan mengambil nilai evaluasi raport smester 3 s/d 6. Bukankah ini sama dengan menambah porsi kesempatan selain 60% yang direkayasa dari nilai Ujian Nasional?

. . Bertambah lagi persiapan mengatrol nilai siswa jauh-jauh sebelumnya. Yang ini pengawasannya lebih tidak terkontrol. Lebih parah dari ujian utama saja yang tidak beres.

. . Dari lapak teman terbaca laporan kecurangan UN sampai-sampai orangtua siswa yang melaporkannya diusir rame-rame dari rumahnya oleh orang tua siswa lain. Motif laporan boleh jadi ada ketidakpuasan dari siswa pintar pelapor tersebut. Apa mungkin ada perasaan tidak adil karena ketidakjujuran UN menjadikan nilainya sama rata dengan siswa lain yang tidak berperingkat.

. . Lebih lanjut disarankan perlu dibentuk Tim Pencari fakta oleh PGRI untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Tuntas sampai dengan membuka fakta betapa kecurangan sudah masif dan massal karena melibatkan kebijakan pihak dinas terkait dan pemda setempat. Ada instruksi untuk membantu siswa peserta UN agar prosentase ketidaklulusan bisa diperkecil mendekati o %.

. . Saya membayangkan penyelidikan ini perlu diberikan garansi agar pencarian fakta bisa menemukan tempatnya berpijak. Yakni dengan menentukan target, bila ketidakjujuran itu sudah mencapai sekian persen, dengan motif alasan yang pantas dimaklumi maka taruhannya UN harus dihapus. Dengan dasar ini, saya yakin informasi kecurangan akan melimpah ruah lebih dari yang dibutuhkan. Bahkan bisa dipastikan banyak pihak terkait antara lain: siswa, guru, kepsek, orang tua bahkan pengawas ujian akan bersedia berjibaku menyatakan dirinya sebagai pelaku kecurangan tersebut.

. . Lagi-lagi untuk kasus ini satu teori perlu saya ulangi lagi: mereka orang yang salah pada waktu yang salah.

Ada Apa dengan Pasangan Selingkuh Kita?


. . Berita perselingkuhan para suami di belakang bokong istrinya mulai pada terkuak dan menimbulkan heboh tersendiri. Ada Arnold Schwartzenegger yang selingkuh dari Maria Shriver setelah menjalani perkawinan selama 25 tahun. Juga ada Pangeran Charles berpaling dari Ladi Di yang muda dan cantik dan jatuh dalam pelukan Camilla Parker-Bowles. Terjadinya skandal seks mantan presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinski. Dan begitu banyak lagi terbongkarnya perselingkuhan affair lelaki dalam kehidupan berumah tangga. Tapi sesungguhnya masih lebih banyak lagi affair sex yang bergelimang di bawah permukaan yang belum sempat terbongkar ke khalayak. Ini pertanda apa?
Continue reading

RW 61. Dunia Serasa Milik Norman Bergoyang

“DUNIA SERASA MILIK NORMAN BERGOYANG”
(Rehat Sejenak Dari Kepekatan Berpikir Tentang Si UN)
. . Sekejap saja panggung selebritis negeri ini direngkuh Briptu Norman Kamaru, polisi brimob dari kota nyiur melambai Gorontalo. Pagi ini Panggung Dasyaat RCTI bergoyang histeris, menyuguhkan improvisasi goyang regge indianya polisi berusia 26 tahun itu.
. . All round, alias serba bisa. Nyanyi bisa, goyang ala Sharul Khannya yahuud, petik gitarnya mengundang decak, siulannya memukau, tutur kata dan tingkahnya bikin greget, pribadinya sederhana, tetap komit dengan tugas korps sekalipun ditawarkan dengan godaan uang dan dunia yang glamours. Apa lagi? Pokoknya sejuta pesona penggemar dadakan seolah amblas ke sosok tegap yang satu ini. Hampir tak menyisakan perhatian fans negeri ini menoleh ke arah lain.
Continue reading

JANGAN MEMAKSA KERETA ITU BERHENTI HANYA UNTUK MENUNGGU ADA ANAK KITA YANG TERLAMBAT

Masih ada kereta yang akan lewat, untuk anak kita belajar tidak terlambat

Masih ada kereta yang akan lewat, untuk anak kita belajar tidak terlambat(google gambar)


. . Saya sering prihatin kala menyikapi ada cara yang berbeda dalam mendidik anak soal kemandirian. Sesungguhnya suatu kesempatan besar bagi kita membentuk mereka selagi masih tergantung pada peran kita sebagai orang tuanya. Kita perlu mengurai simpul ketergantungan itu dan melepasnya pelan-pelan: “Pergilah nak, pergi ke alam bebas!” Jadi ingat selarik bait sajak itu, oleh penyair siapa ya?
Continue reading

Ternyata Bumi Hanya Selebar Daun Kelor

Keperdulian kita harusnya tidak selebar daun ini(google gambar)

Keperdulian kita harusnya tidak selebar daun ini


Ini cuma kiasan ketika keprihatinan melanda kita kala menyimak situasi yang terjadi di belahan bumi lain. Libya yang sedang bergolak, tsunami yang terjadi di Jepang, bahaya radiasi nuklir yang tak tercegahkan, antara lain itu semua membuat kita khawatir, mengganggu kenyamanan hidup kita yang ada jauh di sini. Semuanya terasa dekat tidak saja karena bias dan imbasnya bisa sampai ke kita, tapi membayangkan semua itu andai atau bisa terjadi di tempat kita. Continue reading

RW 58. Blog Ini Untuk Sementara Dikapling, Lahannya Mau Saya Bajak Dulu.

Hahaha, ada apa dengan saya, lapak sendiri mau dibajak. Dibajak boleh diartikan mau digemburkan untuk dipakai bercocok tanam, boleh juga maknanya disandera, untuk keperluan sendiri.
Terus apa tidak mau menerima tamu yang datang? Silahkan, tak ada yang larang. Lagian tamu yang mau datang cuma satu dua, sayang dah campur nyesal kalau ditolak.
Perkenankan saya mau coba satu hal. Ini juga timbul dari pikiran bingung. Mau dikemanakan seabreg ide dan konsep yang muncul di kepala, tapi tidak tersalurkan hanya oleh karena beberapa hal. Harus bagus seperti apa, ditujukan untuk siapa, disajikan bagaimana, bermanfaat apa tidak?
Continue reading

RW 57. PADA SUATU KETIKA HARUS BERPISAH


(Sesaat Mengheningkan Kenangan Kepergian Bunda)
. . Untuk yang kedua kali kami harus ikhlas menerima kehilangan. Sepuluh tahun lalu Papa, kini Bunda pergi untuk selamanya.
. . Sebelum benar-benar pergi, mungkin tak percaya akan ada yang hilang, berlalu, dan takkan kembali dari hidup kami.
Kalau sakit menunggu sembuh, pesiar dan kelak pulang, tinggalkan ‘ntuk kembali dijenguk, atau berjanji lalu ditunaikan. . . ,
Continue reading

RW 56. Ketika Kita Berbuat Baik Hanya Melakoni Secuil Dari Sifat-SifatNya.

google gambar


. . Tadi malam saya hadir di Majelis Taqlim.
. . Di situ oleh penceramah diuraikan tentang haji mabrur. Lalu fokus pada apa itu mabrur? Dari asal kata apa, saya lupa disebutkan, ingat artinya saja yakni kebaikan yang hakiki. Intinya kita harus yakin kebaikan itu datangnya dari dan karena Allah.
. . Tiba pada acara tanya jawab, saya yang terakhir dua kali datang diselingi sekali tidak hadir, kali ini lagi-lagi merasa tidak ada yang perlu ditanyakan. Atau saya pikir kesempatan itu digunakan saja oleh yang lain. Padahal saya paling menyukai kesempatan ini untuk mengeluarkan uneg-uneg.
Continue reading

RW 55. Tidak Harus Pintar Sendirian

google gambar
(Kita Perlu Mencerdaskan Sistem)
. . . . Kadang aku diminta sikecil Dea bantu mengerjakan PR sekolahnya. Kuajak dia bisa menyelesaikan tugas pelajaran itu dengan benar, mandiri, dan proporsional.
. . . . Caranya?

. . . . Dengan telaten kuberikan contoh lain dari soal yang didapat, lalu dia harus mengerjakan sendiri soal PRnya. Sebelum itu kucari tahu sejauhmana, dan dengan cara bagaimana soal PR itu diberikan pengertiannya oleh guru pelajaran tersebut. Kusimak dengan seksama sebuah soal apakah menyentuh kebutuhan belajarnya, seperti apa tingkat kesulitannya, dan sejauhmana relevansinya dengan realitas hidup di luar.
Continue reading

RW 54. Humor: ” Masa Bodoh”

Tiba giliran orang yang pernah dikenalnya itu, sang dukun sudah kecewa untuk melayani. Orang itu pernah tidak membayar ketika dia minta ditenungi barangnya yang hilang dulu. Sekarang apa maunya?
“Mbah, tolong dilihat Handphone saya yang jatuh ketika saya berjalan-jalan kemarin!”
“Boleh, syaratnya kau hanya perlu meludahi tempat di mana barang itu jatuh!”
Continue reading

RW 53. Ada Apa Dengan Pendidikan Sekolahan Kita

(Diskusi Panjang Saya Dengan Kang Guru Teguh Sasmito)

Ujian Nasional telah di ambang pintu. Evaluasi sentralistik ini banyak memunculkan reaksi pro dan kontra di kalangan pemerhati pendidikan.
Bagi saya yang kebetulan kurang setuju dengan sistem ini sangat menyayangkan kalau orientasi belajar siswa di sekolah menjadi semata wayang demi menjawab ulangan dan ujian.
Evaluasi menurut hemat saya diperlukan untuk mengetahui sudah sejauhmana materi ajar tidak saja telah mencapai target yang diharapkan, tetapi juga menyentuh relung-relung kebutuhan belajar siswa.
Karena belajar tidak harus dilihat sebagai bahan yang sekedar dipakai mengisi eksistensi siswa di sekolah, tetapi dengan belajar siswa jadi terhubung ke dunia luar; relevan dengan kenyataan yang ada, juga dapat dirasakan manfaatnya ke depan, dari sini dan saat ini.
Continue reading

RW 52. “Kita Tidak selamanya Punya Uang, Tapi Kita Selamanya Akan Punya Uang”

Punya uang nih yee? (google gambar)
. . Dalam menghadapi dialektika hidup dengan persoalannya terkadang saya suka menemukan asumsi-asumsi yang bisa menjadi pola pikir ke depan. Entah ‘teori’nya sudah pernah ada, masih perlu dikoreksi, bermanfaat tidak, realis atau semata angan, terserah! Saya atau siapa saja boleh membuktikannya. Seperti sembohyan yang satu ini:
. . “Kita Tidak Selamanya Punya Uang, sekaya apa pun kita; Tapi Kita Selamanya Akan Punya Uang, semelarat apa pun kita”
. . Tidak percaya?
Continue reading

RW 51. “Wahai Hasrat ‘Ntuk Menulis, Datanglah Mendekat !”


. . . Pebruari sudah tanggal 24. Tinggal empat hari tenggat waktu di bulan yang cuma 28 hari ini saya harus mengejar setoran postingan. Resah kayak mau jatuh tempo tunggakan saja. Padahal seumur-umur belum pernah rasakan minjam alias kredit di bank. Ah, lagi-lagi saya menulis ini sekedar gugur setoran apa, hahaha. Apa enaknya, ya?
. . . Tunggu dulu, apa karena tidak punya ide atau konsep yang mau ditulis? Rasanya tidak. Bahkan sangat banyak. Apa karena tidak suka atau kurang mood, atau jangan karena tidak punya waktu? Ini juga rasanya bukan alasan. Sekarang, atau sudah seminggu ini saya jadi blingsatan alias semangat menulis komentar di beberapa blog teman baru. Ada satu dua sudah menjadi teman akrab, suka berbalas pantun alias diskusi berkepanjangan.
Continue reading

RW 50. “SAYA TETAP ADA DI BULAN INI”

Wah, mau habis bulan ini, hampir terlewatkan tanpa satu postinganpun. Ah, saya harus berhai-hai sebentar untuk menyatakan bahwa saya tetap cinta dan masih kerap singgah menengok blog perdana kecintaan ini.
Itu dulu, semoga ke depan saya temukan kecintaan saya yang lebih baik untuk menunggui blog ini. Tentunya dengan tulisan-tulisan yang mampu menyemarakkannya kembali.
Amin

RW 49. “Berikan Mereka Kesempatan Bermain”

Berikan mereka kesempatan

. . . Kalau kemarin saya mensyukuri Rei ada di Pesantren selagi melihat anak-anak teman sebayanya nakal, ugal tak karu-karuan, sekarang ini malah terbalik sedih, membayangkan dia tidak bisa bermain lepas layaknya anak-anak seusia dia. Itu ketika melihat tayangan TV 7 acara si Bolang. Ada sekumpulan anak-anak yang cerah ceria bermain sambil belajar di alam terbuka. Tawa lepas, sikap lepas, bermain serta belajar lepas mengiringi keseharian mereka.
. . . Mereka menapaki dan meniti jalan di pematang kehidupan kekanakannya sambil sesekali tercebur dan jatuh terjerembab didorong kenakalan teman-temannya. Itulah rona kehidupan di mana anak tuntas merampungkan tugas dari masa perkembangan hidupnya. Sedih rasanya membayangkan semua itu tidak benar benar lagi dinikmati oleh Rey anak saya.

Continue reading

RW 48. “BIAR CUMA SEBUAH CORETAN”

November mau lewat. Satu tulisan pun belum sempat tergores. Sayang kalau sebulan tanpa coretan apa-apa. Jadi cari saja bahan yang terlintas di kepala dan jadilkan itu sebuah postingan bulan ini. Siipp, bukan?
Kemarin itu saya terhenjak prihatin. Ada kejadian mengenaskan di kota kami. Ditemukan seonggok daging mayat polisi korban mutilasi di sebuah jalan depan emperan pertokoan.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.